Yayasan Kebaya Yogyakarta Perkuat Edukasi Publik di Tengah Isu Keragaman Gender

Diskusi "Menguatkan Hak ODHIV dan Transpuan di Daerah Istimewa Yogyakarta". foto: van/bernasnews

bernasnews – Yayasan Kebaya Yogyakarta terus memperkuat perannya dalam mendorong edukasi serta perlindungan bagi kelompok keragaman gender di Indonesia. Melalui berbagai program, organisasi ini menitikberatkan pada isu kesehatan, pemberdayaan, hingga advokasi kebijakan yang lebih inklusif.

Program Manager Yayasan Kebaya, Bunda Rully, mengungkapkan bahwa saat ini fokus utama organisasi mencakup perawatan orang dengan HIV, isu lansia, serta pemberdayaan kelompok minoritas.

“Saat ini kami memang lebih fokus pada perawatan orang dengan HIV dan isu-isu lansia juga pada pemberdayaan kelompok minoritas. Jadi kita memang lebih menyasar ke sana,” ujarnya pada Selasa (7/4) saat dijumpai di sela kegiatan “Menguatkan Hak ODHIV dan Transpuan di Daerah Istimewa Yogyakarta”.

Fokus Program: Edukasi, Kesehatan, dan Pemberdayaan

Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah program edukasi melalui sekolah inklusi bernama Smart Trans. Program ini diadakan setiap tahun dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

“Pertama sekali di edukasi, jadi dalam setahun kami ada sekolah smart trans sebagai bagian dari mengedukasi masyarakat itu dimana sekolah-sekolah inklusi yang melibatkan sekitar 70 persennya memang dari kelompok komunitas trans tapi 30 persennya adalah teman-teman dari masyarakat umum,” jelas Bunda Rully.

Peserta dari masyarakat umum tersebut berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari karang taruna, ibu rumah tangga, hingga tenaga pengajar. Hal ini bertujuan untuk membangun pemahaman yang lebih luas terkait keberagaman gender.

Sejarah dan Realitas Keragaman Gender di Indonesia

Menurut Bunda Rully, isu keragaman gender bukanlah hal baru di Indonesia. Ia menegaskan bahwa keberagaman tersebut telah ada jauh sebelum kemerdekaan.

“Karena kita melihat indikasi penolakan terhadap keragaman gender itu mulai muncul kembali padahal keragaman gender itu kan sudah ada sejauh sebelum Indonesia Merdeka,” ungkapnya.

Ia mencontohkan keberadaan kelompok Bissu dalam budaya Bugis sejak abad ke-14 yang memiliki peran penting dalam kehidupan sosial, spiritual, hingga kerajaan.

Tantangan Regulasi dan Tekanan Global

Meski Indonesia telah memiliki berbagai perangkat hukum seperti Deklarasi HAM 1948, UUD 1945, hingga KUHP terbaru, Bunda Rully menilai belum ada regulasi spesifik yang melindungi kelompok keragaman gender.

“Tentu saja, kita sangat berharap dalam proses penyusunan regulasi-regulasi yang ada itu harus berpihak kepada semua kelompok, termasuk kelompok keragaman gender,” katanya.

Ia juga menyoroti adanya pengaruh global terhadap meningkatnya penolakan terhadap kelompok minoritas. Dinamika politik internasional, termasuk bangkitnya kelompok konservatif di berbagai negara, turut berdampak pada situasi di Indonesia.

Diskriminasi dan Akses Layanan Dasar

Diskriminasi masih menjadi tantangan besar, terutama dalam akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial. Kondisi ini seringkali bermula dari kurangnya penerimaan di lingkungan keluarga.

“Jika tidak ada penerimaan dari keluarga maka sistem kita akan ikut subordinatif tidak memberikan layanan kesehatan, sosial, pendidikan otomatis,” jelasnya.

Akibatnya, banyak transpuan yang tidak dapat melanjutkan pendidikan hingga tingkat menengah atas.

Upaya Penguatan Mental dan Ekonomi Komunitas

Untuk menjawab tantangan tersebut, Yayasan Kebaya Yogyakarta juga mengembangkan program penguatan mental dan ekonomi. Mereka membangun komunitas berbasis spiritual, termasuk pondok pesantren bagi transpuan di Yogyakarta yang telah berdiri sejak 2008.

Selain itu, komunitas juga difasilitasi untuk membangun usaha bersama melalui koperasi dan kelompok ekonomi. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman online maupun rentenir.

Bunda Rully menegaskan pentingnya ketahanan mental dalam menghadapi situasi saat ini. “Yang harus dibangun adalah mental, kemudian mental health mereka karena harus resilience dalam kondisi prosper,” ujarnya.

Peran Media dalam Edukasi Publik

Direktur Yayasan Kebaya Yogyakarta, Mami Finolia, menekankan pentingnya peran jurnalis dalam menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat.

“Jadi saya mewakili teman-teman semua mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran teman-teman jurnalis yang mana akan mengikuti kegiatan teman-teman jurnalis yang sangat penting buat kami karena memang jurnalis ini adalah pintu utama untuk memberikan edukasi atau informasi kepada masyarakat di luar sana,” katanya.

Ia juga menyoroti derasnya arus informasi di media sosial yang tidak selalu diiringi dengan pemahaman yang tepat. Karena itu, media diharapkan dapat menjadi jembatan edukasi yang objektif dan berimbang.

Dengan berbagai upaya tersebut, Yayasan Kebaya berharap terciptanya masyarakat yang lebih inklusif serta hadirnya regulasi yang mampu melindungi seluruh warga negara tanpa terkecuali.