bernasnews — Guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga, khususnya sampah organik, agar dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai guna seperti kompos dan pupuk organik cair.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menginisiasi program GCOSO (Gerakan Cerdas Olah Sampah Organik), bertempat di Padukuhan Serang, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, DIY.
Melalui program tersebut, para mahasiswa KKN UNY berupaya memberikan edukasi sekaligus praktik langsung kepada masyarakat mengenai cara mengolah sampah organik secara sederhana di tingkat rumah tangga.
Pada kesempatan itu, mahasiswa KKN UNY mengemukakan, bahwa sampah merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan.
Sebagian besar sampah rumah tangga sebenarnya berupa sampah organik seperti sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan daun kering yang memiliki potensi besar untuk diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat.
Ketua kelompok KKN UNY, Marcelino Albertus Yosanta Woen menjelaskan, bahwa program GCOSO hadir sebagai solusi sederhana untuk membantu masyarakat mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan.
“Melalui GCOSO, kami ingin mengajak masyarakat untuk tidak lagi memandang sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan maupun pertanian,” jelas Marcelino, di sela-sela kegiatan, Kamis (5/2/2026).
Dikatakan, mahasiswa KKN UNY memberikan materi mengenai jenis-jenis sampah, dampak buruk sampah terhadap kesehatan dan lingkungan, serta pentingnya memilah sampah sejak dari rumah.
“Warga juga diajak memahami bahwa kebiasaan mengelola sampah dapat dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama yang membentuk perilaku peduli lingkungan,” ungkap Marcelino.
Selain penyampaian materi, mahasiswa KKN UNY juga mengajak masyarakat mengikuti praktik langsung pembuatan komposter sederhana menggunakan galon atau ember bekas. Komposter ini digunakan untuk mengolah sampah organik seperti sisa sayur, kulit buah, dan daun kering melalui proses fermentasi dengan bantuan aktivator seperti EM4 dan larutan molase.
Dalam praktik tersebut, warga diajarkan cara menyusun lapisan bahan kompos yang terdiri dari sampah kering sebagai sumber karbon, tanah, serta sampah basah sebagai sumber nitrogen.
Setelah disiram larutan aktivator, campuran tersebut kemudian disimpan di tempat teduh untuk proses fermentasi. Dalam waktu sekitar dua minggu dapat dihasilkan pupuk organik cair, sementara kompos padat dapat diperoleh setelah sekitar empat minggu.
Tidak hanya berhenti pada tahap pengolahan, mahasiswa KKN UNY juga memberikan edukasi mengenai potensi ekonomi dari produk kompos yang dihasilkan. “Kompos dapat dimanfaatkan untuk pertanian, tanaman pekarangan, maupun tanaman hias yang banyak dimiliki warga desa,” pungkas Marcelino.
Program GCOSO yang diinisiasi mahasiswa KKN UNY tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat desa. (*/ ted)












