bernasnews – Menjelang liburan sekolah dan fenomena alam yang terjadi di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, BPBD Sleman melaporkan kondisi siaga darurat erupsi Gunung Merapi serta menangani fenomena munculnya api misterius di wilayah Sayegan yang telah terjadi sebanyak 91 kali. Hal tersebut diungkapkan oleh Bambang Kuntoro, A.P., M.Si kepada media di ruang rapat kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Kamis (4/6/2026).
Bambamg Kuntoro selaku Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sleman mengungkapkan bahwa, Status Merapi saat ini berada pada level Siaga (Level 3) dan berlaku hingga 31 Juli dan untuk rekomendasi zona bahaya untuk wilayah Barat Daya 70 meter, Selatan 50 meter, dan Timur 50 meter.
Aktivitas vulkanik terpantau tinggi dengan 120 kali guguran pada malam sebelumnya dan 20 kali guguran antara pukul 00.00 hingga 06.00 pagi.
“Akan diberlakukan SK siaga darurat cuaca ekstrem hingga 31 Juli karena curah hujan yang masih tinggi, juga diterbitkan SK siaga daerah kekeringan mulai Juli untuk mengantisipasi musim kemarau akibat fenomena El Nino” Ujar Bambang.
Sementara itu, Fenomena Api Misterius di Sayegan dengan munculnya api di titik-titik secara acak di rumah warga Kasuran, Margomulyo, Sayegan sejak Jumat (23/5/2026), total kejadian mencapai 91 kali (83 kali kemarin, 5 kali pagi ini, dan 3 kali semalam).
“Untuk Penanganan melibatkan kolaborasi BPBD, Basarnas, BPPTKG, BRIN, TNI, Polri, serta pakar dari UGM dan UPN. Para ahli sedang meneliti apakah fenomena ini disebabkan oleh gas metana, gas udruken, atau gas rawa”, tutur Bambang.
” Untuk sementara korban terpaksa tidur di rumah sebelah atau di rumput selama 13 hari dan tidak bisa bekerja”, lanjut Bambang.
Atas kejadian itu dukungan yang diberikan berupa bantuan anggaran dari BPBD, bantuan sosial, serta pendampingan psikologis dari Puskesmas.
“Hasil kajian dari para pakar yang akan berlangsung hari ini Kamis (4/6/2026) di kantor Kapanewon Seyegan, akan menjadi dasar bagi BPBD untuk menentukan status darurat khusus serta keputusan terkait pengosongan atau pengungsian warga”, pungkas Bambang.
(Nun)












