bernasnews — Forum Komunikasi Pokdarwis Kemantren Kraton (FKPKK) Kota Yogyakarta, untuk pertama kali menerima kunjungan wisatawan domestik (wisdom), setelah melakukan uji coba sebanyak dua kali.
Paket wisata yang diambil oleh wisatawan tersebut adalah bersepeda keliling “Njeron Beteng” sekaligus menikmati bangunan cagar budaya dan belajar jemparingan, pada Sabtu, 14 Februari 2026.
“Wisdom yang mengikuti paket wisata tersebut sebanyak 8 orang,” kata Rahadyan Chandra selaku Koordinator FKPKK, kepada bernasnews, Senin (16/2/2026).
Jelajah wisata bersepeda “Njeron Beteng” dimulai dan berakhir di Ndalem Pakuningratan, Kadipaten. Dari ndalem tersebut peserta menuju Masjid Sela, Panembahan. Masjid Sela (Batu, red) merupakan salah satu masjid tertua di Jogja.
“Masjid tersebut berstatus kagungan ndalem, masjid ini dibangun pada era Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pertama, Sri Sultan Hamengku Buwono I,” ungkapnya.
Peserta menyusuri kampung Langenastran dan Suryoputran, Dari masjid Sela peserta menyusuri Benteng Baluwarti sisi timur menuju Namburan Lor, Kelurahan Panembahan untuk mencoba dan berlatih jemparingan (olah raga panah tradisional).
“Dari tempat jemparingan, peserta menuju Ndalem Mangkubumen, Kadipaten,”imbuh Yoyok Suhartoyo selaku Marshall Gowes.
Dikatakan, rute yang ditempuh, dari Namburan Lor menuju Alun-Alun Utara melewati Plengkung Wijilan. Dilanjutkan menuju Kadipaten Lor dengan menyusuri Benteng Baluwarti sisi barat. Di Ndalem Mangkubumen, peserta mencoba dan berlatih untuk melipat/mewiru kain jarik.
“Dari pengalaman mewiru kain jarik, peserta kami arahkan menuju Gedhong dan Pasiraman Garjitawati di selatan Komplek Taman Sari,” beber Chandra. Situs tersebut dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I, pada tahun 1757.
Di tempat tersebut wisdom memperoleh penjelasan terkait dengan sejarah bagunan peninggalan budaya tersebut.
Menurut salah satu wisdom dari Jakarta, pengalaman wisata di wilayah Njeron Benteng selama tiga jam sungguh luar biasa. Kawasan Njeron Benteng punya alternatif selain Kraton, Taman Sari dan Pasar Ngasem.
“Bangunan cagar budaya dan aktivitas seperti jemparingan dan melipat atau mewiru kain dapat menjadi daya tarik wisata unggulan,” katanya, penuh semangat.
Chandra yang juga Ketua Pokdarwis Kadipaten berharap bahwa potensi wisata kawasan Njeron Benteng layak dikembangkan menjadi paket wisata yang berdaya tarik tinggi dan layak dijual.
“Aktivitas seperti membatik, jumputan, ngapem, suguhan minum teh, bregodo kampung, kerawitan dan tarian sungguh menjadi daya tarik wisata yang luar biasa,” ujarnya.
Forum Komunikasi Pokdarwis Kemantren Kraton (FKPKK) Kota Yogyakarta berusaha menyusun paket-paket wisata “Njeron Benteng” juga mempromosikan ke wisdom dan wisatawan mancanegara (wisman).
“Ke depan FKPKK akan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan baik dengan Keraton, Dinas Pariwisata, Jasa Pariwisata serta Kampung Wisata, agar paket wisata yang ada semakin dikenal luas serta peminatnya meningkat,” pungkas Rahardyan Chandra. (*/ ted)












