bernasnews – Aula sekolah yang biasanya untuk kegiatan pendidikan berkaitan dengan jasmani seperti olah raga, berlatih menari atau pun drumband. Namun bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026, aula sekolah tersebut disulap menjadi sebuah pasar lengkap dengan sejumlah kedai dan para pedagang cilik berseragam celmek/ apron merah.
Sontak aula sekolah tersebut menjadi pusat perhatian warga kampung sekitar sekolahan. Pasalnya dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, siswa siswi TK Negeri 3 Yogyakarta menggelar “Market Day”, bertempat di aula sekolah, Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Yogyakarta, pada Rabu pagi (20/5/2026).
Kegiatan yang diberi tema “Dengan Market Day kita tingkatkan kecintaan dan kebanggaan terhadap makanan tradisonal DIY” tersebut, terbagi dalam 5 segmen, yaitu Kelas Bima mengelola Kedai Bantul; Kelas Nakula mengelola Kedai Kulon Progo; Kelas Arjuna mengelola Kedai Gunungkidul.
Selanjutnya kelas Sadewa mengelola Kedai Kota Yogyakarta, serta khusus Kedai Sleman yang mengelola adalah para guru dan karyawan TK Negeri 3 Yogyakarta. Kedai-kedai tersebut menjual makanan tradisional sesuai dengan kekhasan daerah masing-masing.
Kepala Sekolah TK Negeri 3 Yogyakarta, Sri Susilowati, S.Pd. AUD mengemukakan, bahwa penyelenggaraan Market Day dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Menurutnya, tujuan dari kegiatan ini untuk mengenalkan dunia usaha (jual beli/ berdagang) sejak usia dini.
“Juga melatih jiwa wirausaha pada anak dan melatih komunikasi atau berinteraksi anak dengan orang lain. Selain itu, untuk mengenalkan makanan tradisional yang ada DIY pada anak sejak dini serta mengurangi dampak pengaruh makanan-makanan kekinian dari luar (junkfood) yang semakin masif,” tegas Susilowati.
Ia juga mengungkapkan, bahwa penyelenggaraan Market Day ini termasuk dalam kurikulum di ko kurikuler yakni tentang budaya daerah, pengenalan literasi dan numerasi. Kegiatan ini akan menjadi program agenda tahunan TK Negeri 3 Yogyakarta.
“Kami berharap dengan Market Day ini dapat meningkatkan kecintaan dan kebanggaan terhadap makanan tradisional yang menjadi kekayaan kuliner DIY,” jelas Susilowati kepada bernasnews, di sela-sela kegiatan.
Sementara itu, ibu Surya pengunjung Market Day mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh TK Negeri 3 Yogyakarta, sebagai media pendidikan yang bagus bagi anak-anak usia dini untuk menumbuhkan semangat berdikari dan jiwa berusaha.
“Dulu ada permainan anak yang disebut pasaran, hanya saja yang dijual berupa dedaunan atau bunga dan roti-rotinan yang dibuat dari tanah. Sedangkan uangnya berupa kereweng pecahan genting,” ungkap Ibu Surya kepada bernasnews, usai belanja di Market Day.
Menurut ibu bercucu satu ini, pasaran berbeda dengan Market Day yang semua transaksinya bersifat nyata, baik dari barang yang dijual maupun uang yang dipergunakannya. Di sini anak benar-benar diajarkan tentang tanggungjawab, kejujuran, dan kedisiplinan.
Makanan tradisional yang dijual di Market Day pun beragam. Kedai Sleman ada jadah tempe, ampyang, salak pondoh, krasikan, belut goreng. Kedai Bantul, geplak, karangan, adrem, mi pentil dan mi lethek, peyek tumpuk. Kulon Progo, geblek, besengek benguk, lanting, growol, gronthol.
Sedangkan Kedai Gunungkidul antara lain, thiwul, gatot, pathelo, manggleng, sego berkat. Kedai Yogyakarta, ada nasi gudeg, bakpia, jatah manten, yangko, dan kipo. Semua makanan yang dijual dibandrol dengan harga yang ramah di dompet dan terjangkau untuk pengunjung. (ted)












