bernasnews – Wacana penggunaan compressed natural gas (CNG) sebagai pengganti liquefied petroleum gas (LPG) atau elpiji 3 kilogram (kg) mulai menjadi perhatian publik setelah pemerintah menguji coba penggunaan tabung CNG untuk kebutuhan rumah tangga.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang selama ini masih sangat tinggi. Meski dinilai memiliki potensi besar, sejumlah pihak menilai implementasi CNG belum siap diterapkan secara luas untuk rumah tangga dalam waktu dekat.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebut pemanfaatan CNG memang berpotensi membantu menekan impor LPG sekaligus mengurangi emisi. Namun, penerapannya dinilai lebih realistis jika dilakukan secara bertahap dan menyasar sektor tertentu terlebih dahulu.
Dalam unggahan akun Twitter resminya pada Minggu (3/5/2026), IESR menjelaskan bahwa penggunaan CNG lebih cocok diterapkan untuk pelanggan dengan kebutuhan energi besar.
“CNG bisa kurangi impor LPG dan emisi. CNG bagus sebagai substitusi LPG untuk pelanggan komersial, dapur besar, UMKM kuliner, hotel/restoran, dan kawasan yang pasokannya dekat dengan infrastruktur gas,” demikian tulis IESR.
CNG Dinilai Lebih Siap untuk Sektor Komersial
Menurut IESR, sektor komersial seperti hotel, restoran, UMKM kuliner, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) dianggap lebih siap menggunakan CNG karena kebutuhan energinya tinggi. Kondisi tersebut membuat investasi infrastruktur seperti tabung bertekanan tinggi, skid, hingga pressure reducing system (PRS) menjadi lebih ekonomis.
Sebaliknya, penggunaan CNG untuk rumah tangga masih menghadapi sejumlah tantangan teknis dan distribusi. Karakteristik konsumsi energi rumah tangga yang berbeda dengan sektor komersial membuat implementasinya belum bisa dilakukan secara masif dalam waktu singkat.
IESR menegaskan bahwa kebutuhan energi rumah tangga sangat besar sehingga penggantian langsung LPG 3 kg dengan CNG memerlukan kesiapan infrastruktur yang matang.
Pemerintah Mulai Uji Coba Tabung CNG Pengganti LPG 3 Kg
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa penggunaan CNG sebagai pengganti LPG 3 kg saat ini sedang dalam tahap uji coba.
Pemerintah tengah menguji penggunaan tabung CNG ukuran 3 kg sebelum nantinya dipasarkan kepada masyarakat. Sebelumnya, pemanfaatan CNG telah diterapkan pada tabung berukuran 12 kg dan 20 kg.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menekan impor LPG yang terus meningkat setiap tahun. Selain itu, pengembangan CNG juga sejalan dengan program diversifikasi energi nasional agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu jenis bahan bakar tertentu.
Ketergantungan Impor LPG Masih Tinggi
Dorongan penggunaan CNG tidak lepas dari tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Kementerian ESDM mencatat konsumsi elpiji nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun.
Namun, produksi LPG dalam negeri hanya berkisar 1,6 juta hingga 1,7 juta ton per tahun. Artinya, sebagian besar kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor dari luar negeri.
Secara global, LPG merupakan produk turunan industri minyak dan gas yang terdiri dari campuran hidrokarbon, terutama propana dan butana. LPG dihasilkan dari dua sumber utama, yakni pengolahan gas alam dan proses penyulingan minyak mentah.
Berdasarkan data World Liquid Gas, sekitar 60 persen produksi LPG dunia berasal dari pemrosesan gas alam, sedangkan 40 persen lainnya merupakan produk samping dari kilang minyak.
Dalam proses produksi gas alam, kandungan natural gas liquids (NGL) seperti propana dan butana dipisahkan dan kemudian diolah menjadi LPG sebelum dipasarkan.
Sementara itu, LPG dari kilang minyak dihasilkan melalui berbagai tahapan seperti distilasi, reforming, hingga cracking, dengan porsi sekitar 1 hingga 4 persen dari total minyak mentah yang diproses.
Perbedaan CNG dan LPG untuk Kebutuhan Rumah Tangga
Perbedaan utama antara CNG dan LPG terletak pada bentuk penyimpanan, kandungan gas, hingga karakteristik penggunaannya.
CNG merupakan gas alam yang dikompresi hingga tekanan tinggi sekitar 200 sampai 250 bar. Gas ini sebagian besar terdiri dari metana dan disimpan dalam tabung bertekanan tinggi.
Sementara LPG disimpan dalam bentuk cair dengan tekanan yang lebih rendah. Dari sisi keamanan, CNG memiliki karakteristik lebih ringan dari udara sehingga lebih cepat menyebar apabila terjadi kebocoran.
Sebaliknya, LPG yang lebih berat dari udara cenderung mengendap di area rendah ketika terjadi kebocoran. Namun, LPG memiliki nilai kalor lebih tinggi per satuan massa sehingga selama ini dianggap lebih efisien untuk kebutuhan memasak rumah tangga.
LPG juga dinilai lebih mudah didistribusikan karena dapat disalurkan melalui berbagai moda seperti pipa, kapal, hingga truk tangki sebelum akhirnya dijual dalam bentuk tabung kepada masyarakat.
Infrastruktur Distribusi Jadi Tantangan Utama
Pengembangan CNG sebagai substitusi LPG sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur distribusi gas nasional. PT PGN melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia, menjadi salah satu pihak yang aktif mengembangkan ekosistem CNG di Indonesia.
Saat ini, penggunaan CNG telah diterapkan di sejumlah hotel, restoran, serta dapur program MBG. Pemerintah pun mulai menyiapkan langkah perluasan penggunaan ke sektor rumah tangga secara bertahap.
Meski demikian, pengembangan infrastruktur distribusi, penyediaan tabung bertekanan tinggi, hingga sistem pengamanan masih menjadi pekerjaan besar sebelum CNG benar-benar dapat menggantikan LPG 3 kg secara luas di masyarakat. (anp)












