bernasnews – Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat enam kasus leptospirosis pada dua bulan pertama tahun 2026. Penyakit zoonosis tersebut kembali muncul seiring meningkatnya curah hujan yang memicu genangan air dan kondisi lingkungan yang lembap.
Data tersebut disampaikan Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu, pada Selasa, 3 Maret 2026.
Ia menyebut leptospirosis merupakan penyakit yang hampir setiap tahun muncul di wilayah tersebut.
“Ya, selalu ada tiap tahun. Istilahnya endemis. Tidak tinggi, tetapi tetap harus diwaspadai,” ujar Endang.
Tren Kasus Leptospirosis di Yogyakarta
Dinas Kesehatan mencatat kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Dinkes Kota Yogyakarta, pada tahun 2023 tercatat 11 kasus leptospirosis. Jumlah tersebut menurun pada 2024 menjadi 9 kasus.
Pada 2025, jumlah kasus kembali meningkat menjadi 14 kasus. Sementara itu, pada periode Januari hingga Februari 2026 sudah ditemukan enam kasus.
Angka tersebut menunjukkan bahwa dalam waktu dua bulan saja jumlah kasus sudah mendekati setengah dari total kasus sepanjang tahun 2025.
Meski demikian, Dinas Kesehatan memastikan seluruh pasien yang terdeteksi pada awal tahun ini telah mendapatkan penanganan medis.
“Enam kasus yang ditemukan tahun ini merupakan warga yang berdomisili di Kota Yogyakarta. Semua pasien sudah dirawat dan dilaporkan sembuh,” jelas Endang.
Faktor Risiko dari Lingkungan Bertikus
Dinas Kesehatan menemukan sebagian besar kasus terjadi di lingkungan yang memiliki populasi tikus. Tikus diketahui menjadi pembawa utama bakteri penyebab leptospirosis.
Namun Endang menegaskan bahwa penularan penyakit ini tidak selalu terjadi di dalam rumah.
“Kasus memang ditemukan di lingkungan yang terdapat tikus. Tetapi penularan tidak semata-mata terjadi di rumah,” ujarnya.
Menurutnya, sejumlah aktivitas di luar rumah justru memiliki risiko lebih besar terhadap paparan bakteri.
Beberapa lokasi yang berpotensi menjadi tempat penularan antara lain pasar tradisional, sungai, sawah, selokan, serta area yang memiliki genangan air kotor.
Di lokasi tersebut, seseorang dapat terpapar air atau benda yang telah terkontaminasi bakteri.
Penularan Melalui Bakteri Leptospira
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang umumnya berasal dari urine tikus yang terinfeksi.
Bakteri tersebut dapat masuk ke tubuh manusia melalui beberapa jalur, seperti luka terbuka pada kulit maupun melalui selaput lendir pada mata, hidung, mulut, dan telinga.
Penularan juga dapat terjadi melalui air, makanan, minuman, atau benda yang telah terkontaminasi bakteri.
Lingkungan yang lembap dan kotor memungkinkan bakteri bertahan lebih lama, terutama pada genangan air atau lumpur.
Gejala Sering Dianggap Penyakit Ringan
Dinas Kesehatan menyebut gejala awal leptospirosis sering dianggap sebagai penyakit ringan sehingga banyak penderita terlambat memeriksakan diri.
Beberapa gejala yang umum muncul antara lain demam ringan sekitar 37 hingga 38 derajat Celsius, pusing, nyeri otot, serta nyeri khas pada bagian betis.
Selain itu, penderita juga dapat mengalami mata merah atau kekuningan serta penurunan jumlah urine.
“Demamnya biasanya tidak terlalu tinggi, sekitar 37–38 derajat, tetapi nyeri betis itu khas. Kalau ada gejala seperti itu, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” kata Endang.
Jika tidak ditangani secara cepat, leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan menyerang organ penting seperti hati, ginjal, dan paru-paru.
Musim Hujan Tingkatkan Risiko Penularan
Musim hujan yang masih berlangsung di wilayah Yogyakarta dinilai dapat meningkatkan potensi penyebaran leptospirosis.
Genangan air dan kondisi lingkungan yang lembap menciptakan tempat yang mendukung pertumbuhan bakteri serta meningkatkan populasi tikus.
Selain itu, tumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi tempat berkembang biak hewan pengerat tersebut.
Karena itu, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Upaya Pencegahan
Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat menerapkan sejumlah langkah pencegahan untuk menekan risiko penularan leptospirosis.
Langkah tersebut antara lain membersihkan lingkungan secara rutin dan tidak menumpuk sampah di sekitar rumah.
Masyarakat juga disarankan menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan ketika membersihkan selokan atau area yang berpotensi terkontaminasi.
Selain itu, masyarakat dianjurkan segera mandi menggunakan sabun setelah terpapar air banjir atau air kotor.
Luka terbuka juga perlu ditutup dengan baik agar tidak menjadi pintu masuk bakteri.
Endang menegaskan bahwa langkah pencegahan tersebut memerlukan kesadaran bersama dari masyarakat.
“Intinya tetap waspada, jaga kebersihan, dan terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Itu yang paling penting,” ujarnya. (Eln)












