News  

BNNP DIY Kedepankan Kearifan Lokal untuk Perangi Narkoba, Yogyakarta Siapkan Gerakan Bersama Menuju Daerah Bersinar

Pertemuan Kepala BNNP DIY dangan Gubernur DIY/Foto: Pemda DIY

bernasnews– Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) DIY kini mengedepankan pendekatan edukatif berbasis budaya dan kearifan lokal sebagai strategi utama dalam mencegah penyalahgunaan serta memberantas peredaran gelap narkotika di tengah masyarakat.

BNNP DIY ingin membangun gerakan kolektif yang menyentuh akar budaya masyarakat Yogyakarta, melibatkan keluarga, sekolah, perguruan tinggi, aparat keamanan, hingga komunitas desa demi menciptakan lingkungan yang benar-benar bersih dari narkoba.

Komitmen tersebut disampaikan langsung Kepala BNNP DIY, Faried Zulkarnain, usai pertemuan bersama Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (13/05/2026).

Dalam pertemuan itu, Faried hadir bersama jajaran BNNP DIY, di antaranya Kepala Bagian BNNP DIY David Henry Andar Hutapea, Kepala Bidang Pemberantasan BNNP DIY Kombes Pol. Trisaksono Puspo Aji, serta Ketua Tim Jabatan Fungsional Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP DIY Bambang Wiryanto.

Faried menegaskan, arahan Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi landasan penting dalam menyusun strategi pemberantasan narkoba yang lebih dekat dengan karakter masyarakat Yogyakarta.

“Kita sudah dapat arahan dari Ngarso Dalem tentang bagaimana karakteristik masyarakat Yogyakarta, sehingga kita akan mengedepankan kearifan lokal dan budaya Yogyakarta dalam memberikan edukasi tentang bahaya narkoba. Ini akan kita sesuaikan, tentunya dengan mengedepankan kearifan lokal yang ada di Yogyakarta,” ujar Faried.

Pendekatan BNNP DIY

BNNP DIY melihat pendekatan budaya sebagai cara paling efektif untuk membangun kesadaran masyarakat. Selama ini, kampanye bahaya narkoba sering kali bersifat formal dan kaku sehingga sulit menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.

Kini, pendekatan itu mulai berubah. Nilai-nilai budaya Yogyakarta seperti gotong royong, unggah-ungguh, kepedulian sosial, serta penguatan ikatan keluarga akan menjadi bagian penting dalam strategi edukasi anti narkoba.

Pendekatan berbasis budaya mampu menyentuh sisi emosional masyarakat. Dengan demikian, pesan bahaya narkoba tidak hanya dipahami sebagai larangan hukum, tetapi juga sebagai ancaman nyata terhadap masa depan generasi muda dan nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Faried menilai, karakter masyarakat DIY yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan menjadi modal besar dalam membangun gerakan pencegahan narkoba yang berkelanjutan.

Pertemuan antara BNNP DIY dan Pemerintah Daerah DIY juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat program P4GN atau Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika.

Melalui sinergi lintas sektor, pemerintah berharap seluruh elemen mampu bergerak bersama menghadapi ancaman narkoba yang terus berkembang.

“Sehingga dengan adanya sinergi bersama Pemda DIY maupun instansi terkait, untuk sama-sama bagaimana menciptakan, mewujudkan Yogyakarta ini bersinar, Yogyakarta yang bersih dari narkoba,” jelas Faried.

Istilah Yogyakarta Bersinar bukan sekadar slogan. Pemerintah ingin menjadikannya sebagai gerakan sosial yang melibatkan masyarakat secara langsung, mulai dari lingkungan keluarga hingga ruang pendidikan.

Kolaborasi tersebut penting karena penyalahgunaan narkoba tidak lagi mengenal batas usia maupun latar belakang sosial. Ancaman narkoba kini dapat masuk melalui lingkungan pendidikan, pergaulan, hingga media digital.

Kampus dan Sekolah Jadi Garda Terdepan Pencegahan

BNNP DIY juga menaruh perhatian besar terhadap lingkungan pendidikan. Ke depan, lembaga ini akan memperkuat kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di DIY untuk mencegah peredaran narkoba di kalangan mahasiswa.

Langkah ini menjadi penting mengingat Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dengan ribuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Kondisi tersebut membuat DIY memiliki dinamika sosial yang sangat tinggi dan berpotensi menjadi sasaran jaringan peredaran narkoba.

Melalui kerja sama dengan kampus, BNNP DIY ingin membangun sistem deteksi dini, edukasi rutin, serta penguatan karakter generasi muda agar mampu menolak penyalahgunaan narkotika.

Tidak hanya perguruan tinggi, sekolah-sekolah juga diharapkan aktif membangun pengawasan serta pendidikan karakter bagi siswa sejak usia dini.

Benteng Pertahanan Pertama

Dalam upaya memperluas pengawasan hingga tingkat akar rumput, BNNP DIY telah membentuk tim fasilitator di tingkat desa. Tim ini melibatkan pemerintah kelurahan, Bhabinkamtibmas, Babinsa, hingga elemen masyarakat setempat.

Keberadaan tim tersebut mampu menjadi benteng pertama dalam mendeteksi sekaligus mencegah penyalahgunaan narkoba di lingkungan masyarakat.

Faried mengakui, memberantas narkoba sepenuhnya bukan pekerjaan mudah. Namun, ia optimistis langkah-langkah pencegahan secara konsisten dapat menekan angka penyalahgunaan narkoba di DIY.

“Kita upayakan dapat mengurangi, mudah-mudahan ini bisa kita capai. Memang cukup sulit untuk menghilangkan, tetapi setidak-tidaknya kita dapat mengurangi penyalahgunaan narkoba,” katanya.

Pendekatan berbasis komunitas lebih efektif karena masyarakat menjadi bagian langsung dalam pengawasan lingkungan masing-masing. Dengan keterlibatan warga, potensi peredaran narkoba dapat lebih cepat terdeteksi sebelum meluas.

Perang Melawan Narkoba Butuh Peran Semua Pihak

Faried menegaskan, perang terhadap narkoba tidak dapat hanya dibebankan kepada BNN maupun kepolisian. Seluruh lapisan masyarakat harus ikut mengambil peran aktif untuk melindungi generasi muda dari ancaman narkotika.

Peran orang tua dan guru menjadi sangat penting di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks. Pengawasan terhadap aktivitas anak-anak, lingkungan pergaulan, hingga penggunaan media digital menjadi langkah awal untuk mencegah penyalahgunaan narkoba.

“Harapan kami tentunya masyarakat juga ikut berpartisipasi, termasuk orang tua dan guru-guru dalam pengawasan anak-anak sekarang ini. Tidak hanya di kepolisian maupun di BNN saja, tetapi seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.

Ajakan tersebut menjadi pengingat bahwa perang melawan narkoba bukan hanya tugas aparat penegak hukum, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan tantangan sosial, Yogyakarta kini mencoba menghadirkan pendekatan yang lebih manusiawi dan membumi. Dengan mengangkat budaya sebagai kekuatan utama, DIY berharap mampu menjaga generasi mudanya tetap sehat, produktif, dan jauh dari bahaya narkoba. (ef linangkung)