bernasnews – Pertemuan perempuan penulis dengan editor dalam program kurasi naskah yang digelar Sastra Bulan Purnama (SBP) di Balai Bahasa Provinsi DIY, Kotabaru Yogyakarta, Senin (11/5/2026), berlangsung singkat namun intens. Kegiatan tersebut merupakan sesi kedua dari tiga agenda kurasi yang disiapkan SBP sebagai upaya meningkatkan kualitas karya sastra perempuan penulis yang tergabung dalam komunitas Perempuan Purnama SBP.
Koordinator SBP Ons Untoro mengatakan, kegiatan kurasi menjadi bagian penting dalam proses kreatif penulisan sastra. Melalui proses tersebut, kemampuan penulis diasah agar karya yang dihasilkan tidak hanya kreatif, tetapi juga matang dari sisi bahasa dan penyampaian.
“Penulis membutuhkan ruang untuk melahirkan gagasan, sementara editor membantu mempertajam bahasa, struktur, dan logika cerita. Dari proses itulah karya sastra berkembang,” katanya.
Dalam kegiatan itu, SBP menghadirkan dua editor yakni Herry Mardianto dan Latief Noor Rochmans. Sedikitnya 20 perempuan penulis mengikuti sesi tersebut. Mereka berasal dari latar pengalaman yang beragam, mulai dari penulis yang telah aktif mempublikasikan karya hingga penulis pemula yang baru mulai menulis.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan teknis yang diajukan peserta, mulai dari penggunaan paragraf, pemilihan diksi, penulisan bionarasi, hingga penentuan judul cerita.
Herry Mardianto mengingatkan peserta agar tidak berlebihan menggunakan repetisi dalam cerita dan tetap menjaga konsistensi sudut pandang. Menurutnya, konflik dalam cerpen sebaiknya dibangun melalui pengalaman tokoh, bukan semata melalui penjelasan pengarang. “Bahasa harus membuat pembaca percaya pada cerita yang dibacanya,” katanya.
Sementara itu, Latief Noor Rochmans menekankan pentingnya memilih judul secara tepat karena judul menjadi pintu pertama yang menentukan ketertarikan pembaca terhadap sebuah karya.
Di tengah mulai berkurangnya tradisi membaca naskah bersama, kegiatan kurasi seperti ini dinilai memberi ruang pembelajaran sekaligus memperkuat budaya literasi komunitas. Sebagai tindak lanjut, SBP juga berencana mengadakan kuliah singkat etnografi bagi perempuan penulis. Program tersebut diharapkan dapat membantu peserta mengembangkan ide cerita yang tidak hanya lahir dari imajinasi, tetapi juga dari pengamatan terhadap kehidupan sosial di sekitar mereka.
Melalui kegiatan ini, SBP berharap lahir karya-karya sastra yang lebih matang melalui proses pembacaan, diskusi, dan penyuntingan sebelum sampai kepada pembaca. (mar/Atiek Mariati, Wartawan MALIGU)












