Geliat Pariwisata Lebaran 2026 di DIY: Sleman dan Bantul Lesu, Gunungkidul Melejit, Kulon Progo Menguat

Pariwisata Lebaran 2026/Foto: Freepik

bernasnews– Libur Lebaran 2026 menghadirkan dinamika yang kontras dalam sektor pariwisata di empat kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Saat sebagian wilayah mengalami penurunan jumlah kunjungan wisatawan, daerah lain justru mencatat lonjakan signifikan. Fenomena ini memperlihatkan perubahan pola wisata masyarakat yang semakin selektif, dinamis, dan dipengaruhi berbagai faktor eksternal.

Pariwisata Lebaran 2026

  • Sleman Terpukul, Wisata Alam Kehilangan Daya Tarik Sementara

Kabupaten Sleman membuka catatan awal dengan kabar yang kurang menggembirakan. Dinas Pariwisata setempat mencatat penurunan jumlah wisatawan di sejumlah destinasi andalan, terutama kawasan Kaliurang dan Tebing Breksi.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sleman, Kus Endarto, mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan selama periode Hari H hingga H+2 Idulfitri 1447 Hijriah menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada libur Lebaran 2025, kawasan Kaliurang mampu menarik 8.442 wisatawan. Namun pada periode Lebaran 2026 yang berlangsung lebih singkat, jumlah tersebut merosot menjadi 6.289 pengunjung. Penurunan ini mencapai sekitar 29 persen dan menjadi sinyal kuat melemahnya daya tarik kunjungan.

Hal serupa juga terjadi di Tebing Breksi. Destinasi wisata berbasis lanskap alam ini mencatat penurunan dari 2.509 kunjungan pada 2025 menjadi 2.102 wisatawan pada 2026.

Kus Endarto menegaskan bahwa penurunan ini tidak berdiri sendiri. Ia menyebut sejumlah faktor saling berkaitan dan memengaruhi keputusan wisatawan. Durasi libur sekolah yang lebih pendek, kondisi ekonomi masyarakat, hingga perubahan pola mobilitas menjadi pemicu utama.

Ia juga menyoroti pembangunan infrastruktur seperti jalan tol dan underpass yang justru mengalihkan arus wisatawan ke luar Sleman. Kemudahan akses menuju daerah lain membuat wisatawan memilih destinasi yang lebih cepat dijangkau.

“Ketika jalur transportasi semakin mudah, masyarakat cenderung memilih lokasi yang efisien dari sisi waktu,” jelasnya.

Selain itu, wisatawan kini menunjukkan preferensi baru. Mereka lebih memilih destinasi dengan udara sejuk, fasilitas air, serta pengalaman rekreasi yang lebih variatif dibandingkan wisata konvensional.

Meski demikian, keberadaan berbagai event wisata mampu sedikit menahan laju penurunan. Tanpa agenda tambahan tersebut, penurunan jumlah kunjungan diperkirakan akan jauh lebih dalam.

  • Kulon Progo Bangkit, Pantai Jadi Magnet Wisatawan

Berbanding terbalik dengan Sleman, Kabupaten Kulon Progo justru menunjukkan tren positif. Dinas Pariwisata setempat mencatat puluhan ribu wisatawan memadati berbagai destinasi sejak H-1 Lebaran.

Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Sutarman, menyampaikan bahwa pada H-1 Lebaran tercatat 12.340 wisatawan mengunjungi destinasi wisata. Jumlah ini meningkat pada H+2 menjadi 15.802 orang, dan tetap tinggi pada H+3 dengan 15.482 pengunjung.

Secara total, dalam tiga hari awal libur Lebaran, jumlah wisatawan mencapai 43.275 orang. Angka ini belum termasuk kunjungan ke desa wisata dan destinasi yang dikelola swasta, yang hingga kini masih dalam proses pendataan.

Pantai Glagah dan Pantai Congot di wilayah Temon menjadi primadona yang paling banyak dikunjungi. Keindahan alam pesisir yang masih alami, ditambah akses yang semakin mudah, menjadikan kawasan ini sebagai magnet utama wisatawan.

Lonjakan ini memperlihatkan bahwa wisata berbasis alam terbuka, khususnya pantai, masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk menghabiskan libur Lebaran.

  • Bantul Terpeleset, Target Tak Tercapai

Kabupaten Bantul juga mengalami tekanan cukup berat selama libur Lebaran 2026. Dinas Pariwisata mencatat jumlah kunjungan wisatawan tidak hanya menurun, tetapi juga gagal mencapai target.

Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif, Markus Purnomo Adi, menyebut rata-rata kunjungan harian hanya mencapai 11.400 orang. Angka ini turun drastis daripada tahun 2025 yang mampu menembus rata-rata 18.000 wisatawan per hari.

Secara kumulatif, total kunjungan selama tujuh hari libur Lebaran 2026 tercatat 80.333 orang. Angka tersebut terpaut jauh dari capaian tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 126.000 wisatawan.

Penurunan ini dipicu oleh berbagai faktor. Markus menyoroti durasi libur yang lebih pendek serta kondisi ekonomi masyarakat yang memengaruhi keputusan untuk berwisata.

Selain itu, isu tarif retribusi di kawasan pantai selatan juga menjadi sorotan. Keluhan dari wisatawan dan pengelola yang ramai di media sosial ikut memengaruhi persepsi publik terhadap destinasi wisata di Bantul.

Meski jumlah kunjungan menurun, sektor pariwisata tetap memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp1,162 miliar.

Puncak kunjungan terjadi pada 23 Maret 2026 dengan jumlah wisatawan mencapai 23.442 orang. Namun lonjakan tersebut belum mampu mengangkat total kunjungan secara signifikan.

Pemerintah Kabupaten Bantul pun langsung bergerak melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari kebijakan tarif hingga peningkatan kualitas layanan wisata.

  • Gunungkidul Meledak, Rekor Baru Pariwisata DIY

Di tengah penurunan yang terjadi di beberapa daerah, Kabupaten Gunungkidul justru tampil sebagai bintang utama. Daerah ini mencatat lonjakan kunjungan wisatawan yang spektakuler selama libur Lebaran 2026.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntaringsih, menyampaikan bahwa jumlah wisatawan mencapai 230.669 orang hanya dalam enam hari masa libur. Angka ini jauh melampaui capaian tahun 2025 yang mencatat 163.591 wisatawan dalam periode sepuluh hari.

Dari sisi pendapatan, Gunungkidul berhasil mengumpulkan Rp2,85 miliar, meningkat signifikan dari Rp1,70 miliar pada tahun sebelumnya.

Puncak kunjungan terjadi pada 23 Maret 2026, saat 66.233 wisatawan memadati berbagai destinasi dalam satu hari. Pendapatan pada hari tersebut hampir mencapai Rp1 miliar.

Lonjakan ini menunjukkan efektivitas strategi pengelolaan pariwisata oleh pemerintah daerah. Peningkatan infrastruktur, perbaikan fasilitas, serta optimalisasi layanan wisata terbukti mampu menarik minat wisatawan dalam jumlah besar.

Tidak hanya itu, tren positif juga terlihat dari pendapatan awal tahun yang melonjak drastis dari Rp5,732 miliar pada 2025 menjadi Rp13,072 miliar pada 2026.

Geliat pariwisata di empat kabupaten DIY selama Lebaran 2026 menegaskan satu hal penting: wisata berbasis alam tetap menjadi daya tarik utama, tetapi preferensi wisatawan terus berubah. (ef linangkung)