bernasnews — ISEI Cabang Yogyakarta kembali menggelar Diskusi Terbatas dan Buka Bersama (DTBB) 2026 bekerja sama dengan PT. Saraswanti Indoland Development, Tbk (SWID). Acara putaran ke-4 dengan topik “Propek Industri Properti DIY 2026” bertempat di MICC, The Alana Hotel & Convention Center, Yogyakarta, Kamis, 12 Maret 2026.
Selaku narasumber pemantik diskusi adalah Bogat AR, Dirut PT SWID, Tbk. Sementara untuk pembahasnya Ilham M. Nur, Ketua REI DIY) dan Hermanto, Anggota ISEI Cabang Yogyakarta. Bertindak selaku moderator Ronny Suagiantoro, Humas ISEI Cabang Yogyakarta.
“Dengan berbagai potensi dan daya tarik Yogyakarta, Prospek Properti DIY 2026 sangat cerah. Sesuai dengan hukum ekonomi permintaan (demand) tanah di Yogya sangat tinggi, luar biasa. Hingga harga tanah pun melambung tinggi dibanding daerah-daerah lainnya,” kata Y. Sri Susilo selaku Koordinator DTBB ISEI Jogja 2026, dalam rilisnya, Sabtu (14/3/2026).
Mengawali diskusi, Bogat AR sebagai pemantik mengemukakan, bahwa Yogya kota pendidikan dan budaya. Pendidikan bagus juga pariwisatanya, ditambah biaya hidup bersahabat. Banyak pengembang besar masuk ke Yogya.
Menurut Bogat, pasar Yogya dengan harga tanah yang tinggi justru pada warga luar Yogya yang ingin tinggal atau berinvestasi di Yogya. Ia juga menyebut pengembangan kawasan pemukiman yang memberikan fasilitas lengkap dan mengangkat gengsi pemilik atau penghuni rumah/apartemen di lingkungan tersebut, dengan promosi/penawaran yang menarik sangat diminati.
“Apartemen di Yogya yang saya iklankan di media nasional dalam seminggu laku 50 unit,” paparnya.
Kata Bogat, dengan harga tanah yang tinggi pembangunan high rise building (Gedung tinggi, Apartemen dan lainnya) menjadi pilihan, walau ada di beberapa tempat gedung tersebut mangkrak pembangunannya karena pengembang kurang perhitungan.
“Dalam bisnis properti banyak tantangannya, harus kuat dan siap. Semua persyaratan harus dilengkapi,” ungkap Bogat, yang melanjutkan proyek prestisius Restorative City setelah sukses dengan Mataram City di Palagan Yogya.
Sementara itu, Ketua DPD REI DIY Ilham M Nur mengakui geliat para pelaku bisnis properti Yogya sangat terpengaruh dengan kebijakan pemerintah, pajak dan aturan-aturan yang membatasi. Meski ada pelambatan dengan kondisi perekonomian saat ini, tetapi tetap optimis jika mendapat dukungan kebijakan pemerintah yang mendukung kepemilikan rumah.
Menurut Ilham, anggota REI Yogya kebanyakan menggarap landed house atau landed building. Hunian yang dibangun langsung di atas permukaan tanah bukan hunian vertikal seperti apartemen. Kebijakan perumahan terbaru (2026) fokus pada penyediaan hunian layak dan terjangkau melalui Program 3 Juta Rumah.
“Perpanjangan tenor cicilan subsidi hingga 30 tahun, dan penghapusan biaya BPHTB/PBG untuk MBR diharapkan bisa mendongkrak perekonomian. Pasalnya bisnis properti juga menggerakan 180 bisnis lainnya,” ungkap Ilham.
Pembicara selanjutnya, Hermanto yang juga Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY menyebutkan di tengah ekonomi global yang melambat perekonomian DIY diperkirakan tetap kuat dan bertumbuh positif pada 2026 seiring dengan perkiraan terkendalinya inflasi DIY.
