bernasnews — Paskah bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi momen spiritual yang mengandung makna pengorbanan, kebangkitan, dan harapan. Tema tahun ini, Kebangkitan-Nya Sumber Pengharapan dan Terobosan Baru, semoga menjadi inspirasi bagi kita semua.
Demikian dikemukakan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat mengunjungi Gereja Santo Antonius Padua Kotabaru, dalam rangka perayaan Ekaristi Malam Paskah, pada Sabtu malam (4/4/2026).
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Yogyakarta menyampaikan ucapan selamat merayakan Tri Hari Suci Kamis Putih, Jumat Agung dan Minggu Paskah kepada seluruh umat Katolik. Juga berharap perayaan Paskah 2026 membawa berkah, damai sejahtera, serta memperkuat nilai pengharapan dan kebangkitan.
Hasto Wardoyo menegaskan, bahwa toleransi antarumat beragama di Yogyakarta terus terjaga dengan baik. Menurutnya, kebersamaan lintas agama terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat momentum Ramadan maupun Paskah.
“Saya sangat terharu, ketika safari tarawih di bulan Ramadan, saya didampingi oleh Ketua DPRD dan rekan-rekan dari Kristen dan Katolik. Ini menunjukkan toleransi di Kota Yogya sungguh luar biasa,” ujar orang nomor satu di Pemkot Yogyakarta.
Lebih lanjut Hasto menegaskan, bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta berkomitmen menjaga keamanan dan kenyamanan selama perayaan berlangsung. Dukungan dari aparat keamanan seperti Kepolisian dan TNI turut memastikan ibadah berjalan lancar.
Wali Kota Yogyakarta juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lingkungan melalui gerakan Mas JOS, yakni Masyarakat Jogja Olah Sampah Sendiri serta memperkuat semangat gotong royong.
Hasto juga menyebut kawasan Kotabaru sebagai salah satu sentra perayaan Paskah dengan jumlah umat yang besar. Ia mengapresiasi kebersamaan masyarakat dalam menjaga ketertiban dan keamanan.
“Peristiwa spiritual seperti Idul Fitri dan Paskah ini diharapkan membawa transformasi bagi kita semua, memperbaiki perilaku, serta membentuk karakter generasi muda yang lebih baik,” harapnya.
Pihaknya juga mengajak umat untuk menjadikan momentum Tri Hari Suci sebagai sarana refleksi diri agar dapat membawa dampak positif bagi masyarakat luas dan lingkungan.
“Berdampak itu menjadi penting sekali. Member- memberikan rahmat bagi seluruh sekalian alam, itu menjadi hal yang penting. Tidak hanya kepada manusia, kepada lingkungan itu saya kira semuanya menjadi bagian yang kita pelihara bersama,” tandas Hasto Wardoyo.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, hadir membersamai jemaat di Gereja Kristen Jawa Gondokusuman. Kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi simbol kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam merawat nilai-nilai kemanusiaan.
“Malam ini kami sangat senang sekali dapat membersamai jemaat GKJ Gondokusuman dalam Kebaktian Paskah Sabtu Sunyi,” kata Wawan Harmawan, dilansir dari Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta.
Pihaknya menyampaikan ucapan selamat merayakan Tri Hari Suci Paskah 2026, mulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, hingga Minggu Paskah.
Menurut Wawan, Paskah lebih dari sekadar perayaan keagamaan tetapi sebagai refleksi mendalam tentang kehidupan. Mengacu pada tema yang diusung Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia tahun ini yaitu “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita”.
“Paskah juga membawa pesan universal. Di tengah penderitaan selalu ada harapan, di tengah perpecahan selalu ada jalan menuju persatuan, dan di tengah kegelapan selalu ada cahaya keilahian yang menuntun umat manusia,” tutur orang nomor dua di Pemkot Yogyakarta.
Dikatakan, Yogyakarta sebagai ruang hidup yang beragam membutuhkan nilai-nilai yang mampu merawat harmoni. Dalam konteks itulah, Pemerintah Kota Yogyakarta terus berupaya menghadirkan pelayanan terbaik.
“Mulai dari pengelolaan kebersihan lingkungan hingga penataan ruang kota yang nyaman,” ujar Wawan.
Pihaknya membuka peluang kolaborasi dengan pengelola tempat ibadah di Kota Yogyakarta. Menurutnya, rumah ibadah tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga memiliki potensi sebagai bagian dari wajah kota yang ramah bagi wisatawan.
“Banyak wisatawan datang ke Yogyakarta bukan hanya untuk berlibur, tetapi juga untuk beribadah. Ini menjadi daya tarik tersendiri yang perlu kita kelola bersama,” ujar Wawan Harmawan. (*/ ted)












