KOSETA Semarakkan Festival Literasi Kaliurang. Ada Tari Edan-Edanan

Tim KOSETA dan undangan dalam Festival Literasi Kaliurang di Ruang Literasi Kaliurang, Pakem, Sleman, DIY, Rabu 11/2/2026. (Foto : Bambang Haryana)

bernasnews – Keluarga Koperasi Seniman dan Budayawan Yogyakarta (KOSETA) yang diwakiliki beberapa personel dibawah pimpinan Sigit Sugito memerahkan Festival Literasi Kaliurang di Ruang Literasi Kaliurang, Padukuhan Panen, Bondosari, Harjobinangun, Pakem, Sleman, DIY, Rabu (11/2/2026). Acara ini sekaligus juga untuk Tribute 101 tahun Saptohoedojo.

Dalam suasana semarak dipandu MC Luky Dewi Priono dan Titi Kusbini, agenda seni ini diisi beberapa performance art KOSETA. Ada pembacan puisi oleh Yani Saptohoedojo, Sigit Sugito, Ani Wongso, Prof Aprinus Salam, Ina Sita Nur’ainna, Oka Swastika Mahendra, Anastasia. Juga penampilan musik puisi Theo Sunu Widodo, menyanyi Buteng Swami Ahimsa, serta tari Edan-Edanan dan Kewer-Kewer oleh Kristina Koe dan kawan-kawan.

Selain penampilan aneka seni, juga disajikan diskusi buku 100 Tahun Saptohoedojo dengan menghadirkan pembicara Yani Saptohoedopjo, Y.B. Margantoro, Sigit Sugito dan Danuri. Gayung bersambut, penyair Anastasia membaca puisi karya Oka Swastika Mahendra bertajuk “Bangsawan Seni”. Berikut puisi itu :

Bangsawan seni/ bukan mereka yang pandai berbicara/ tapi yang pandai membaca hidup/ dari ujung kuas sampai dasar jiwa./

Saptohoedojo, namamu bukan sekadar huruf/ melainkan garis yang merangkai rupa rakyat/ dari pasar sampai gerabah kampung/ dari batik yang nadi budayanya berdegup/ hingga deru kehidupan yang tak tertuliskan oleh sejarah resmi/ tapi tergurat pada kanvas zaman/

kaum badut hebat membaca angka kemenangan/ tapi enggan membaca nilai kemanusiaan/ Saptohoedojo membaca hidup bukan dari politik melainkan dari rakyat/ yang bernafas pada tanah dan akar budaya/ kau hidupkan seni sebagai puisi yang bisa dinikmati/ bukan hanya dipamerkan di galeri mahal/

aku membaca buku tentangmu/ “Seni, Rakyat, dan Keabadian”/ bukan hanya baris kata/ tapi jejak langkah yang tak pernah padam/ ketulusanmu mengalir bukan dari panggung/ melainkan dari tanah desa kecil/ tempat gerabah menjadi saksi sejarah/ bahwa seni adalah nadi kehidupan,/ bukan sekadar pertunjukan atas panggung elit./

Kaum badut membacakan pidato panjang/ tapi tak pernah membaca nama pengrajin-pengrajin batik, gerabah, ukir perak/ yang kau beri suara/ agar dunia tahu bahwa seni bukan sekadar hiasan/ tapi modal hidup, sumber martabat/ bukan sekadar tontonan untuk menaklukkan pasar elit./

Kau ajari bahwa seni bukan hak Istimewa/ tapi hak setiap manusia yang bernafas di negeri ini/ bahwa menulis biografi bukan sekadar menorehkan masa/ tapi memberi panduan kepada generasi yang kehilangan arah/ agar kelak mereka tahu/ bahwa bangsawan seni/ adalah yang mampu membaca dunia/ dengan mata jiwa, bukan mata uang/ bukan urutan angka, bukan daftar electoral./

Di belakangmu/ ada buku yang tak sekadar cetak tinta/ tapi mengikat ingatan kolektif/ agar anak bangsa tak lupa/ apa arti kreativitas, karya, dan keberpihakan/ apa arti menjadikan seni sebagai perlawanan/ bukan sebagai hiburan semu.

Sedangkan penyair Oka Swastika Mahendra menyajikan puisi bertajuk “Literasi Kaum Badut”. Puisi itu sebagai berikut :

kami diajari membaca/ tapi tidak diajari memahami/ huruf-huruf tunduk pada spanduk/ kalimat dibengkokkan demi tepuk tangan/

kami hafal sila-sila/ namun lupa siapa yang menginjak siapa/ di panggung kampanye/ kata rakyat diucapkan/ seperti mantra pengusir lapar/

para badut lulus literasi/ mereka bisa mengeja/ keadilan, reformasi, integritas/ tanpa pernah menyentuh maknanya/

buku-buku dibuka/ hanya untuk foto/ pena menari/ menandatangani nasib orang lain/ di ruang ber-AC/

sementara kami membaca kontrak/ dengan mata rabun/ dan waktu yang memendek/ akta notaris/ menjadi kitab suci/ yang tak boleh dibantah/
/
literasi kami adalah patuh/ membaca angka cicilan/ setiap akhir bulan/ menghafal tanggal jatuh tempo/ lebih baik daripada menghafal sejarah/

anak-anak kami diajari bermimpi/ tapi dipersiapkan untuk antri/ ijazah jadi jimat/ yang tak ampuh melawan warisan/ darah dan marga/

kaum badut pandai menulis/ status, pidato, dan janji/ dihapus setelah pemilu/ diganti wajah baru/ isi lama/

kami yang buta huruf kekuasaan/ tetap dipaksa membaca/ senyum di baliho/ dan menafsirkan harapan/ dari mata yang tak pernah memandang kami/

inilah literasi kaum badut: / membaca penderitaan/ sebagai peluang/ mengeja kemiskinan/ sebagai modal suara/

dan kami, / yang katanya telah melek aksara, /masih saja gagap/ membaca kebenaran/ karena terlalu lama/ dilatih untuk diam. (mar)

toto togel

situs togel

togel online

toto togel

situs slot

link togel

slot online

togel online

toto togel

situs togel

situs toto

toto togel

situs toto

kawijitu

situs toto

kawijitu

toto slot

situs toto

toto online

situs slot

situs toto

slot gacor

kawijitu

kawijitu

kawijitu

slot gacor