bernasnews — Fakta menunjukkan bahwa hamparan di bumi ini mempunyai potensi sumberdaya alam yang beraneka macam dengan distribusi secara geografi tidak sama dan tidak merata.
Wilayah Indonesia dikenal sebagai zamrud khatulistiwa untuk menggambarkan fasilitas ‘syurga’ berupa tanah yang subur, laut dengan potensi ikan yang melimpah, dan berbagai sumberdaya alam lainnya.
Sementara di belahan bumi lainnya, fenomena perang Amerika-Israel dan Iran berada di kawasan dengan potensi geografi cenderung beriklim kering (dominan gurun dan gersang), namun melimpah potensi minyakbumi.
Artinya, satu kelebihan diikuti dengan banyak kekurangan di sana sini. Demikian dikemukakan oleh Muhammad Kundarto Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta saat meninjau kebun praktek Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta, pada Rabu (11/3/2026)
Lebih Lanjut Kundarto menjelaskan, bahwa Perang Asimetris bukan lagi menyasar adu senjata dan pasukan militer, tapi mengenai obyek-obyek vital non militer, yang dianggap sangat strategis bisa menggoyahkan kekuatan suatu negara di sana, seperti bandara, kilang minyak, instalasi penyulingan air (air laut menjadi air tawar), dan selat hormuz sebagai jalur transportasi energi-pangan yang sangat strategis.
Jika perang terus berlanjut, maka masing-masing negara akan cenderung mengamankan wilayah masing-masing. Pengamanan yang paling dasar adalah ketersediaan pangan, air bersih, dan energi.
“Kita yang hidup di negara dengan keterlimpahan cadangan pangan dan air bersih, boleh jadi merasa aman dan tak perlu takut terdampak. Hanya urusan energi yang memerlukan strategi khusus, mengingat proses transisi secara penuh dari energi nabati ke biofuel masih perlu waktu,” ujar Kundarto.
Sekedar mengingatkan untuk seluruh bangsa Indonesia, kita ini seperti kena kutukan sosial berupa “anak ayam mati di lumbung padi”, untuk menggambarkan kemalasan dan kecerobohan yang sering dilakukan akibat berada di wilayah yang melimpah sumberdaya alamnya.
“Tanpa disadari, secara sistemik dan bersama-sama, kita berbuat kerusakan untuk mendegradasi potensi sumberdaya alam ini.” tegasnya.
Lanjut Kundarto mengungkapkan kerusakan sumber daya alam tersebut yang pertama adalah banyak lahan subur yang berpotensi sebagai sumber pangan, dengan mudahnya dikonversi menjadi permukiman, kawasan industri dan infrastruktur jalan. Cobalah tengok berapa ribu hektar lahan sawah yang hilang setiap tahun.
Jika per hektar mampu memberi makan 400 orang per tahun, maka kehilangan luas sawah identik dengan kehilangan sumber pangan puluhan ribu sampai jutaan orang per tahun. Sementara jumlah penduduk semakin meningkat.
Pokok kedua adalah, sumber air bersih semakin berkurang secara drastis. Lihatlah muka air tanah di sumur-sumur semakin turun seiring tahun, bisa 50cm sampai 1 meter per tahun. Lihat pula banyak mata air hilang karena kawasan hulu beralih fungsi dari hutan ke tanaman sayuran, permukiman dan peruntukan non tanaman lainnya.
“Tanpa disadari, banyak rumah menggantungkan air bersih dari air PDAM dan atau air mineral galon yang disuplai dari lokasi yang jauh, bahkan lain pulau. Pencemaran limbah industri dan limbah rumah tangga juga makin meluas, baik di kawasan permukiman maupun perairan sungai, danau, sampai laut,” bebernya.
Poin ketiga, banyaknya sumber pangan kita yang mulai hilang dari lingkungan sekitar, seperti makanan umbi-umbian dan buah-buahan. Tanpa disadari kita ternyamankan oleh produk pangan impor. Mungkin kita terlalu fokus pada beras (padi), sehingga kurang mengembangkan tanaman pangan lainnya, seperti sagu, jagung, ketela pohon, ketela rambat, dan lain sebagainya.
Poin ke empat, bahwa bangsa kita terkenal sangat hobby ‘nyampah’ dalam arti yang sebenarnya. Lihatnya banyak Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) penuh tanpa bisa mengelola dengan baik. Kebiasaan buruk membuang sampah tidak diikuti dengan upaya memilah, mereduksi dan memanfaatkan kembali sesuai konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Pada akhirnya timbunan sampah juga berdampak pada penyediaan pangan nasional, karena sampah bisa dibuang di sawah, saluran irigasi, dan lain-lain. Dan banyak lagi bentuk degradasi sumberdaya pangan yang dilakukan, baik secara sadar maupun tanpa sengaja.
Untuk itu perlu penyadaran segera oleh seluruh komponen bangsa, agar sedemikian rupa sehingga, swasembada pangan dapat diwujudkan dalam lingkup wilayah masing-masing berbasis desa atau kelurahan.
“Upaya perlindungan sawah (baca: Lahan Sawah Dilindungi) adalah harga mati, yang harus tetap dipertahankan, yaitu 3,89 juta hektar. Bahkan perlu ditambah dari potensi Luas Baku Sawah sebesar 7,4 juta hektar sawah,” tutur Kundarto,yang juga Pemerhati Lingkungan dan Tim Yuri Proklim Nasional.
Bagi masyarakat di kawasan permukiman padat, baik perkotaan maupun lainnya, perlu mengupayakan pemanfaatan pekarangan dengan budidaya tanaman sayuran dan buah-buahan, terutama yang bertajuk rendah. Artinya, kita perlu memanfaatkan setiap jengkal tanah untuk produksi pangan. Bahkan, kawasan industri dan perkantoran pun perlu memanfaatkan setiap ruang sela untuk produksi tanaman pangan, misalnya dengan vertikultur, rooftop gardening, hidroponik, dan sebagainya.
“Program swasembada pangan adalah kebutuhan paling asasi dalam pertahanan negara. Yuk kita mulai dari halaman rumah sendiri,” pungkasnya. (nun/ Kusnadi, KIM Berbah)












