bernasnews – Khutbah Jumat 12 Juni 2026 bertepatan dengan 26 Dzulhijjah 1447 Hijriah, beberapa hari sebelum datangnya 1 Muharram 1448 H yang jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.
Tema khutbah kali ini mengajak umat Islam mempersiapkan diri menyambut tahun baru Hijriah dengan memperbanyak amal saleh, menjaga ketakwaan, serta memahami keutamaan bulan Muharram yang termasuk salah satu bulan mulia di sisi Allah SWT.
Berdasarkan kalender Hijriah yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama, bulan Dzulhijjah merupakan bulan ke-12 dalam kalender Islam. Berakhirnya bulan tersebut menandai dimulainya tahun baru 1448 Hijriah yang diawali dengan datangnya bulan Muharram.
Muharram Menjadi Salah Satu Bulan yang Dimuliakan Allah SWT
Muharram tidak hanya dikenal sebagai pembuka tahun Hijriah, tetapi juga termasuk dalam Asyhurul Hurum atau empat bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Pada bulan ini, pahala dari amal kebaikan dilipatgandakan, sementara perbuatan dosa mendapat peringatan yang lebih berat.
Dalam khutbah Jumat 12 Juni 2026 dijelaskan bahwa Allah SWT telah menetapkan jumlah bulan sebanyak dua belas, dan empat di antaranya merupakan bulan haram atau bulan yang dimuliakan.
Firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 36 berbunyi:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam agar menjaga diri dari berbagai perbuatan yang dilarang dan meningkatkan kualitas ibadah ketika memasuki bulan Muharram.
Akhir Dzulhijjah Menjadi Momentum Memperkuat Ketakwaan
Dalam khutbah pertama, jamaah diajak untuk bersyukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT, mulai dari nikmat iman, Islam, hingga kesehatan sehingga masih dapat menjalankan ibadah.
Khatib juga mengingatkan bahwa ketakwaan merupakan bekal terbaik yang akan dibawa setiap manusia ketika menghadap Allah SWT. Karena itu, penghujung bulan Dzulhijjah menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi diri sekaligus mempersiapkan amalan yang lebih baik di tahun baru Hijriah.
Disebutkan pula bahwa Muharram merupakan bulan yang sangat istimewa sehingga umat Islam dianjurkan untuk memanfaatkannya dengan berbagai amal saleh.
Bulan Muharram Menjadi Waktu Diterimanya Taubat Hamba
Salah satu keutamaan Muharram yang disampaikan dalam teks khutbah Jumat 12 Juni 2026 adalah adanya hari ketika Allah SWT menerima taubat hamba-Nya.
Hal tersebut berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah:
«إِنْ كُنْتَ صَائِمًا شَهْرًا بَعْدَ رَمَضَانَ، فَصُمِ الْمُحَرَّمَ فَإِنَّهُ شَهْرُ اللَّهِ، وَفِيهِ يَوْمٌ تَابَ فِيهِ قَوْمٌ، وَيُتَابُ فِيهِ عَلَى آخَرِينَ»
Artinya:
“Jika kamu berpuasa satu bulan setelah Ramadhan, maka berpuasalah di bulan Muharram karena itu adalah bulan Allah. Di dalamnya terdapat satu hari di mana suatu kaum bertaubat, dan akan ada kaum lainnya yang bertaubat pada hari itu.” [HR. Ibnu Syaibah]
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Muharram menjadi salah satu waktu terbaik bagi umat Islam untuk memperbanyak istighfar, memperbaiki diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Puasa Muharram dan Puasa Asyura Memiliki Keutamaan Besar
Selain menjadi bulan yang penuh kemuliaan, Muharram juga dianjurkan untuk diisi dengan ibadah puasa sunnah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa puasa terbaik setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Muharram.
Secara khusus, terdapat puasa Asyura yang dikerjakan pada 10 Muharram. Keutamaannya dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Qatadah RA:
عَنْ أَبي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. رواه مسلم
Artinya:
“Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra: sungguh Rasulullah SAW bersabda pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau menjawab: ‘Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat’.” (HR Muslim)
Selain puasa Asyura, Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan puasa Tasu’a pada 9 Muharram sebagai bentuk pembeda dengan tradisi yang dilakukan kaum Yahudi.
Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan Amal Kebaikan
Menjelang datangnya 1 Muharram 1448 H, khutbah Jumat akhir Dzulhijjah mengajak umat Islam untuk menjaga kehormatan bulan-bulan mulia dan meningkatkan kepatuhan terhadap perintah Allah SWT serta sunnah Rasulullah SAW.
Pergantian tahun Hijriah tidak hanya menjadi penanda perubahan kalender, tetapi juga momentum untuk melakukan muhasabah, memperbanyak ibadah, serta memulai lembaran baru dengan semangat ketakwaan yang lebih kuat.
Dengan demikian, akhir Dzulhijjah dan datangnya Muharram dapat menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk meningkatkan kualitas kehidupan spiritual sekaligus memperbanyak amal yang membawa keberkahan. (anp)












