News  

H-1 Lebaran 2026: 150 Ribu Kendaraan Padati Pintu Non Tol DIY, Cerita Haru Pemudik Menyusuri Jalan Pulang

Suasana Simpang Tempel 21 Maret 2026

bernasnews.com – Arus mudik menjelang Lebaran 2026 mencapai puncaknya. Sehari sebelum hari raya, tepatnya pada Jumat (20/3/2026), gelombang kendaraan terus mengalir deras memasuki Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui jalur non tol. Data resmi mencatat sebanyak 150.190 kendaraan masuk, sementara 130.642 kendaraan keluar dari wilayah ini.

Lonjakan ini tidak hanya menunjukkan tingginya mobilitas masyarakat, tetapi juga menggambarkan kerinduan mendalam untuk kembali ke kampung halaman. Setiap kendaraan yang melintas membawa cerita tentang rindu, harapan, dan pertemuan yang telah lama dinantikan.

Kasubdit Kamsel Sat Lantas Dirlantas Polda DIY, AKBP Widya Mustikaningrum, menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau arus lalu lintas secara intensif di seluruh titik masuk utama non tol. Ia menegaskan bahwa petugas mengoptimalkan pengamanan dan rekayasa lalu lintas demi menjaga kelancaran arus mudik.

“Petugas terus melakukan pengaturan dan pemantauan di lapangan agar arus kendaraan tetap terkendali, terutama di titik-titik rawan kepadatan,” ujarnya.

Simpang Prambanan dan Tempel Jadi Titik Krusial

Simpang Prambanan menjadi salah satu jalur paling sibuk. Sebanyak 19.953 kendaraan tercatat masuk, sementara 24.987 kendaraan keluar melalui jalur ini. Kondisi ini menunjukkan arus dua arah yang sama-sama padat, terutama dari dan menuju wilayah Jawa Tengah.

Sementara itu, Simpang Tempel di Sleman mencatat angka yang lebih tinggi. Sebanyak 28.100 kendaraan masuk dan 36.761 kendaraan keluar. Kepadatan ini mencerminkan tingginya aktivitas masyarakat yang melintasi jalur utama penghubung antarprovinsi.

Di tengah padatnya lalu lintas, petugas terus bekerja tanpa henti. Mereka berdiri di bawah terik matahari dan debu jalanan, memastikan setiap pengendara dapat melanjutkan perjalanan dengan aman.

Arus Padat Mengalir dari Berbagai Penjuru

Simpang Kikis mencatat jumlah kendaraan masuk tertinggi, yakni 35.023 kendaraan, dengan 18.693 kendaraan keluar. Sementara itu, wilayah barat DIY juga menunjukkan peningkatan arus signifikan.

Melalui Congot Kulon Progo, sebanyak 8.439 kendaraan masuk dan 4.470 kendaraan keluar. Sedangkan Sindutan Kulon Progo mencatat 1.124 kendaraan masuk dan 2.279 kendaraan keluar.

Tak kalah ramai, jalur Samudera Raksa Kalibawang menjadi salah satu pintu favorit pemudik. Sebanyak 26.315 kendaraan masuk melalui jalur ini, sementara 10.136 kendaraan keluar.

Selain titik-titik tersebut, arus kendaraan juga terus mengalir melalui wilayah Gunungkidul, meskipun tidak dirinci secara spesifik dalam data.

Cerita di Balik Kemudi: Rindu yang Terbayar

Di balik deretan angka tersebut, tersimpan kisah-kisah manusia yang penuh emosi. Banyak pemudik rela menempuh perjalanan panjang berjam-jam demi satu tujuan: pulang.

Seorang pemudik asal Jakarta, Tika misalnya, mengaku sengaja berangkat lebih awal demi menghindari kemacetan puncak. Namun, ia tetap harus menghadapi antrean panjang di beberapa titik.

“Saya capek, tapi senang. Sudah setahun tidak pulang. Lebaran itu soal keluarga,” katanya sambil tersenyum lelah.

Anak-anak tampak tertidur di kursi belakang mobil, sementara orang tua mereka tetap fokus mengemudi. Di beberapa titik, pedagang dadakan memanfaatkan situasi dengan menjajakan makanan dan minuman, memberi jeda bagi para pelintas untuk beristirahat sejenak.

Antara Kepadatan dan Harapan

Arus kendaraan yang tinggi memang membawa tantangan tersendiri. Namun, di sisi lain, fenomena ini juga menghidupkan kembali denyut ekonomi lokal. Warung makan, SPBU, hingga tempat istirahat dadakan dipadati pengunjung.

Pemerintah dan aparat kepolisian terus mengimbau masyarakat agar tetap berhati-hati selama perjalanan. Mereka meminta pengendara untuk menjaga kondisi fisik, mematuhi rambu lalu lintas, dan tidak memaksakan diri saat lelah.

Lebaran bukan sekadar perayaan. Ia menjadi momentum untuk kembali, mempererat hubungan, dan menyembuhkan rindu yang lama terpendam. Dan di jalan-jalan menuju Yogyakarta, rindu itu kini sedang bergerak—dalam deru mesin dan roda yang tak berhenti berputar.(ef linangkung)