“Pertumbuhan kredit pada sektor real estate meskipun masih mengalami pertumbuhan masih berpeluang untuk ditingkatkan. Ditunjukkan masih lemahnya permintaan dari sektor rumah tangga khususnya tingkat KPR, KPA dan ruko masih melemah,” papar Hermanto, yang hobi gowes dan touring motor.
Pada bagian lain, Sri Darmadi Sudibyo, Kepala Perwakilan BI DIY menyatakan meskipun daya beli masyakarat ada penurunan namun industri properti tetap prospektif. Hal tersebut pembeli property di DIY tidak berasal dari DIY saja namun juga dari luar DIY.
“Banyak alumni perguruan tinggi, individu yang pernah bekerja dan putra-putrinya studi di Yogyakarta kemudian membeli properti di DI,” jelas Sudibyo, yang mempunyai hobi jalan kaki dan bersepeda.
Sementara Kepala OJK DIY Eko Yunianto mengungkapkan, bahwa dari data yang ada perbankan di DIY juga memberikan dukungan nyata kepada industri properti dalam bentuk kredit kepemilikan rumah. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di DIY tersedia melalui bank konvensional (BTN, Mandiri, BRI) dan Bank BPD DIY, dengan opsi subsidi (FLPP) maupun non-subsidi.
“Bank BPD DIY menawarkan suku bunga menarik (sekitar 0,40% flat/bulan atau bunga 5% untuk FLPP) dengan tenor hingga 25 tahun. Syarat utama meliputi KTP, KK, NPWP, dan DP minimal 5-20%,” terang Eko.
Selanjutnya Junaidi, Guru Besar UTY menyatakan, bahwa harga rumah untuk tipe RSS (Rumah Sangat Sederhana) di DIY relatif cukup mahal bagi pekerja baru, termasuk dosen, cicilan atau angsuran per bulan masih cukup tinggi dibandingkan gaji bulanan yang mereka terima.
“Dari beberapa infromasi yang saya terima penyebab utama tingginya harga rumah tersebut adalah harga tanah di DIY relative masih tnggi,” jelas Junaidi. Harga tanah yang relatif terjangkau letaknya jauh dari perkotaan dan akses infrastruktur juga relative terbatas.
“Melalui KPR dan KPP kami Bank BRI tetap mendukung pertumbuhan industri properti di DIY,” tambah Rizqi Darajad, selaku Pimca Bank BRI Cik di Tiro Yogyakarta. Merespons tingginya kebutuhan akan hunian yang layak dan terjangkau tersebut, BRI secara agresif mengoptimalkan serapan kuota KPP yang disubsidi pemerintah.
Dikatakan, sepanjang awal Januari hingga akhir Februari 2026, Bank BRI telah menyalurkan KPP senilai Rp2,30 triliun kepada 17.443 debitur di seluruh Indonesia. “Realisasi di dua bulan pertama ini merefleksikan pencapaian 28,75 persen dari total target penyaluran KPP BRI tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp8 triliun,” beber Rizki.
Diskusi Terbatas dan Buka Bersama (DTBB) ISEI Jogja putaran ke-4 yang didukung oleh PT. SWID, dihadiri oleh pengurus ISEI Cabang Yogyakarta, antara lain Didi Achjari, Y. Sri Susilo, Lincolin Arsyad, Edy Suandi Hamid, Dorothea Wahyu Ariani, Rudy Badrudin, Fahmi Radhy, Bambang P Hadi, Sultan, Rini Setyastuti, Satrio DW, Bakti Wibawa, Ahmad Maruf, Yulia Triputranti dan Suparmono.
“Acara diakhiri dengan pembagian cindera mata kepada narasumber dan moderator dilanjutkan dengan buka bersama,” pungkas Y. Sri Susilo selaku Koordinator, yang juga Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta. (*/ ted)












