News  

Breaking News! Try Sutrisno Wapres ke-6 RI Meninggal Dunia di Usia 91 Tahun, Karena Apa?

Kabar duka, Wapres ke 6 RI Try Sutrisno meninggal dunia hari ini. (dok. Biro Pers Sekretariat Presiden)

bernasnews – Kabar duka datang dari dunia politik dan militer Indonesia. Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggal dunia pada pagi hari ini.

Tokoh yang dikenal sebagai Jenderal TNI (Purn) tersebut mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

Informasi resmi yang diterima menyebutkan bahwa Try Sutrisno wafat pada pukul 06.58 WIB. Hingga berita ini disampaikan, pihak keluarga maupun rumah sakit belum merinci penyebab meninggalnya almarhum. Rencana pemakaman juga masih menunggu pengumuman lebih lanjut dari keluarga.

Meninggal di RSPAD Gatot Subroto, Ini Kronologinya

Kabar wafatnya mantan orang nomor dua di Indonesia ini dibenarkan oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi. Ia memastikan bahwa Try Sutrisno memang meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto.

Jenazah almarhum akan dimandikan terlebih dahulu di rumah duka RSPAD sebelum dibawa ke kediamannya di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat. Di sanalah keluarga, kerabat, serta para tokoh bangsa akan memberikan penghormatan terakhir.

Mensesneg juga menyampaikan bahwa sejak mendapatkan kabar kondisi Try Sutrisno menurun, pihaknya telah meminta rumah sakit memberikan perhatian dan perawatan terbaik.

Profil Try Sutrisno: Lahir dari Keluarga Sederhana

Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana yang membentuk karakter disiplin dan pekerja keras sejak dini.

Ketertarikannya pada dunia militer sudah terlihat sejak usia muda. Pilihan hidup tersebut membawanya masuk ke jajaran TNI Angkatan Darat dan mengawali perjalanan panjang yang kelak mengantarkannya ke puncak karier militer nasional.

Awal Karier Militer: Dari PRRI hingga Jabatan Strategis

Perjalanan militernya dimulai pada masa penumpasan pemberontakan PRRI tahun 1957. Pengalaman lapangan tersebut menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter kepemimpinannya.

Seiring berjalannya waktu, Try Sutrisno dipercaya menduduki berbagai posisi strategis di tubuh TNI AD. Pada 1978, ia menjabat sebagai Kepala Staf Kodam XVI/Udayana. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Panglima Kodam IV/Sriwijaya.

Kariernya terus menanjak. Tahun 1985, ia dipercaya sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Setahun berselang, ia resmi menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) untuk periode 1986–1988.

Saat menjadi KSAD, ia menggagas pembentukan Badan Tabungan Wajib Perumahan TNI AD sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan prajurit sebuah kebijakan yang menunjukkan perhatiannya terhadap kondisi internal angkatan darat.

Puncak Karier: Panglima ABRI

Karier militer Try Sutrisno mencapai puncaknya ketika ia dipercaya menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada 1988–1993. Dalam periode tersebut, ia menghadapi berbagai tantangan keamanan nasional.

Salah satu isu besar yang mencuat pada masa itu adalah penanganan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) di Aceh pada 1989. Stabilitas nasional menjadi fokus utama pemerintah di tengah dinamika politik dan keamanan yang berkembang.

Pengalaman panjangnya di bidang pertahanan dan keamanan inilah yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai tokoh strategis dalam pemerintahan.

Kepergian Try Sutrisno bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Ia merupakan salah satu figur sentral dalam dinamika pemerintahan era Orde Baru, khususnya saat mendampingi Presiden Soeharto sebagai Wakil Presiden periode 1993-1998.

Meski jabatan wakil presiden kerap dianggap sebagai posisi pendamping, latar belakang militer dan pengalaman panjangnya membuat Try Sutrisno tetap menjadi figur yang diperhitungkan dalam lingkaran pemerintahan saat itu.

Menjadi Wakil Presiden ke-6 RI

Pada 1993, Try Sutrisno diangkat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia keenam, mendampingi Presiden Soeharto. Ia mengemban amanah tersebut hingga 1998, menjelang berakhirnya era Orde Baru.

Sebelumnya, ia juga pernah bertugas sebagai ajudan Presiden Soeharto selama empat tahun. Kedekatan tersebut memberinya pengalaman langsung dalam memahami tata kelola pemerintahan dan dinamika politik nasional.

Meski masa jabatannya berakhir seiring perubahan besar dalam sejarah Indonesia pada 1998, namanya tetap tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan bangsa.

Aktivitas Pasca Menjabat Wapres

Setelah tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden, Try Sutrisno tetap aktif di berbagai organisasi. Ia dipercaya menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) periode 1998–2003.

Dalam peran tersebut, ia berupaya menyatukan berbagai unsur purnawirawan dari beragam matra dalam satu wadah organisasi. Kepemimpinannya dikenal mampu membangun soliditas dan menjaga komunikasi antarpurnawirawan.

Selain itu, ia juga pernah menjadi sesepuh di Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, menunjukkan bahwa pengabdiannya terhadap bangsa tidak berhenti setelah pensiun dari jabatan kenegaraan.

Kehidupan Pribadi dan Sosok Bersahaja

Di balik karier panjangnya sebagai jenderal dan pejabat tinggi negara, Try Sutrisno dikenal sebagai pribadi yang menjunjung tinggi nilai keluarga. Ia menikah dengan Tuti Sutiawati dan dikaruniai tujuh orang anak.

Sebagai sosok yang besar di era Orde Baru, ia dikenal tegas dan disegani. Namun, banyak kalangan juga mengenalnya sebagai pribadi yang bersahaja dan memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan prajurit.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab wafatnya Try Sutrisno. Ia meninggal dunia di usia 91 tahun.  Pihak keluarga juga belum menyampaikan lokasi pemakaman secara detail.

Publik kini menanti informasi lanjutan terkait prosesi penghormatan terakhir bagi Wakil Presiden ke-6 RI tersebut. Kepergian Try Sutrisno menutup satu bab penting dalam sejarah militer dan politik Indonesia. Namanya akan selalu tercatat sebagai bagian dari perjalanan panjang bangsa ini, dari medan operasi militer hingga kursi kepemimpinan nasional. (anp)