Harga Plastik Kemasan Naik Tajam, UMKM Gunungkidul Menjerit Hadapi Tekanan Biaya Produksi

Harga plastik kemasan naik tajam imbas perang Iran. (bernasnews)

bernasnews – Kenaikan harga plastik kemasan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Gunungkidul.

Harga yang meningkat hingga dua kali lipat memengaruhi biaya produksi, terutama bagi produsen makanan rumahan yang bergantung pada kemasan plastik.

Sejumlah pelaku usaha menyebut kenaikan ini terjadi secara cepat dan berdampak langsung pada operasional usaha. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan usaha kecil di tengah persaingan pasar yang ketat.

Dampak Kenaikan Harga pada Pelaku Usaha

Putri, produsen bolu kelapa asal Putat, Patuk, mengaku mengalami kenaikan harga plastik kemasan yang signifikan. Ia menyebut harga plastik yang biasa digunakan meningkat drastis dalam waktu singkat.

“Saya benar-benar kaget. Biasanya harga masih stabil, tapi sekarang naik drastis. Bahkan untuk beberapa jenis plastik, harganya sudah dua kali lipat,” ujarnya.

Kenaikan tersebut tidak hanya terjadi pada kemasan bolu, tetapi juga pada kemasan produk roti lainnya. Ia mengaku belum menemukan alternatif kemasan yang sesuai dengan kebutuhan produksi.

Dalam kondisi tersebut, Putri mempertimbangkan penyesuaian harga jual. Namun, ia masih menahan keputusan tersebut karena khawatir berdampak pada penjualan.

“Pasar saja belum pulih sepenuhnya setelah Ramadan. Kalau saya naikkan harga, saya takut pelanggan lari,” katanya.

Hal serupa disampaikan Ana, produsen roti dari Nglipar. Ia menyebut kenaikan tidak hanya terjadi pada plastik, tetapi juga bahan baku lain seperti tepung dan gula.

“Semua naik, bukan cuma plastik. Tepung, gula, sampai kemasan juga ikut naik. Otomatis biaya produksi jadi membengkak,” ujarnya.

Meski menghadapi kenaikan biaya produksi, Ana mengaku belum dapat menaikkan harga jual karena mempertimbangkan persaingan pasar.

Keterangan Pedagang dan Penyebab Kenaikan

Pedagang plastik di Pasar Playen, Septi, membenarkan adanya kenaikan harga yang signifikan. Ia menyebut kenaikan harga saat ini tidak lagi sekadar naik, tetapi sudah berubah secara keseluruhan.

“Kalau dibilang naik, ini sudah lebih dari itu. Kenaikannya bisa sampai 100 persen lebih,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga mulai terlihat sejak awal Ramadan dan terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan informasi dari distributor, kenaikan harga dipicu gangguan distribusi bahan baku plastik. Salah satu faktor yang disebut adalah konflik di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi jalur distribusi global.

“Bahan baku plastik yang biasanya dikirim dari Kanada jadi terhambat. Jalur distribusinya tidak bisa melewati kawasan Timur Tengah, sehingga pasokan ke Indonesia ikut terganggu,” jelasnya.

Kondisi tersebut menyebabkan pasokan plastik berkurang di pasar, sementara permintaan tetap tinggi. Hal ini mendorong kenaikan harga secara signifikan.

Selain itu, terdapat kekhawatiran kenaikan harga akan berlanjut. Septi menyebut adanya informasi terkait potensi kenaikan harga bahan bakar minyak pada awal April yang dapat memengaruhi biaya distribusi.

“Katanya masih akan naik lagi, apalagi ada isu kenaikan harga bahan bakar minyak di awal April. Kalau itu benar terjadi, biaya distribusi pasti ikut naik,” ujarnya.

Dampak Lebih Lanjut bagi UMKM

Kenaikan harga plastik dan bahan produksi lainnya menjadi tantangan bagi pelaku UMKM, khususnya di sektor makanan. Tanpa penyesuaian harga atau alternatif bahan, pelaku usaha berpotensi mengalami penurunan margin usaha.

Pelaku usaha berharap adanya langkah untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku. Hal ini dinilai penting untuk menjaga kelangsungan usaha kecil di daerah.

Kondisi ini juga mencerminkan dampak gangguan rantai pasok global terhadap pelaku usaha di tingkat lokal. Dalam situasi tersebut, pelaku UMKM masih berupaya mempertahankan produksi sambil menunggu kondisi pasar membaik. (Eln)