Nggayuh Lintang: Riset Ungkap Realitas Anak Putus Sekolah di Gunungkidul

Tim PKM-RSH Mahasiswa UNY. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Fenomena anak putus sekolah di wilayah perdesaan masih menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan. Berangkat dari kegelisahan tersebut, lima mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menghadirkan riset sosial-humaniora.

Riset bertajuk “Nggayuh Lintang: Studi Fenomenologi Anak Putus Sekolah Berbasis Modal Sosial Budaya dalam Masyarakat Rentan di Daerah Tertinggal DIY” ini melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH).

Tim PKM-RSH Mahasiswa UNY ini diketuai oleh Narulitha Budiarti dengan anggota Intan Andhini Dwi Cahyani, Elvyra Nanda Rianni, Nur Annisa, serta Nisaul Ainur Rohmah.

Penelitian mereka berfokus pada pengalaman anak-anak putus sekolah di Kabupaten Gunungkidul, khususnya di Kecamatan Playen yang masih menghadapi persoalan rendahnya partisipasi pendidikan.

Ketua Tim, Narulitha Budiarti, menjelaskan, bahwa istilah “nggayuh lintang” dalam budaya Jawa memiliki makna “meraih bintang” atau menggapai cita-cita setinggi mungkin.

Filosofi ini menjadi simbol perjuangan anak-anak di daerah marginal yang harus menghadapi keterbatasan ekonomi, sosial, hingga geografis demi memperoleh pendidikan yang layak.

“Selama ini isu putus sekolah sering hanya dilihat dari faktor ekonomi. Padahal ada persoalan budaya, lingkungan sosial, dan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan yang juga sangat berpengaruh,” ujarnya, Jumat (8/5/2026).

Data dalam proposal riset menunjukkan, bahwa Angka Partisipasi Sekolah usia 16–18 tahun di Gunungkidul masih berada di bawah target nasional. Kondisi tersebut diperparah oleh faktor keterbatasan akses pendidikan, rendahnya kesadaran pendidikan, budaya kerja anak sejak dini, hingga pernikahan usia muda.

Melalui pendekatan fenomenologi, tim mahasiswa UNY akan menggali pengalaman subjektif anak-anak yang putus sekolah, termasuk bagaimana keluarga, lingkungan sosial, dan budaya lokal membentuk keputusan mereka untuk berhenti sekolah. Penelitian juga melibatkan orang tua, guru, dan masyarakat sebagai informan utama.

Anggota tim, Intan Andhini Dwi Cahyani, menambahkan, bahwa penelitian ini tidak hanya bertujuan memotret persoalan, tetapi juga mencari solusi berbasis budaya lokal dan modal sosial masyarakat.

“Kami ingin melihat apakah sebenarnya budaya lokal dapat menjadi kekuatan untuk menjaga anak tetap sekolah, bukan justru memperbesar risiko putus sekolah,” ujar Intan.

Selain menghasilkan laporan penelitian dan artikel ilmiah, tim juga menyiapkan media sosial edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendidikan bagi anak-anak di daerah rentan. (*/ ted)