News  

Syawalan RT 11 AKI : Pengalaman Generasi Baby Boomers dari Lebaran ke Lebaran

Ibu-ibu warga RT 11 Perumahan Ambarketawang Indah, Gamping, Sleman, DIY yang turut acara Syawalan bersama, Minggu 12/4/2026. (Foto : Wahyu Witono).

bernasnews – Tanpa terasa, umur para penghuni awal Perumahan Ambarketawang Indah (AKI) Kalurahan Ambarkewatang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah di atas 60 tahun, bahkan ada yang sudah di atas 70 tahun. Regenerasi terus terjadi secara alamiah, beberapa penghuni generasi pertama sudah digantikan oleh generasi kedua.

Dalam momen syawalan tahun 2026, mari kita renungkan kembali perubahan-perubahan yang tanpa terasa telah mewarnai Lebaran kita dari waktu ke waktu. Esensi Lebaran sebagai budaya Indonesia adalah saling memaafkan antaranggota keluarga inti, sanak saudara, keluarga yang diperluas sampai trah, tetangga terdekat sampai lingkup ketetanggaan semacam RT.

Tanpa terasa, organisasi warisan Jepang (RT = Tonarigumi) ini menyatukan kita dari Lebaran ke Lebaran. Apa yang saya sampaikan dalam syawalan bukan uraian syawalan, karena saya yakin Bapak/Ibu dan Saudara sudah mendapatkannya dari beberapa event syawalan yang telah dihadiri sampai hari ini.

Kita akan membicarakan perubahan moda saling memaafkan dari era klasik tradisional ke era digital saat ini. Era sungkeman, ngabekten, ujung, atau di tempat lain dikenal dengan balalan, yang dulunya dilakukan sebagai ritual yang mengharuskan orang yang lebih muda sowan kepada yang lebih sepuh untuk sungkem, mohon maaf, dan juga mohon doa restu.

Di bagian akhir nanti saya akan sampai pada pembicaraan tentang bermaaf-maafan dalam era digital dan beberapa masalah yang dihadapi generasi baru dalam menghadapi dunia digital.

DARI TAHUN KE TAHUN

Di kampung halaman saya, ritual sungkeman, ngabekten, ujung, ini masih sangat kental hingga era 1980-an. Di masyarakat desa yang sangat menjunjung tinggi hierarki, mereka yang muda harus aktif sowan kepada para sepuh.

Modifikasi cara mohon maaf dilakukan oleh orang-orang muda. Mereka bergerak bergerombol bersama rombongan. Satu orang matur ke yang sepuh untuk mewakili, mohon maaf, yang lainnya menunggu dan akhirnya ikut salaman saja tanpa ngomong. Era ini juga ditandai dengan makin banyaknya generasi muda yang tidak dapat berbahasa Jawa halus dengan lancar, sehingga semakin menguatkan praktik ujung kolektif.

Era berikutnya mulai sekitar 1990-an, ditandai dengan berkurangnya kegiatan sowan langsung sungkeman, ngabekten, dan ujung. Sebagian ritual tersebut sudah digantikan dengan kartu lebaran, telegram indah, pesan sms, maupun kontak langsung melalui telepon duduk dari rumah ke rumah.

Modus bermaaf-maafan seperti ini berlangsung hingga menjelang tahun 2000-an, ketika telepon genggam dan internet datang memberikan perubahan yang lebih jauh lagi, dengan dampak yang tidak kita duga sebelumnya. Kedatangan HP, internet dan berbagai platform media sosial semakin menguatkan praktik bermaaf-maafan tanpa kontak fisik langsung. Interaksi antarwarga dapat berjalan lebih intim dari satu orang ke orang lain, karena setiap orang memiliki HP-nya masing-masing.

HP kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari kita, termasuk untuk memfasilitasi kita semua berkumpul dalam grup WA yang disebut grup Pak Bapak RT 11 AKI. Melalui grup ini kita dapat saling menyapa, berbagi informasi, dan menyebarkan pengumuman untuk warga secara real time. Satu kemewahan yang hadir hampir gratis dibandingkan dengan ketika awal perumahan ini berdiri, untuk menyebarkan undangan rapat RT saja harus didistribusikan dari rumah ke rumah.

Tanpa terasa sebagian besar dari para perintis perumahan Ambarketawang Indah ini menjadi generasi yang dikenal dengan generasi baby boomers yang lahir setelah zaman kolonial.

Generasi baby boomers ini adalah generasi yang memiliki pengalaman syawalan yang paling komplit. Kita mengalami era tradisional bermaaf-maafan secara fisik langsung; era kartu lebaran dan telegram indah; dan era digital yang difasilitasi internet, penggunaan HP dan kehadiran media sosial. Interaksi dengan teknologi digital bagi generasi baby boomers adalah tantangan zaman yang dapat dihadapi dengan bekal banyak pengalaman hidup yang panjang.

ANEKA MASALAH

Hal yang sebaliknya terjadi pada generasi Z dan generasi alpha yang sejak lahir dan dibesarkan dalam lingkungan teknologi digital. Selain banyak manfaatnya, teknologi digital juga mengandung permasalahan yang mengganggu yang tidak pernah diduga sebelumnya. Gangguan itu dapat berupa gangguan perkembangan otak dan kognisi, kesulitan konsentrasi, gangguan mata, kesulitan tidur, gangguan emosi dan perilaku, gangguan fisik, dan kesulitan belajar.

Karena itu beberapa negara di Skandinavia yang semula mendorong pembelajaran dengan teknologi digital kembali ke buku sebagai media belajar. Australia melarang anak menggunakan media sosial sebelum umur 13 tahun. Banyak negara sudah membatasi akses anak-anak untuk menggunakan HP, mengakses berbagai konten internet, dan menggunakan media sosial.

Kelihatannya peranan orang tua perlu dikuatkan, termasuk dalam mengasuh anak-anak pada era digital. Apa yang dikenal dengan digital parenting barangkali perlu diterjemahkan dalam tindakan nyata untuk melindungi generasi mendatang dari dampak buruk penetrasi teknologi digital yang kehadirannya tidak terhindari.

Perbanyak kegiatan bersama dengan anak di dunia nyata, hindari penggunaan HP di depan anak-anak kita untuk hal yang tidak mendesak, buat komitmen dengan anak tentang jatah waktu harian untuk berselancar di internet, ciptakan moment bersama tanpa gadget, misalnya saat bersantai bersama atau makan malam bersama. Semoga yang saya sampaikan bermanfaat. (mar/Prof. Dr. Rijanto, Warga RT 11 Perumahan Ambarketawang Indah, Gamping, Sleman, DIY)