News  

Arsip Pustaka “Wartawan-Wartawan Berkisah” : Mata Air Inspirasi Insan Pers

bernasnews – Proklamator kita Ir. Soekarno pernah mengatakan, “Lebih dulu nasionalis, baru kemudian wartawan.” Hal itu diungkapkan oleh wartawan senior Soebagijo I.N. dalam bukunya bertajuk “Jagat Wartawan” (PT Gunung Agung Jakarta, 1981).

Pernyataan itu memberikan makna bahwa wartawan (pada masanya) adalah seorang nasionalis. Pribadi dan profesi yang mencintai bangsa dan Negaranya. Oleh karenanya, ketika wartawan itu nasionalis serta patuh pada Undang-Undang Pers, Kode Etik Wartawan Indoensia, dan sekian aturan etika maupun etiket lainnya, maka mereka akan menjalankan tugas jurnalistik dengan benar dan baik.

Di balik gemuruh berputarnya roda industri pers, terdapat kekayaan nuyansa romantika perjalanan para wartawan. Buku bertajuk “Wartawan-Wartawan Berkisah” dengan editor Y.B. Margantoro (Harian BERNAS dan Media Pressindo, 2001) ini berisi penuturan para wartawan media (cetak) itu seputar realitas keseharian yang mereka hadapi.

Selain bertutur tentang tuntutan profesi jurnalistik yang penuh tekanan, mereka juga berbicara mengenai integritas dan moralitas. Tidak jarang para wartawan bertaruh nyawa untuk menegakkannya.

Teori adalah pondasi. Pengalaman bersifat memperkaya . Kumpulan kisah jurnalistik 25 orang wartawan yang tersaji dalam buku setebal 152 halaman ini kiranya dapat menjadi mata air inspirasi bagi insan pers, calon-calon wartawan di masa depan, pengelola indusatri media, para pejuang demkrasi, dan siapa pun yang berminat pada pers sebagai “the fourth estate”.

Membaca ulang buku yang telah berusia 25 tahun ini terasa pas di saat bulan Februari, di mana ada momentum Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari. Meski untuk menbaca buku apa pun yang menambah wawasan, inspirasi dan motivasi tidak harus menanti momentum tertentu. Sebaiknya membaca dilakukan secara rutin, dan syukur dilanjutkan menulis secara rutin pula.

Kedua puluh lima wartawan dan judul tulisan mereka adalah sebagai berikut : Agung Hartono, Fl (Diplototi, Macet 3 Kali dan Dipanggil Hartawan), Ali Subchi (Wartawan Peliput Pemilu Tak Berani Pulang), Ari Kristiyono (Gilang Diculik, Saya Diteror), Arie Gijarto, Hj (Berjumpa Kusni Kasdut di LP Cipinang), Bambang Margantoro, Y (Dimulai dengan Pertanyaan Bodoh), Baskoro Muncar (Perdamaian Jauh Lebih Baik Ketimbang Perang), Bekti Maharani (Pelajaran tentang Menghargai Kehidupan), Dedi H. Purwadi (Ketika Merapi Meletus), Ida Tungga Gautama (Tulisan tentang Batik Mengantar Jadi Juara), Idy Muzayyad (Mewawancarai Kiai Gampang-gampang Susah).

Kemudian Nanang W. Hartono (Terima Kasih, Nasiihat Ibu Menyelamatkan Jiwaku), Nila Hastuti (Takutnya Meliput Kerusuhan di Delanggu), Nyoman Wiriadinata (Necis di Lokasi dan Kapok Liputan Mercon), Prasetyo (Disapa Pak Guru GEMA), Purwoko, A (Kenyang Gas Air Mata, Hingga Nyaris Injak Batok Kepala), Ribut Raharjo (Aku Sempat Dicap Provokator Oleh Ayah Temanku), Shanti Hapsari (Dari Anak Rumahan Menjadi Perempuan Malam), Subadhi, HR (Profesi Wartawan, Menantang dan Mengasyikkan), Sudarto (Demi Berita Besar, Nyawa Nyaris Melayang), Suhamdani (Menelusuri Isu Bayi Hilang).

Selanjutnya, Sulaiman Ismail, H (Selalu Siap Menghadapi Aparat), Suryanto Sastroatmodjo, KRT (Sang Jurnalis : Yang Bergelut di Kancah Zaman), Toto Sugiarto, R (Pak Gepung di Tobong Ketropraknya), Wisnu Wardhana, B (Bertmu Gus Dur Malah Bingung), dan Yoes Sachri (Main Jeprat-jepret, Film Tidak “Muter”). Setiap tulisan dalam buku ini diberi ilustrasi yang menarik oleh Praba Pangripta.

Menurut editor buku, penerbitan buku ini diilhami dari buku bertajuk “Wartawan-Wartawan Berbitjara”, sebuah buku lama yang memuat konsepsi, rumusan dan falsafah-falsafah 35 orang tokoh terkemuka persuratkabaran Amerika Serikat. Satu diantara tokoh pers itu adalah Joseph Pulitzer, lahir di Hongaria 10 April 1847 dan meninggal pada 29 Oktober 1911. Dia mengadakan hadiah Pulitzer untuk prestasi di bidang jurnalistik, sastra, ilmu dan musik.

Dari 25 penulis buku “Wartawan-Waratwan Berkisah” sebagian telah tiada, sebagian masih aktif di bidang jurnalistik, dan yang lain tetap mencintai kepenulisan. Kisah-kisah mereka sungguh menyentuh, khas dan mewariskan nilai-nilai keutamaan hidup.

Secara umum, banyak wartawan yang memiliki komitmen harus bekerja di tengah masyarakat, di lapangan dan bukan di belakang meja. Wartawan-wartawan demikian boleh jadi selama kariernya tidak memiliki jabatan struktural. Meski sesungguhnya posisi itu terbuka lebar bagi mereka, wartawan umumnya lebih suka langsung berada di kancah peristiwa, sekalipun hal itu mengandung bahaya. (mar/Pustaka bernasnews)