News  

Buku “Cerita dari Yogya” Diluncurkan, Penulis Satupena DIY Punya Idealisme

Pengurus dan anggota Satupena DIY pada acara peluncuran buku “Cerita dari Yogya” di rumah literasi Ke Selatan, Jalan Langenarjan Lor Nomor 8 , Panembahan, Yogyakarta, Selasa 5/5/2026. (Foto : Istimewa).

bernasnews – Buku kumpulan cerpen “Cerita dari Yogya” diluncurkan dalam suatu acara yang semarak dan penuh kehangatan di rumah literasi Ke Selatan, Jalan Langenarjan Lor Nomor 8, Panembahan, Yogyakarta, Selasa (5/5/2026). Koordinator Satupena Pulau Jawa Dhenok Kristiani mengapresiasi atas terbitnya buku ini dan mengatakan bahwa penulis Satupena DIY memiliki kemampuan dan idealisme.

Ketua Satupena DIY Sutirman Eka Ardhana yang sekaligus editor buku mengucapkan terima kasih atas kebersamaan anggota komunitas dalam penerbitan kumpulan cerpen yang merupakan karya kedua Satupena DIY setelah buku antologi puisi.

Pada kesempatan ini, secara simbolis Eka Ardhana menyerahkan buku kepada pengelola rumah literasi Ke Selatan Wenry. Dipandu MC Ana Ratri dan dilanjutkan Sabatina KW, sebanyak tujuh orang dari 20 penulis dalam buku setebal 216 halaman terbitan Haksoro Pustaka dan Satupena DIY ini tampil membacakan sebagian karya mereka. Ketujuh penulis itu adalah Syamsu Setiaji, Oka Swastika Mahendra, Y.B. Margantoro, Warisman, Ami Supatupang, Rina Nikandaru, dan Anastasia.

Pemerhati Satra Simon HT dalam diskusi yang dipandu Kamerad Kanjeng, mengajak kepada para penulis di Yogyakarta khususnya anggota Satupena DIY untuk memberikan sumbangan pemikiran konstruktif melalui karya tulis mereka. Dia mengusulkan, untuk menggairahkan dinamika komunitas dalam karya, sebaiknya penerbitan buku dilakukan tiga bulan sekali.

“Membaca cerpen-cerpen dalam buku ‘Cerita dari Yogya’ ini bagai berenang dalam kolam yang berisi berbagai gaya penulisan, topik, sudut pandang, keresahan, dan keyakinan para penulisnya. Dari yang masih tergolong muda hingga yang telah hampir setengah abad bermukim dan berproses di kota Yogya,” kata dia.

Simon HT mengemukan, setelah selesai membaca cerpen-cerpen ini kita mungkin dapat menjawab pertanyaan apakah sastrawan “dibentuk” oleh lingkungan atau mewarnai wajah lingkungannya, Atau, perpaduan dari keduanya, sebuah interaksi yang dinamis dari manusia dengan lingkungan hidup yang bagai gerak bandul, kadang ke sana dan lain waktu ke situ.

Dua puluh cerpen yang termuat dalam buku “Cerita dari Yogya” ini adalah Pada Suatu Hari (karya Anastasia), Bulan di Malam Lebaran (Sutirman Eka Ardhana), Cerita Indah yang Tertinggal (Nunung Rieta), Pejalan Sunyi (Ardini Pangastuti Bn), Rumah Sementara Karjo (Y.B. Margantoro), Cinta Orangtua (Warisman), Kopi Pagi (Affan Safani Adham), Perjalanan Pulang Setetes Air (Atiek Mariati), Merdeka si Gelundung Pringis (Dhenok Kristianti), Bunga untuk Tiara (Ana Ratri).

Kemudian Fragmen (Syamsu Setiaji), Beranda Kusam (Iranda Yudhatama), Matahari Kembar (Erwito Wibowo), Perempuan Berambut Pendek (Arief Susilo Y), Pasar (Oka Swastika Mahendra), Keris Pusaka Sutan Rajo Ameh Nan Hitam (Kamerad Kanjeng), Salah Kirim (Sabatina KW), Kejora di Pangkuan Senja (Rina Nikandaru), Oh…Yuni (Saryanto Hadi ) dan Sang Putri Sejati (Ami Simatupang). (mar)