News  

Kepemimpinan GKJ : Tetap Setia kepada Allah dan Jawab Tantangan Zaman

bernasnews – Dalam perspektif teologi Kristen, kemimpinan gerejawi tidak dapat dilepaskan dari pemahaman tentang gereja sebagai ekklesia – umat yang dipanggil keluar untuk mengambil bagian dalam karya Allah di dunia. Kepemimpinan yang diharapkan adalah bagaimana kepemimpinan gereja tetap setia kepada Allah sambil menjawab tantangan zaman secara bertanggung jawab.

Demiikian ungkap Sekretaris Badan Pelaksana Sinode XXIX Gereja-Gereja Kristen Jawa (GKJ) Pdt. Anugrah Kristian dalam sambutan pada buku “Kepimpinan GKJ di Era Disrupsi” berkenaan 95 Tahun GKJ pada tanggal 17 Februari 2026. Selain Pdt Anugrah, memberikan sambutan pula dalam buku setebal 274 halaman ini, Badan Pelaksana Klasis XXXIII Yogyakarta Utara GKJ Pdt. Apy Heny Hartiningsih, S.Si (Teol), M.Min., dan Pnt Novita Sari, serta Ketua STAK Marturia Yogyakarta Dr. Andreas Kristianto, M.Fil.

Buku yang diterbitkan Yayasan Taman Pustaka Kristen Yogyakarta dan STAK Marturia Yogyakarta ini berisi kumpulan artikel dari 17 penulis dengan latar belakang beragam. Mereka adalah Pdt Simon Rachmadi, Ph.D., Dr. Martinus Joko Lelono, Pr. M.Hum., Dr. Andreas Kristianto, M.Fil., Pdt. Dr. Tri Ratno Wahono, MTh., Pdt. Sundoyo, S.Si.,MBA, Pdt. Aan Priyadi, M.Fil., Pdt. Wisnu Sapto Nugroho S.Si., S.H., M.Min,. M.H., Pdt Hery Windarta, M.Si., Pdt. Dr. Seno Adhi Noegroho, M.Si.

Kemudian Dr. Sri Sulastri, M.Pd., Pdt Mike Makahenggang, S.Si., MAPS., Okti Pertiwi, M.Pd., Atun Pratiwi, M.PdK., Pulung Sriyono Sanyoto, S.Pd., M.Fil., Pdt Andono Pawoko, MS.i, Pdt Kristi,. S.Si., M.A., dan Pdt. Lusindo Yosep Lumban Tobing, M.Th.

PEMIMPIN SEKOLAH YANG BAIK
Direktur Magister Pendidikan Agama Kristen di STAK Marturia Yogyakarta Dr Sri Sulastri, MPd. dalam makalahnya mengemukakan, pimpinan sekolah menjadi penentu keberlangsungan sekolah. Pemimpin sekolah yang baik akan membuat sekolahnya baik. Baik dalam hal ini adalah pemimpin yang memiliki kecakapan, kemampuan dalam menjalankan tugasnya yang disebut sebagai “ability”, sehingga dapat mengembangkan pikiran kritis. Mampu adaptif dalam situasi apapun dan inovatif dalam mengatasi perubahan yang serba dinamis.

Perubahan secara fundamental dengan perubahan tatanan lama menjadi tatanan baru yang sering disebut disrupsi. Inovasi yang cepat dengan menggantikan metode kuna dengan teknologi diguital yang lebih efisien dan praktis.

Segala aspek keghidupan pun berubah dengan cepat. Sudah barang tentu sekolah harus mengikuti dan mampu menjawab tantangan era ini. Pimpinan yang berkutat pada model konvensional akan terseok-seok yang pada akhirnya akan mengakhiri operasional sekolah.

Menurut Sulastri yang juga menjabat Direktur Pelaksana Yayasan Pendidikan BOPKRI ini, ketidakmampuan pemimpin sekolah dalam mengelola sehingga berdampak pada menurunnya mutu sekolah, menurunnya jumlah siswa, terbatasnya SDM apalagi biaya dan sarana pembelajaran. Untuk itu dibutuhkan pemimpin sekolah yang mampu beradaptasi dengan perubahan dan berinovasi dalam pengelolaan sekolah. Selain itu juga meningkatkan kapasitas SDM, meningkatkan mutu daya saing sekolah, menciptakan kurikulum kontekstual dan berkelanjutan serta memperkuat tata nilai.

Harapannya, sekolah akan menghasilkan lulusan yang kritis, inovatif, namun mampu mengimplementasikan tata nilai Kristiani yang membentuk karakter Kristen. (mar)