bernasnews – Tahun 2026 menjadi momentum istimewa bagi penulis karena memasuki 50 tahun berkarya sebagai wartawan. Rasanya, waktu setengah abad itu berjalan cepat. Pada tahun yang sama, tepatnya tanggal 14 Mei, bernasnews genap berusia 7 tahun. Di media online inilah penulis kini berkarya bersama beberapa teman lama saat di media cetak.
Sejenak menengok ke belakang, penulis mengawali belajar jurnalistik di Majalah LOBIN Paroki Bintaran Yogyakarta dan Majalah FREE SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Setelah lulus dari sekolah menengah atas itu pada tahun 1976, penulis memulai berkarya di Harian “Berita Nasional” yang berkantor di Jalan Brigjen Katamso 15 Yogyakarta.
Saat mengawali profesi dengan ikut seleksi masuk kerja sebagai wartawan. Pada waktu itu, peserta seleksi sebanyak 50 orang. Mereka berasal dari berbagai strata pendidikan, lembaga pendidikan dan asal daerah. Ada yang lulusan SMA dan sarjana. Ada yang dari Yogyakarta dan luar kota.
Serangkaian test pun dilaksanakan, test tertulis, test lisan, praktek lapangan, dan test kesehatan. Akhirnya tiga orang dinyatakan lulus seleksi dan diterima sebagai reporter koran daerah ini. Penulis termasuk yang diterima bersama dua teman lainnya.
Penulis menjalani proses belajar dan berkarya sepenuhnya sebagai reporter di lapangan selama lima tahun pertama. Berbagai bidang tugas dijalani dengan suka cita, kadang jatuh bangun, berhasil dan gagal. Dari sekian banyak bidang tugas yang diberikan atasan, penulis merasa suka dan cocok tugas di seksi pendidikan-kebudayaan, pariwisata dan pemerintahan.
Suatu ketika, penulis mengikuti lomba kepenulisan bidang pariwisata yakni peringatan Satu Dasawarsa Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, bulan April 1980. Penulis belum pernah melihat TMII dan untuk membuat tulisan penulis harus berkunjung ke sana dengan biaya sendiri.
Setelah memperoleh bahan cukup, penulis yang waktu itu mengampu rubrik pariwisata di koran kami, lalu membuat laporan dua seri untuk lomba itu. Bersyukur, penulis menjadi juara II tingkat nasional dan memperoleh penghargaan yang diserahkan oleh Ibu Tien Soeharto dan Presiden Soeharto.
Beberapa waktu kemudian penulis mengikuti lomba kepenulisan tingkat nasional dan memperoleh kesempatan menang. Beberapa lomba itu adalah bidang riset dan teknologi dari kantor Kementerian Ristek, bidang kehutanan dari Kementerian Kehutanan, bidang jasa raharja dari Jasa Raharja Pusat, dan lain-lain.
Setelah menang lomba menulis tingkat nasional itu, rasanya karier penulis di redaksi naik cepat. Mulai dari reporter, penanggung jawab rubrik (Jabrik), asisten redaktur, redaktur, wakil redaktur pelaksana, redaktur pelaksana, sampai redaktur senior. Dari 40 tahun masa pengabdian di koran media cetak – penulis mengalami pergantian nama lembaga dan perpindahan kantor – praktis hanya lima tahun pertama tugas di lapangan dan selebihnya tugas di redaksi. Memang sesekali masih tugas lapangan, namun tidak seintens lima tahun pertama.
Tentang pergantian nama media kami itu maksudnya adalah dimulai dari Harian “Berita Nasional” (1969-1990), Harian “BERNAS” (1990-2004), dan Harian “Bernas Jogja” (2004-2018). Sebelumnya media ini bernama Harian “Nasional” (1946-1960-an), Harian “Suluh Indonesia” (1960-an), Harian “Suluh Marhen (1966-1969).
Pada tahun 2016 penulis memutuskan berhenti dari Harian “Bernas Jogja”, setelah 40 tahun berkarya. Sesudah itu melanjutkan berkarya di Majalah “Candra”, Majalah “Gembira” dan Tabloid “BIAS” milik Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY (sejak tahun 1995 – 2020). Kemudian menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah “Literasi Guru” sejak tahun 2019 hingga kini.
Selanjutnya mulai tahun 2022 hingga kini penulis menjadi Pemimpin Redaksi bernasnews. Media online ini telah “menemukan” penulis untuk tetap berkarya di jajaran media BERNAS. Sebuah pengalaman proses belajar dan berkarya, serta pergumulan hidup, yang cukup panjang dan patut disyukuri.
Pada tahun 1981 penulis berstatus sebagai Anggota Biasa Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan kartu persnya sudah berlaku seumur hidup. Penulis juga berstatus sebagai Wartawan Utama di Dewan Pers sejak tahun 2011. Di bidang literasi, memperoleh Penghargaan Nugra Jasa Darma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI tahun 2025. Penulis juga anggota perkumpulan penulis Indonesia SATUPENA.
Ilmu jurnalistik/literasi, pengalaman dan kemampuan yang terbatas dari penulis tidak dimanfaatkan sendiri namun dibagikan kepada banyak orang dari berbagai kalangan dan wilayah di tanah air. Edukasi ilmu jurnalistik dan literasi diberikan melalui pengajaran di sekolah, kampus, ceramah daring/luring, dan pendampingan kompetensi.
Segala karunia yang penulis terima selama ini semata-mata adalah berkat dari Tuhan Yang Maha Pengasih. Penulis hanyalah alat yang dibimbingNya untuk tekun belajar dan setia di jalur pena ini. Penulis berterima kasih kepada para senior wartawan, pendidik, pegiat literasi, dan rekan sekantor atas ilmu dan kebersamaannya. Tentu saja terima kasih pula kepada keluarga tercinta.
SURAT DARI ASDI YUDIONO
Secara khusus, penulis juga berterima kasih kepada sahabat dalam kebersamaan karya di bidang literasi kesehatan yakni Pemimpin Klinik INTAN Yogyakarta dr. Asdi Yudiono. Dia memberi kado tulisan bertajuk “Literasi Menjadi Jembatan Persahabatan”.
Lima puluh tahun atau setengah abad, bukanlah waktu yang singkat. Seorang sahabat, Y.B. Margantoro atau Pak YB namanya yang lebih populer di dunia jurnalistik, telah mencapai estimasi waktu emas dalam berkarya. Sudah sewajarmya pembaca tulisannya dari beraneka kalangan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas pencapaian pengabdian di dunia jurnalistik.
Lima dekade dedikasi bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata dari komitmen, integritas, dan konsistensi Pak YB dalam mengemban amanah sebagai penjaga informasi publik. Dalam rentang waktu tersebut, menunjukkan keteladanan sebagai seorang jurnalis senior yang tidak hanya tajam dalam menyampaikan fakta, tetapi juga bijak dalam merangkai makna di balik setiap peristiwa.
Perjalanan panjang Pak YB juga ditandai dengan kedekatan yang hangat bersama berbagai kalangan, khususnya para pendidik dan tenaga medis. Hubungan yang terjalin erat dengan para guru dan dokter, yang mencerminkan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan dan kesehatan—dua pilar utama dalam membangun peradaban yang maju.
Sebagai sosok panutan, Pak YB telah memberikan kontribusi yang sangat berharga, tidak hanya melalui karya jurnalistik, tetapi juga melalui keteladanan di keluarga dalam sikap, etika, dan motivasi yang menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Demikian dokter Asdi Yudiono. (Y.B. Margantoro, Wartawan bernasnews dan Pegiat Literasi)












