bernasnews – Melihat fenomena yang terjadi dimasyarakat tentang masih banyaknya angka perceraian dini dan angka perceraian Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) kabupaten Sleman pada Kamis (9/4/2926) mengadakan jumpa pers bertempat di Pendopo Paku Jati, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) kabupaten Sleman.
Kepala DP3AP2KB Kabupaten Sleman.,dr. Novita Krisnaeni, M.P.H., pada kesempatan tersebut menyampaikan tentang Pencegahan Pernikahan Usia Dini dan Perceraian melalui Program Ketahanan Keluarga, Program Pemberdayaan Perempuan, dan Program Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak.
Dalam pemaparannya dr.Novi menuturkan bahwa menurut data dari pengadilan agama Kabupaten Sleman, angka kasus perceraian di Kabupaten Sleman pada tahun 2025 sebanyak 1.489 kasus, data kasus perceraian ditingkat Kapanewon sebagai berikut ;
– kapanewon Depok 165 kasus,
– kapanewon Mlati 109 kasus dan
– Kapanewon Ngaglik 165 kasus,
– Kapanewon Gamping 125 Kasus.
“Faktor penyebab dari hal tersebut diantaranya adalah faktor komunikasi yang tidak baik,( perselisihan dan pertengkaran) 84%, faktor lainnya seperti meninggalkan salah satu pihak 8,42% dan faktor ekonomi 5,25%.
Melihat fenomena ini Dinas P3AP2 KB secara aktif telah melaksanakan berbagai program diantaranya program. ketahanan dan kesejahteraan keluarga, program pemberdayaan perempuan dan program perlindungan dan pemenuhan hak anak”, ujar Novita.
Ditambahkan juga bahwa Program ketahanan dan kesehahteraan keluarga. penerapan 8 fungsi keluarga menjadi hal utama meliputi : fungsi agama, fungsi pembinaan lingkungan, fungssi ekonomi, fungsi reproduksi, fungsi sosial budaya, fungsi sosialisasi pendidikan dan fungsi cinta kasih serta fungsi perlindungan.
Kepala Dinas DP3AP2 KB Sleman,dr.Novita Krisnaeni, M.P.H, menguraikan bahwa upaya pencegahan pernikahan usia dini harus dilakukan melalui pendekatan kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak.
“Kami terus mendorong masyarakat untuk memberi ruang bagi anak-anak agar dapat menyelesaikan pendidikan dan mempersiapkan masa depan mereka, menyongsong Indonesia Emas 2045”, pungkasnya.
(Nun).












