bernasnews – Grand Hotel de Djokja menghadirkan pengalaman baru bagi pecinta cocktail melalui konsep gin bar yang mengangkat budaya dan sejarah Yogyakarta. Mengusung tema heritage dan legacy, gin bar ini menjadi bagian dari upaya hotel untuk menghidupkan kembali nilai historis bangunan yang telah berdiri sejak 1911.
Restoran Manager Grand Hotel de Djokja, Shinta, mengatakan bahwa konsep tersebut lahir dari identitas hotel yang memiliki keterikatan erat dengan sejarah kolonial Belanda dan budaya lokal Jogja.
“Kalau di Grand Hotel de Jogja itu memang salah satu moto dan visi misinya adalah heritage dan legacy. Karena Grand Hotel de Jogja itu sudah 1911, sudah lama banget. Jadi yang mau kita naikkan itu budaya Jogja sendiri,” ujar Shinta.
Menurutnya, pemilihan gin sebagai identitas utama bar bukan tanpa alasan. Gin diketahui pertama kali berkembang di Belanda, sementara Grand Hotel de Djokja memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial.
“Kenapa kita memilih gin? Karena gin itu dulunya ditemukan di Belanda, yang mana punya keterkaitan dengan Grand Hotel de Jogja karena dibangun oleh Belanda pada 1911,” katanya.
Saat ini, gin bar tersebut telah memiliki sekitar 80 signature gin yang diracik secara khusus. Jumlah itu masih akan terus bertambah hingga mencapai target 100 varian.
“Sebenarnya target kami ada 100 signature gin. Tetapi karena kami dikejar waktu untuk pembukaan, sementara ini kami sudah punya 80 jenis gin sendiri,” ungkap Shinta.
Filosofi Jawa Jadi Inspirasi Signature Cocktail
Tidak hanya menghadirkan minuman premium, gin bar di Grand Hotel de Djokja juga mengusung filosofi Jawa “Sangkan Paraning Dumadi” sebagai inspirasi utama dalam meracik signature cocktail.
Filosofi tersebut diterjemahkan menjadi tiga fase kehidupan manusia yang diwujudkan melalui karakter rasa berbeda di setiap cocktail.
Shinta menjelaskan, fase pertama menggambarkan masa kelahiran dan masa muda yang identik dengan rasa manis serta minim beban hidup.
“Di fase pertama atau becoming, kita ingin mengangkat rasa manis. Karena saat anak-anak dan remaja kita belum punya banyak beban hidup, jadi rasanya dibuat lebih manis,” jelasnya.
Memasuki fase kedua, cocktail dibuat dengan karakter rasa lebih kuat dan pahit sebagai simbol perjuangan hidup.
“Fase kedua itu fase kehidupan yang berat, fase berjuang. Jadi rasanya lebih pahit dan lebih strong untuk menggambarkan kehidupan,” katanya.
Sementara fase terakhir menggambarkan kondisi manusia yang mulai ikhlas dan tenang saat mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
“Fase terakhir itu lebih ke ikhlas, lebih ringan, tidak ada beban. Dari filosofi itu akhirnya muncul cocktail seperti Saved by Grace yang rasanya lebih light dan refresh,” tutur Shinta.
Terinspirasi Sejarah Hotel dan Budaya Belanda
Konsep heritage juga terasa kuat dari keseluruhan atmosfer gin bar. General Manager Grand Hotel de Djokja, Andreas Kahl, menyebut gin sebenarnya sudah menjadi bagian dari tradisi sosial hotel-hotel klasik sejak awal abad ke-20.
“Hotel ini memiliki sejarah sejak 1911. Menariknya, gin sudah menjadi salah satu minuman klasik yang dinikmati di hotel-hotel besar dan social lounge pada masa itu,” ujar Andreas.
Ia mengatakan, pihak hotel ingin membawa kembali tradisi tersebut dalam nuansa modern khas Jogja yang dipadukan dengan karakter lokal dan budaya cocktail kontemporer.
“Malam ini kami membawa kembali tradisi tersebut ke dalam pengalaman modern Jogja yang terinspirasi dari karakter lokal dan budaya cocktail masa kini,” katanya.

Bakpia hingga Kopi Tubruk Jadi Pengalaman Unik di Gin Bar
Salah satu menu unik yang dihadirkan adalah cocktail dengan inspirasi bakpia khas Yogyakarta. Shinta menyebut elemen kacang hijau tetap dipertahankan agar karakter bakpia tetap terasa meski disajikan dalam bentuk cocktail.
“Kita pakai krim dan kacang hijau, lalu ditopping dengan gin. Jadi rasa bakpianya tetap terasa,” jelasnya.
Selain cocktail berbasis gin, pengunjung juga dapat menikmati pengalaman penyajian kopi tubruk langsung di depan meja. Beragam kopi dari Papua, Bali, hingga Bandung turut disediakan.
“Kopi tubruknya nanti benar-benar disajikan di depan tamu. Kita nubruk langsung di depan tamu,” ujar Shinta.
Tidak Hanya Alkohol, Tersedia Sajian Non-Alkohol dan Mocktail
Meski mengusung konsep speciality gin bar, Grand Hotel de Djokja tetap menghadirkan berbagai pilihan non-alkohol bagi pengunjung yang tidak mengonsumsi minuman beralkohol.
Salah satunya adalah mocktail bernama Golden Hour yang terinspirasi dari suasana matahari terbit yang dapat dinikmati langsung dari bangunan hotel.
“Kita tetap punya pilihan non-alkohol. Ada mocktail seperti Golden Hour yang terinspirasi dari matahari terbit,” kata Shinta.
Selain mocktail, tersedia pula pilihan teh dan berbagai racikan kopi sehingga gin bar tersebut tetap dapat dinikmati seluruh kalangan pengunjung.
Dengan perpaduan sejarah, budaya Jawa, hingga eksplorasi rasa modern, gin bar Grand Hotel de Djokja menghadirkan pengalaman berbeda yang tidak sekadar menawarkan minuman, tetapi juga cerita dan filosofi di balik setiap sajian.












