News  

Kepemimpinan GKJ : Perkuat “Akar”, Kembangkan “Sayap”, dan Pentingnya Hening

Suasana talkshow Kepemimpinan GKJ dengan pembicara dari Romo Joko lelono (kiri), dan Pdt. Simon Rachmadi (kanan) di kampus STAK Marturia, Sleman, Yoigyakarta, Selasa 17/2/2026. (Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews)

bernasnews – Kepemimpinan Gereja Kristen Jawa (GKJ) di era disrupsi saat ini ditawarkan untuk dikembangkan dengan dua arah sekaligus yakni memperkuat “akar” dan mengembangkan “sayap”. Memperkuat akar, menurut Pdt. Simon Rachmadi, Ph.D., artinya memperkokoh identitas Kristen Jawa yang lahir dari sejarah misi Gereformeerd (aliran Reform); dan mengembangkan sayap artinya mengutuhkan identitas Kristiani yang melampaui kategori denominasional Calvinis, sebab kita bukan pengikut Calvin tetapi pengikut Kristus.

Di sisi lain, Romo Dr. Martinus Joko Lelono, Pr., M.Hum. mengemukakan, di era disrupsi terdapat lawan- lawan yang tidak kelihatan, masyarakat yang kelelahan, dan manusia yang kian asing dengan dirinya sendri. Untuk menjadi adaptif, pemimpin sebagai aktor harus dapat mengartikulasikan kegelisahan, Sedangkan menjadi misioner harus dapat menunjukkan keheningan sebagai nilai.

Demikian point penting yang disampaikan oleh Pdt. Simon Rachmadi, Ph.. dan Romo Dr. Martinus Joko Lelono, Pr., M.Hum dalam talkshow “Kepemimpinan GKJ yang Adaptif dan Visioner pada Era Disrupsi” dengan moderator Dr. Andreas Kristianto, M.Fil., di Kampus Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Marturia, Nologaten, Depok, Sleman, Yogyakarta, Selasa (17/2/2026).

Talkshow Kepemimpinan GKJ itu adalah bagian dari Perayaan HUT ke-95 Sinode Gereja-gereja Jawa Kristen. Acara ini dimulai dengan ibadah syukur, sambutan-sambutan ketua panitia Pdt. Apy Heni Hartiningsih, Sekretaris Umum BAPELSIN XXIX GKJ Pdt. Sundoyo, S.Si., MBA. Kapolda DIY yang diwakili Direktur Reserse Kriminal Khusus Kombes Pol Kayusman Tri Panungko, S.I.K., M.M. dan yang mewakili Bupati Sleman. Setelah sambutan dan talkshow, acara dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan asrama STAK Marturia dan gala lunch.

IKLIM YANG TEDUH
Pada bagian lain, Pdt Simon Rachmadi mengemukakan, untuk menghadirkan gerejawi yang sehat “akar” dan “sayap”-nya itu kita perlu iklim berjemaat yang teduh. Jika iklim berjemaat kita penuh konflik, maka perbedaan-perbedaan teologis menjadi rawan dan mudah terseret menjadi komoditas politik gerejawi. Oleh sebab itu, untuk menghadirkan “akar” dan “sayap” yang sehat itu, kita perlu gerakan mencintai gereja secara sistematis.

“Tanpa harus mencari musuh dan tanpa harus mencari kambing hitam atas aneka problematika gerejawi kita, kita perlu mata batin yang mampu menatap gereja dengan penuh rasa cinta.

Gereja adalah mempelai Kristus yang amat dikasihi-Nya, maka kitapun perlu menatap realitas -realitas gerejawi dengan hati yang berkobar dengan cinta dan semangat rela berkorban,” kata Pendeta Simon yang menjadi Dosen STFT Jakarta.

Menjelaskan kondisi masyarakat yang kelelahan, Romo Martinus Joko Lelono mengatakan, orang zaman ini seakan dituntut oleh dirinya sendiri untuk dapat membuktikan diri. Kenyataan bahwa manusia harus on terus sepanjang hari dan kehausan akan pengakuan terus menerus menjadi salah satu ciri dari era disrupsi ini.

“Tanpa disadari, manusia menjadi musuh dirinya sendiri. Hal ini menciptakan kecemasan yang terus menerus. Manusia semakin sibuk mengurus dirinya sendiri. Terjadi pengusiran terhadap liyan, kedalaman hubungan sosial tereduksi, karena perbedaan dan jarak yang semestinya menjadi bagian dari relasi sosial dianggap sebagai penghambat,” kata dia.

Menurut Pastor Paroki Santo Mikael Pangkalan TNI AU Adisutjipto Yogyakarta ini, seorang pemimpin Klristiani akan tampil sebagai manusia yang membawa harapan. Ia hidup dengan keyakinan teguh bahwa sekarang ia baru melihat pantulan lembut pada sebuah kaca, tapi pada suatu hari ia akan berhadapan dengan masa depan itu, muka dengan muka.

Orang-orang bijak di masa lampau, lanjutnya, percaya bahwa ada kebijaksanaan dalam kesabaran dan kebijaksanaan itu lahir dari kesabaran. Kesabaran bukan sekadar ketiadaan kecepatan, ia adalah ruang bagi refleksi dan pemikiran.

“Kita kini menghasilkan lebih banyak informasi dan pengetahuan dari pada sebelumnya, tetapi pengetahuan hanya berguna jika kita dapat mrenungkannya. Ini artinya, pemimpin yang menjadi misioner itu mampu menunjukkan keheningan sebagai nilai,” kata Romo Joko Lelono. (mar)

toto togel

situs togel

togel online

toto togel

situs slot

link togel

slot online

togel online

toto togel

situs togel

situs toto

toto togel

situs toto

kawijitu

situs toto

kawijitu

toto slot

situs toto

toto online

situs slot

situs toto

slot gacor

kawijitu