News  

Niat, Tata Cara, Durasi, dan Hal yang Membatalkan Itikaf di Masjid

Ilustrasi niat, tata cara, dan hal yang membatalkan itikaf di masjid. (Freepik.com)

bernasnews – Memasuki fase paling istimewa dalam bulan suci Ramadhan, umat Islam di berbagai daerah mulai memadati masjid untuk melaksanakan iktikaf atau itikaf. Tradisi ibadah ini menjadi salah satu amalan yang banyak dilakukan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, karena diyakini sebagai waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus mencari keberkahan malam Lailatul Qadar.

Iktikaf pada dasarnya merupakan bentuk ibadah dengan cara berdiam diri di masjid sambil memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Allah SWT. Aktivitas ini dilakukan dengan meninggalkan sejenak kesibukan duniawi dan menggantinya dengan berbagai amalan seperti zikir, membaca Al-Qur’an, salat sunnah, hingga doa.

Secara hukum fikih, iktikaf termasuk ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Namun statusnya dapat berubah menjadi wajib apabila seseorang telah menazarkannya sebelumnya. Perintah untuk memakmurkan masjid melalui ibadah seperti ini bahkan disebutkan dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 125.

Bagi umat Islam yang ingin melaksanakan iktikaf, terdapat beberapa hal penting yang perlu dipahami agar ibadah tersebut sah serta memberikan pahala maksimal.

Bacaan Niat Iktikaf di Masjid

Langkah pertama dalam melaksanakan iktikaf adalah menanamkan niat di dalam hati. Niat menjadi syarat penting karena menjadi pembeda antara aktivitas biasa dengan ibadah.

Dalam Kitab Tuntunan Lengkap Tata Cara Salat Wajib dan Sunah, niat iktikaf dibedakan menjadi dua jenis, yakni iktikaf sunnah dan iktikaf yang dilakukan karena nazar.

Niat Iktikaf Sunnah

نَوَيْتُ الاِعْتِكَافَ فِي هذَا المَسْجِدِ لِلّهِ تَعَالَى
Nawaitul i’tikaafa fi haadzal masjidi lillaahi ta’aalaa

Artinya:
“Saya berniat iktikaf di masjid ini karena Allah SWT.”

Niat Itikaf karena Nazar

نَوَيْتُ الاِعْتِكَافَ فِي هذَا المَسْجِدِ (…) فَرْضًا لِلّهِ تَعَالَى

Nawaitul i’tikaafa fii haadzal masjidi (sebutkan jumlah hari yang dinazarkan) fardhan lillaahi ta’aalaa

Artinya:

“Saya niat itikaf di masjid ini (sejumlah hari dinazarkan) fardhu karena Allah SWT.”

Niat tersebut dapat diucapkan ketika seseorang memasuki masjid untuk memulai iktikaf.

Tata Cara dan Amalan Selama Iktikaf

Iktikaf bukan sekadar menginap atau beristirahat di dalam masjid. Ada sejumlah adab serta aktivitas ibadah yang dianjurkan selama menjalankannya.

Beberapa amalan yang biasanya dilakukan antara lain:

1. Menetap di dalam masjid

Orang yang beriktikaf dianjurkan tetap berada di area masjid selama waktu yang diniatkan. Tujuannya agar fokus ibadah tetap terjaga.

2. Memperbanyak ibadah

Waktu selama iktikaf sebaiknya diisi dengan berbagai amalan seperti zikir, salat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdoa, bertobat, hingga merenungi kebesaran Allah SWT.

3. Menghindari hal yang tidak bermanfaat

Saat menjalankan iktikaf, umat Islam dianjurkan menjauhkan diri dari pembicaraan yang tidak penting atau aktivitas yang melalaikan, termasuk penggunaan gawai secara berlebihan.

4. Membaca doa utama

Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika mencari malam Lailatul Qadar adalah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Latin: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwan fa’fu ‘anni

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku.”

Selain itu, berbagai bentuk ketaatan seperti bershalawat, membaca hadis, serta mempelajari ilmu agama juga termasuk amalan yang dianjurkan selama iktikaf.

Berapa Lama Durasi Iktikaf?

Durasi iktikaf sering menjadi pertanyaan bagi sebagian orang, terutama bagi mereka yang baru pertama kali melaksanakannya.

Dalam kitab Al Wajiz fi Fiqh As Sunnah karya As Sayyid Sabiq disebutkan bahwa tidak ada batasan waktu yang benar-benar baku mengenai lamanya iktikaf.

Para ulama memiliki pandangan berbeda mengenai durasi minimal ibadah ini.

Mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali berpendapat bahwa durasi minimal iktikaf adalah sa’ah atau sesaat. Artinya, seseorang yang berdiam diri di masjid selama beberapa waktu dengan niat iktikaf sudah dianggap sah.

Mazhab Maliki memiliki pandangan berbeda dengan mensyaratkan waktu minimal sehari semalam penuh, dimulai sejak matahari terbenam hingga terbenam kembali pada hari berikutnya.

Meski demikian, umat Islam dianjurkan memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan memperbanyak ibadah di masjid untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar.

Apabila seseorang keluar dari masjid untuk keperluan mendesak seperti buang hajat atau makan, ia diperbolehkan melakukannya. Namun saat kembali ke masjid, niat iktikaf sebaiknya diperbarui.

Hal yang Dibolehkan Saat Itikaf

Beberapa aktivitas masih diperbolehkan selama menjalankan itikaf, antara lain:

  • Keluar dari masjid untuk kebutuhan mendesak seperti makan atau buang hajat

  • Mengeluarkan sebagian anggota tubuh dari area masjid

  • Makan, minum, tidur, dan berbicara

  • Berwudhu di dalam masjid

  • Melakukan muamalah selain jual beli

  • Menggunakan minyak rambut atau parfum

Hal-hal tersebut tidak membatalkan iktikaf selama dilakukan dalam batas kewajaran.

Hal-Hal yang Membatalkan Iktikaf

Ada beberapa perbuatan yang dapat membatalkan iktikaf sehingga perlu dihindari. Di antaranya:

  1. Hubungan biologis suami istri dan segala pengantarnya

  2. Keluar dari masjid tanpa kebutuhan yang jelas

  3. Bagi wanita, datangnya haid atau nifas

  4. Hilang akal seperti gila atau mabuk

Jika salah satu hal tersebut terjadi, maka itikaf dianggap batal.

Tempat dan Waktu Pelaksanaan Itikaf

Menurut penjelasan Ustad Ammi Nur Baits dalam bukunya, iktikaf dilakukan di masjid yang digunakan untuk salat berjamaah, meskipun tidak digunakan untuk salat Jumat seperti musala.

Sementara itu, waktu yang dianjurkan untuk memulai iktikaf adalah pada malam tanggal 21 Ramadhan setelah magrib. Setelah itu, seseorang dapat memasuki tempat khusus atau area yang disediakan untuk iktikaf setelah salat Subuh pada hari tersebut.

Ustad Muhammad Abduh Tuasikal melalui laman Rumaysho juga menjelaskan bahwa selama iktikaf seseorang dianjurkan menyibukkan diri dengan berbagai bentuk ketaatan seperti doa, dzikir, bershalawat, mempelajari Al-Quran, serta mengkaji hadis. Sebaliknya, kegiatan yang tidak memberikan manfaat sebaiknya ditinggalkan.

Menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan itikaf menjadi kesempatan berharga bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Dengan niat yang tulus dan amalan yang konsisten, diharapkan setiap Muslim dapat meraih keberkahan serta kemuliaan malam Lailatul Qadar. (anp)