Membaca Ulang Buku “Di Balik Tugas Kuli Tinta”

bernasnews – Bulan Februari masih menapak. Di antara aneka peristiwa dan peringatan, ada perayaan khusus bagi para wartawan yakni Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari. Pada momentum ini, para jurnalis merrefleksi diri atas karya dan perjuangannya dalam menyampaikan informasi, pendidikan, kritik sosial, dan hiburan.

Tentu kesempatan merefleksi diri tidak hanya pada satu hari momentum itu. Namun terbuka lebar pada setiap hari, bahkan setiap saat sebelum atau seusai melakukan sesuatu khususnya di bidang jurnalistik dan kemassmediaan.

Salah satu hal yang dapat dilakukan pada momentum HPN atau bulan Februari ini adalah membaca buku-buku pers, termasuk membaca ulang buku yang terbit puluhan tahun silam. Kali ini, kita baca ulang buku bertajuk “Di Balik Tugas Kuli Tinta”. Buku terbitan Sebelas Maret University Press dan Yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta (1994) ini ditulis oleh tiga wartawan yakni F.X. Koesworo, Y.B. Margantoro, dan Ronnie S. Viko.

Dick Hartoko dalam sekapur sirih mengemukakan, dalam masyarakant modern Pers merupakan suatu kekuatan sosial yang tak boleh diabaikan. Tidak hanya pemerintah dan rakyat lewat orpol dan ormasnya, dapat mengubah kemudi masyarakat, tetapi juga Pers. Jatuh dan naiknya seseorang sering disebabkan karena pengaruh dari Pers.

Itulah sebabnya, mengapa tidak hanya para produsen Pers, tetapi juga konsumennya harus tahu mengenai seluk beluk kekuataan sosial ini. Buku ini merupakan sebuah buku pintar yang perlu dimiliki dan diketahui isinya oleh para konsumen Pers yakni kita semua.

Selain Pemimpin Redaksi Majalah BASIS (kala itu) tersebut, memberikan prakata pula Konsultan Senior Sebelas Maret University Press H.J. Koesoemanto dan catatan tiga penulis.

Pertanyaan sederhana, mengapa kita perlu membaca ulang buku lawas, favorit atau yang berkesan bagi seseorang. Tentu jawaban atas pertanyaan dapat banyak, sesuai dengan pengalaman atau pendapat masing-masing. Namun satu hal yang dapat ditulis di sini adalah : hal itu dapat mengingatkan kembali masa atau peristiwa dan karya yang telah berlalu untuk direfleksikan di masa kini dan sejauh mana masih dapat memberikan makna.

Kalau membaca secara umum, tentu akan memberikan banyak manfaat. Diantaranya adalah menambah wawasan dan pengetahuan, menambah kosa kata, membantu melatih menulis dengan baik, meningkatkan kualitas memori, merupakan sarana rekreasi yang sehat dan menyenangkan, dan sebagainya.

ISI BUKU
Buku ini terdiri enam bab, daftar pustaka, indeks, glosari, dan lampiran-lampiran. Keenam bab itu adalah Pendahuluan, Sejarah Pers di Indonesia, Sistem Pers di Indonesia, Manajemen Pers Indonesia, Manajemen Redaksional, Kiat Menulis di Media Massa.

Untuk sejarah pers di Indonesia meliputi Periode pra 1945 : Perlawanan terhadap penjajah; Periode 1945 – 1949 : Mempertahankan kemerdekaan; Periode1950 – 1959 : Masa kemelut liberalisme; Periode 1960 – 1965 : Masa politik adalah panglima; Periode 1965 dan seterusnya. Kemudian tentang Persatuan Waratwan Indonesia (PWI), Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), Serikat Grafika Pers (SGP), Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI), Departemen Penerangan RI dan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP).

Tidak kalah pentingnya, ada sekitar 24 item tentang Undang-undang, Keppres, kesepakatan bersama, deklarasi wartawan Indonesia, sepuluh pedoman penulisan, kode etik jurnalistik, kode etik periklanan, kode etik perusahan pers, dan contoh-contoh tulisan.

Membaca ulang buku yang ditulis akhir Februari 1994 dan diterbitkan pada tahun yang sama ini memberikan referensi dan kilas balik dinamika pers di tanah air. Banyak hal yang sudah tidak ada lagi, dari apa yang ditulis itu, di masa sekarang. Seperti misalnya adanya Departemen Penerangan RI dan SIUPP.Betapa besar dan kuatnya peran lembaga dan aturan itu di masanya. Banyak media yang tumbang karena berbagai hal, bukan hanya karena lemah manajemen dan kalah dalam persaingan media, namun juga akibat aturan keras yang diterapkan kepada pers. Namun semua itu telah berlalu, menjadi sejarah dan kenangan.

Namun di luar itu, tentu masih ada hal yang dapat dipetik dari buku lawas ini. Antara lain tentang kiat menulis di media massa. Pertanyaan kita, sejauh mana minat membaca dan menulis warga masyarakat sekarang. Hal inilah yang semestinya menjadi perhatian, tantangan dan perjuangan para pihak, bukan hanya jurnalis dan pegiat literasi.

Di balik tugas kuli tinta kita bukan hanya dapat melihat wajah dan kondisi “kuli tinta” alias jurnalis, namun juga wajah masyarakat, Negara, masa depan, dan peradaban kita. (mar/Pustaka bernasnews)