bernasnews – Bulan Ramadan 2026 akan dihiasi fenomena langit yang menarik perhatian umat Muslim, yakni gerhana Bulan total pada 3 Maret 2026. Peristiwa ini dipastikan dapat diamati dari berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam Almanak 2026, puncak gerhana terjadi pada pukul 18.34.52 WIB. Fenomena ini bukan sekadar peristiwa astronomi biasa, melainkan sering dikaitkan dengan berbagai mitos, terutama ketika terjadi di bulan suci Ramadan.
Lalu, benarkah gerhana Bulan di bulan Ramadan merupakan tanda kiamat menurut Islam? Ataukah hanya kesalahpahaman yang terus berkembang di masyarakat?
Apa Itu Gerhana Bulan? Penjelasan Ilmiahnya
Secara ilmiah, gerhana Bulan terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Dalam kondisi ini, cahaya Matahari yang seharusnya dipantulkan Bulan ke Bumi terhalang oleh bayangan Bumi.
Mengutip penjelasan dari laman resmi UMS, gerhana Bulan terjadi ketika susunan Matahari–Bumi–Bulan sejajar sehingga Bulan masuk ke dalam bayangan Bumi. Akibatnya, Bulan tampak meredup, bahkan berwarna kemerahan saat fase total.
Sebaliknya, gerhana Matahari terjadi ketika posisi Matahari–Bulan–Bumi segaris lurus, sehingga cahaya Matahari tertutup oleh Bulan dalam pandangan dari Bumi.
Dengan kata lain, gerhana adalah fenomena astronomi yang sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah dan bukan kejadian mistis.
Mitos Gerhana Bulan dalam Kepercayaan Jawa
Dalam tradisi masyarakat Jawa, gerhana Bulan sering dikaitkan dengan kisah mitologis Batara Kala. Konon, saat gerhana terjadi, Batara Kala sedang memakan Bulan. Setelah “dimuntahkan” kembali, Bulan pun muncul dan bersinar seperti biasa.
Malam yang gelap akibat tertutupnya cahaya Bulan memang memunculkan rasa takut pada masa lalu. Minimnya pengetahuan astronomi membuat masyarakat membangun narasi simbolik untuk menjelaskan apa yang mereka lihat di langit.
Mitos-mitos semacam ini bertahan turun-temurun, meskipun kini ilmu pengetahuan telah mampu menjelaskan mekanisme gerhana secara detail.
Pandangan Islam Tentang Gerhana Bulan
Dalam Islam, gerhana tidak pernah dikaitkan dengan kesialan, kematian tokoh besar, atau pertanda bencana tertentu. Hal ini ditegaskan dalam hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Artinya:
“Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, sholatlah, dan bersedekahlah.”
Hadis ini disampaikan Nabi Muhammad SAW ketika putra beliau, Ibrahim bin Muhammad, wafat bertepatan dengan gerhana Matahari. Sebagian orang saat itu mengira gerhana terjadi karena kematian sang putra. Untuk meluruskan pemahaman tersebut, Nabi SAW menegaskan bahwa gerhana adalah tanda kebesaran Allah, bukan pertanda kematian seseorang.
Penjelasan ini juga dipertegas oleh Muhammadiyah melalui berbagai kajian keislaman yang menyebutkan bahwa gerhana adalah fenomena alam biasa yang menjadi ayat (tanda) kekuasaan Allah SWT.
Amalan yang Dianjurkan Saat Gerhana di Bulan Ramadan
Alih-alih mempercayai mitos, Islam justru mengajarkan respons spiritual saat terjadi gerhana.
Dalam hadis lain riwayat Bukhari dari Aisyah disebutkan:
فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Artinya:
“Jika kalian melihat itu (gerhana), maka berdoalah kepada Allah, bertakbir, sholat, dan bersedekahlah.”
Beberapa amalan yang disunnahkan antara lain:
- Melaksanakan Sholat Gerhana (Sholat Khusuf untuk gerhana Bulan)
- Memperbanyak doa dan istighfar
- Bertakbir dan berdzikir
- Bersedekah
Apabila gerhana terjadi di bulan Ramadan, tentu momentum ibadah menjadi semakin istimewa karena berada dalam bulan penuh keberkahan.
Jadwal Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berikut fase lengkap gerhana Bulan total 3 Maret 2026 (WIB):
- Gerhana Penumbra mulai (P1): 15.44.22 WIB
- Gerhana Sebagian mulai (U1): 16.50.00 WIB
- Gerhana Total mulai (U2): 18.04.26 WIB
- Puncak Gerhana (MID): 18.34.52 WIB
- Gerhana Total berakhir (U3): 19.02.45 WIB
- Gerhana Sebagian berakhir (U4): 20.17.10 WIB
- Gerhana Penumbra berakhir (P4): 21.22.59 WIB
Gerhana ini dapat disaksikan dari Indonesia, Amerika, Australia, serta kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Tengah.
Mitos gerhana Bulan di bulan Ramadan sebagai tanda kiamat tidak memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Islam justru memandang gerhana sebagai fenomena alam yang menunjukkan kebesaran Allah SWT.
Alih-alih merasa takut berlebihan, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah saat gerhana terjadi. Terlebih jika berlangsung di bulan Ramadan, momen ini menjadi kesempatan memperdalam spiritualitas dan meningkatkan ketakwaan.
Dengan pemahaman yang benar, masyarakat tidak lagi terjebak dalam mitos, tetapi mampu melihat gerhana sebagai perpaduan antara keindahan sains dan kebesaran Sang Pencipta. (anp)












