bernasnews – Sastra Bulan Purnama (SBP) kembali bekerja sama Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar bedah naskah cerita pendek karya perempuan penulis di Ruang Sutan Takdir Alisyahbana Balai Bahasa DIY, Rabu (25/2/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari proses kurasi menuju penerbitan buku antologi Perempuan Purnama yang akan diterbitkan SBP.
Dalam kegiatan tersebut, SBP dan Balai Bahasa DIY menghadirkan dua editor senior: Herry Mardianto dan Latief Noor Rochmans untuk mengampu sekaligus memberikan evaluasi terhadap naskah yang masuk seleksi.
Pertanyaan “berapa pendek cerita pendek?” menjadi pintu masuk diskusi sore itu. Herry Mardianto, pembina sastra dan editor senior, menyampaikan bahwa pada dasarnya tidak ada batasan baku mengenai panjang pendek cerpen. “Namun media memiliki kebijakan masing-masing terkait jumlah kata,” ujarnya.
Latief Noor Rochmans menambahkan, untuk media massa, cerpen umumnya dibatasi sekitar 550–600 kata. Sementara untuk buku antologi, panjang cerpen dapat berkisar antara 1.000 hingga 4.000 kata.
Kedua narasumber menekankan pentingnya ketelitian bahasa. Penulis, menurut mereka, harus setia pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memperhatikan ejaan serta tanda baca agar naskah yang sampai di meja editor sudah bersih dari kesalahan teknis. Latief juga mengingatkan kembali materi yang kerap ia sampaikan dalam workshop sebelumnya, bahwa judul harus menarik, cerita logis, dan memiliki visi jelas.
Dalam sesi kurasi, tiga naskah cerpen dibedah secara terbuka. Cerpen PHK karya Fadmi Sustiwi dinilai matang meskipun tetap memerlukan penyempurnaan. Cerpen Kedasih karya Ika Zardi dinilai memiliki kekuatan gagasan, namun terlalu padat informasi sehingga ruang imajinasi pembaca menjadi terbatas. Cerpen Senyum yang Tidak Dipamerkan karya Atiek Mariati disebut memiliki tema kuat, tetapi perlu diperpanjang agar memenuhi kriteria dimasukkan dalam buku antologi.
Secara umum, ketiga naskah cerpen tersebut masih ditemukan kesalahan penulisan kata yang belum sesuai KBBI, sehingga menjadi catatan penting dalam proses revisi.
Selain tiga naskah utama, seorang peserta dari Magelang, Ummi Azzura Wijana, turut menunjukkan karyanya untuk mendapatkan masukan langsung. Kedua editor menilai cerpen tersebut relevan dengan momentum Ramadan dan berpeluang dimuat di salah satu media di Yogyakarta.
Dari pemaparan kedua narasumber, peserta memperoleh pemahaman mengenai unsur-unsur penting dalam penulisan cerpen, mulai dari kekuatan tema, alur yang terstruktur, hingga pentingnya kalimat yang efektif dan bernas.
Herry menekankan, bagian akhir cerpen harus meninggalkan “gema”, membuka ruang tafsir dan perenungan bagi pembaca.
Dua penulis senior yang turut hadir juga membagikan pengalaman kreatif mereka. Margaret Widhi Pratiwi mendorong penulis untuk terus memperkaya bacaan sebagai sumber inspirasi dan cara mengasah imajinasi.
Sementara Ninuk Retno Raras berbagi pengalaman sebagai pembaca aktif sejak muda, serta menyebut sejumlah karya sastra klasik yang membentuk kepekaan estetik dan daya narasinya.
Acara dibuka ini oleh Koordinator SBP Ons Untoro, dan dimoderatori Joshua Igho. Dalam penutupan, moderator menyampaikan harapan sekaligus tantangan bagi para peserta untuk menulis cerpen sesuai tema pilihan SBP sebagai bagian dari proses kreatif.
Kegiatan yang berlangsung pukul 15.30 hingga 17.50 WIB tersebut diakhiri dengan sesi foto bersama dan buka puasa dengan menu potluck yang diikuti semua peserta. (mar/Atiek Mariati, Penulis tinggal di Kulon Progo, DIY)











