bernasnews– Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Kulon Progo pada akhir 2025 hingga awal 2026 membawa dampak serius bagi para petani. Belasan hektare lahan sawah padi di wilayah ini mengalami gagal panen, dengan Panjatan dan Lendah menjadi daerah yang paling parah terdampak.
Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulon Progo mencatat, total luas lahan yang gagal panen mencapai 12 hektare. Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan DPP Kulon Progo, Wazan Mudzakir, menyampaikan data tersebut dengan tegas.
“Setidaknya ada 12 hektare lahan sawah yang gagal panen pada Desember 2025 dan Januari 2026,” ujarnya pada Rabu (18/03/2026).
Pada Desember 2025, DPP Kulon Progo mencatat sebanyak 7 hektare lahan sawah mengalami gagal panen. Dari jumlah itu, 5 hektare berada di Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, sedangkan 1 hektare masing-masing terdapat di Kalurahan Tayuban dan Cerme, Kapanewon Panjatan.
Memasuki Januari 2026, tambahan 5 hektare lahan sawah mengalami gagal panen. Wazan menjelaskan, 4 hektare berada di Sidorejo, Panjatan, dan 1 hektare di Ngentakrejo, Lendah.
“Gagal panen pada Desember 2025 dan Januari 2026 sama-sama disebabkan oleh hujan besar,” jelas Wazan.
Wazan menambahkan, hujan besar terjadi saat tanaman padi baru berumur sekitar 25 hari. Curah hujan yang tinggi membuat tanaman padi terendam air secara berlebihan sehingga menyebabkan kegagalan panen. Fenomena ini terjadi berulang kali di wilayah Lendah dan Panjatan karena genangan air cenderung lama surut.
“Air yang menggenang terlalu lama membuat tanaman padi terendam dan akhirnya gagal panen,” terang Kepala DPP Kulon Progo, Trenggono Trimulyo.
DPP Kulon Progo tidak tinggal diam. Petugas langsung menyalurkan benih padi tambahan agar petani dapat menanam ulang lahan terdampak. “Kebetulan persediaan benih masih ada sehingga bisa digunakan untuk penanaman ulang. Hasilnya, tanaman tumbuh dengan baik,” ungkap Wazan.
Meski begitu, DPP menilai kegagalan panen ini tidak berdampak signifikan terhadap produktivitas padi secara keseluruhan. Lahan terdampak masih relatif kecil daripada total luas lahan pertanian di Kulon Progo.
Menurut Trenggono, wilayah Lendah dan Panjatan memang menjadi langganan gagal panen karena curah hujan yang berlebihan. Kondisi topografi dan drainase yang kurang optimal membuat genangan air sulit surut, sehingga meningkatkan risiko padi terendam.
Para petani setempat berharap pemerintah terus memberikan perhatian, termasuk penyediaan benih cadangan dan bimbingan teknis untuk menghadapi musim hujan ekstrem. Dengan langkah cepat DPP, produksi padi di Kulon Progo tetap stabil dan tidak mengganggu ketahanan pangan lokal. (ef linangkung)












