News  

Apakah Jawa Tengah dan DIY Terdampak Godzilla El Nino? Ini Penjelasan BRIN dan BMKG

Ilustrasi apakah Jawa Tengah dan DIY terdampak Godzilla El Nino? (Pixabay.com)

bernasnews – Potensi kemunculan fenomena “Godzilla El Nino” pada 2026 menjadi perhatian serius di Indonesia, termasuk di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Apakah Jawa Tengah dan DIY terdampak Godzilla El Nino?

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik dapat memicu musim kemarau lebih panjang dan kering.

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa hingga pertengahan tahun 2026, kondisi iklim di Jawa Tengah dan DIY masih relatif normal tanpa anomali signifikan.

Fenomena “Godzilla El Nino” dan Dampaknya bagi Indonesia

BRIN menjelaskan bahwa El Nino terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di wilayah ekuator Samudera Pasifik. Dalam kondisi kuat, fenomena ini menyebabkan pembentukan awan dan curah hujan lebih banyak terjadi di wilayah Pasifik, sehingga Indonesia mengalami penurunan curah hujan secara signifikan.

Kondisi ini diperkuat oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatera dan Jawa. Kombinasi kedua fenomena tersebut berpotensi memperparah kekeringan di Indonesia.

Istilah “Godzilla El Nino” digunakan untuk menggambarkan El Nino dengan intensitas sangat kuat yang dapat memicu kemarau ekstrem. Dalam sejarah, kejadian serupa pernah terjadi pada 1997, ketika curah hujan di Indonesia turun lebih dari 40% dari kondisi normal. Dampaknya meluas, mulai dari kekeringan parah, gagal panen, hingga krisis air bersih.

Kondisi Jawa Tengah dan DIY Masih Normal

Analis Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Zauyik, menyampaikan bahwa kondisi atmosfer saat ini masih berada pada fase netral.

Ia menjelaskan bahwa periode April hingga Juni 2026 belum menunjukkan adanya peningkatan maupun penurunan signifikan terhadap curah hujan di wilayah Jawa Tengah dan DIY. Prediksi anomali iklim El Nino dengan intensitas lemah terjadi pada semester kedua tahun 2026.

Zauyik juga mengungkapkan bahwa sebagian wilayah Jawa Tengah, khususnya bagian timur laut, sudah mulai memasuki musim kemarau. Meski demikian, kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan tahun 2025, dengan durasi rata-rata antara lima hingga tujuh bulan.

Awal Musim Kemarau 2026 Terjadi Bertahap

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan data terbaru, awal kemarau terjadi secara bertahap sebagai berikut:

  • April 2026 (16,3% wilayah): Nusa Tenggara (NTB dan NTT), sebagian Bali, dan Jawa Timur bagian timur
  • Mei 2026 (26,3% wilayah): Meluas ke Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat bagian utara, serta sebagian Sumatera dan Sulawesi Selatan
  • Juni 2026 (23,3% wilayah): Menjangkau Kalimantan, Sumatera utara, dan Papua bagian selatan

BMKG mencatat bahwa sekitar 46,5% wilayah Indonesia akan mengalami awal musim kemarau yang lebih maju dari normal. Sementara itu, puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026, dengan 57,2% wilayah mengalami durasi kemarau lebih panjang.

Mengapa El Nino Bisa Picu Kemarau Ekstrem?

El Nino terjadi ketika massa air laut hangat dari wilayah Indonesia bergeser ke arah timur menuju Samudera Pasifik bagian tengah dan timur. Proses ini menyebabkan peningkatan aktivitas konveksi di wilayah Pasifik dan mengurangi pembentukan awan hujan di Indonesia.

Akibatnya, angin yang menuju Indonesia hanya membawa sedikit uap air. Kondisi ini membuat musim kemarau tidak hanya lebih panas, tetapi juga lebih panjang karena hujan tertahan di tengah samudera.

Dampak lanjutannya meliputi kekeringan meteorologis, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, kabut asap, hingga keterbatasan air bersih yang dapat memicu masalah kesehatan.

Mitigasi untuk Menghadapi Kemarau Panjang

Menghadapi potensi kemarau panjang, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk melakukan langkah mitigasi sejak dini, antara lain:

  • Menampung air hujan sebagai cadangan (panen hujan)
  • Menghemat penggunaan air dalam aktivitas sehari-hari
  • Mengoptimalkan fungsi waduk, embung, dan kolam retensi
  • Menghindari pembakaran lahan atau sampah
  • Memantau informasi iklim terbaru dari BMKG secara berkala

Langkah-langkah ini dinilai penting untuk meminimalkan dampak kemarau panjang, terutama di sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.

Meski BRIN telah mengingatkan potensi “Godzilla El Nino”, BMKG memastikan bahwa hingga pertengahan 2026, wilayah Jawa Tengah dan DIY belum terdampak signifikan. Potensi El Nino baru diperkirakan muncul pada semester kedua dengan intensitas lemah.

Namun, karena musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan panjang dibandingkan tahun sebelumnya, kewaspadaan tetap diperlukan. Persiapan sejak dini menjadi kunci untuk mengurangi risiko dampak yang lebih besar di masa mendatang. (anp)