bernasnews — Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa didampingi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, dan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo melakukan kunjungan ke Teras Malioboro 1 dan Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Selasa (17/3/2026).
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, bahwa pasar tradisional di Yogyakarta masih cukup kuat. Ia menyebut kondisi Pasar Beringharjo yang ramai menjadi indikator bahwa perekonomian tetap bergerak.
“Kita mau melihat apa betul pasar tradisional sudah mati. Ternyata di sini (Pasar Bringharjo) masih ramai, omzetnya juga tinggi, bahkan bisa mencapai Rp2 triliun dan terus meningkat,” kata Purbaya, dilansir dari Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta.
Ia pun mengaku berbelanja sejumlah produk seperti batik dan pakaian lantaran harga di Yogyakarta dinilai lebih terjangkau dibandingkan di Jakarta. Selain itu, Purbaya juga mencatat bahwa akses permodalan pedagang sebagian sudah terbantu melalui kerja sama dengan perbankan daerah.
Menyoal anggapan pasar tradisional telah mengalami mati suri, Purbaya menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya benar. Pihaknya menyebut aktivitas ekonomi di berbagai pusat perdagangan mulai kembali pulih pasca perlambatan beberapa tahun terakhir.
“Kalau lihat di sini cukup bagus. Orang berkumpul banyak. Jadi tidak mati suri. Memang kita baru keluar dari perlambatan, jadi pemulihannya belum merata, tapi arahnya positif,” tegas Purbaya.
Pada bagian lain, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memberikan gambaran lebih rinci terkait kondisi riil di lapangan, khususnya menjelang Lebaran. Menurut Hasto, jumlah pengunjung pasar memang belum sepenuhnya pulih seperti beberapa tahun lalu. Ia pun menyebut tren penurunan mulai terlihat sejak dua tahun terakhir.
“Kalau dibandingkan tiga tahun lalu, pengunjung memang menurun. Tahun lalu sudah turun, dan sekarang ini kurang lebih sama dengan tahun lalu. Jadi belum kembali seperti kondisi sebelum-sebelumnya,” ungkap Hasto.
Ia menambahkan, fenomena membludaknya pengunjung atau yang dikenal dengan istilah prepegan menjelang Lebaran juga tidak lagi terjadi seperti dulu. “Biasanya seminggu sebelum Lebaran itu ramai sekali, bahkan sampai overload. Tapi dua Lebaran terakhir, termasuk tahun ini, tidak terjadi seperti itu,” kata Hasto.
Ia mengungkapkan beberapa faktor yang kemungkinan mempengaruhi kondisi tersebut. Salah satunya adalah perubahan perilaku belanja masyarakat yang kini mulai beralih ke platform daring. “Kemungkinan pertama, masyarakat tidak panik karena barang tersedia. Kedua, banyak yang belanja online. Ketiga, memang daya beli menurun, itu juga tidak bisa kita pungkiri,” bebernya.
Lebih lanjut, Hasto menyoroti faktor inflasi yang turut berdampak pada daya beli masyarakat. Ia menyebut angka inflasi di DIY berada di kisaran 4,9 persen, sementara di Kota Yogyakarta mencapai sekitar 5,19 persen.
“Kalau inflasi naik, otomatis daya beli menurun. Itu sudah rumus ekonomi. Salah satu yang cukup terasa adalah kenaikan harga daging sapi, yang bisa naik sekitar Rp10 ribu,” ungkapnya.
Meski demikian, Hasto memastikan kondisi pasokan bahan pokok di pasar tetap aman dan terkendali. Pemerintah terus memantau komoditas penting seperti beras, cabai, dan bawang merah agar tidak mengalami lonjakan harga signifikan.
“Pasokan aman. Itu yang terus kita jaga supaya masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan pokoknya,” tegas Hasto.
“Dan inflasi tidak hanya dipengaruhi oleh bahan pangan, tetapi juga oleh faktor lain seperti harga emas dan produk perawatan diri yang kontribusinya cukup besar,” tandas orang nomor satu di Pemkot Yogyakarta. (*/ ted)












