Mengapa Ketaatan Bisa Menghalangi Seseorang kepada Allah? Ini Penjelasan M. Nur Kholis Setiawan

Mengacu pada Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athillah as-Sakandari, khususnya Hikmah ke-65, M. Nur Kholis Setiawan memaparkan bahwa kemerdekaan sejati seseorang ditentukan oleh sejauh mana ia mampu memutus ketergantungan hatinya dari hal-hal duniawi. (Youtube/ Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan Channel)

bernasnews – Dalam perjalanan spiritual menuju Sang Pencipta, banyak orang meyakini bahwa tumpukan amal ibadah adalah jaminan mutlak untuk meraih rida-Nya. Namun, sebuah perspektif mendalam dan “ekstrem” diungkapkan oleh M. Nur Kholis Setiawan saat membedah kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari. Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu, ketaatan justru bisa menjadi tembok penghalang bagi seseorang untuk sampai (wusul) kepada Allah SWT.

Fenomena ini sering kali luput dari perhatian para pencari Tuhan. Menurut M. Nur Kholis Setiawan, ketaatan sering kali membawa “penumpang gelap” berupa penyakit hati yang merusak substansi dari amal itu sendiri. Hal ini menjadi peringatan bagi siapa saja agar tidak terjebak pada formalitas ibadah tanpa memperhatikan kebersihan jiwa.

Pintu Ketaatan yang Tidak Selalu Berujung pada Penerimaan

Mengutip hikmah ke-97 dari kitab Al-Hikam, M. Nur Kholis Setiawan memaparkan sebuah paradoks besar dalam beribadah. Ia menyebutkan bahwa adakalanya Allah membukakan pintu ketaatan bagi hamba-Nya, namun tidak membukakan pintu diterimanya amal tersebut (babal qobuli). Hal ini menunjukkan bahwa kuantitas amal bukanlah tolok ukur utama diterimanya sebuah pengabdian.

“Kadang-kadang Allah membukakan kita untuk berbuat taat, tapi belum tentu membukakan bahwa ketaatan kita itu akan diterima. Artinya, kita mesti harus berhati-hati jangan sampai di dalam berbuat taat itu ada gangguan-gangguan riya, ingin dipuji, atau ingin diapresiasi oleh orang lain,” ujar M. Nur Kholis Setiawan.

Beliau menekankan bahwa amal ibadah hanyalah sebuah “wadah” atau ilustrasi luar, sementara nyawa dari amal tersebut adalah keikhlasan. Tanpa keikhlasan, ketaatan yang tampak megah secara lahiriah bisa menjadi hampa di mata Allah.

Penyakit Hati di Balik Tirai Kesalehan

Mengapa ketaatan bisa menghalangi? Jawabannya terletak pada munculnya sifat ujub (bangga diri) dan istighna (merasa cukup). Ketika seseorang merasa telah melakukan banyak kebaikan, sering kali muncul perasaan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain. Inilah yang disebut sebagai afatun qodhatun atau penyakit yang mematikan keikhlasan.

Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa setan sangat lihai dalam membisikkan rasa bangga pada orang yang taat.

“Ketaatan itu terkadang dibarengi oleh kebiasaan-kebiasaan buruk atau penyakit hati seperti merasa diri kita lebih baik dari orang lain, bahkan merendahkan orang yang tidak berbuat baik. Hal-hal seperti itu menjadi pencegah amal perbuatan kita diterima oleh Allah,” tegasnya.

Sikap merendahkan mereka yang belum mendapatkan hidayah untuk taat justru menjadi hijab (penghalang) yang tebal antara hamba dan Tuhannya. Alih-alih mendekat kepada Allah, rasa bangga akan amal tersebut justru membesarkan ego manusia.

Sisi Positif dari Kesadaran Akan Dosa

Secara lebih berani, M. Nur Kholis Setiawan mengulas bagaimana sebuah dosa justru bisa menjadi jalan menuju Allah jika diikuti dengan penyesalan yang mendalam. Hal ini bukan bermaksud melegalkan dosa, melainkan menyoroti pentingnya rasa hina diri (hajat) di hadapan Sang Pencipta.

Orang yang berbuat dosa namun merasa hancur, hina, dan sangat membutuhkan ampunan Allah, sering kali berada pada posisi spiritual yang lebih baik dibandingkan orang yang taat namun sombong. Kesadaran akan dosa melahirkan ketundukan dan sikap mengagungkan orang lain yang dianggap lebih bersih darinya.

“Dosa itu terkadang justru menjadi sebab orang itu sampai kepada Allah atau wusul kepada Allah, karena ia merasa dirinya sangat hina, rendah, dan kemudian menyesali perbuatannya tersebut,” ungkap M. Nur Kholis Setiawan dalam penjelasannya mengenai perspektif sufi.

Konsep “Sorno Dopes”: Jalan Menuju Kerendahan Hati

Dalam ulasannya, M. Nur Kholis Setiawan juga mengaitkan pesan spiritual ini dengan kearifan lokal yang ia temui saat berziarah ke makam waliullah di Kebumen, yaitu konsep Sorno Dopes (Ngasor, Ngino, Bodo, Ngapes). Konsep ini mengajarkan agar manusia senantiasa merendahkan diri dan tidak mengagungkan dirinya sendiri.

Ia mengingatkan bahwa hanya Allah yang pantas diagungkan. Oleh karena itu, bagi orang yang melakukan ketaatan, sangat penting untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Apakah perbuatan baik tersebut sudah bebas dari pamrih atau justru menjadi alat untuk memuaskan ego?.

Sebagai penutup, M. Nur Kholis Setiawan mengajak kita untuk bersikap proporsional. Saat berbuat baik, jangan jadikan amal sebagai pegangan karena amal hanyalah wasilah (perantara). Sebaliknya, saat terjatuh dalam kesalahan, janganlah putus asa dari ampunan Allah, melainkan gunakan momen tersebut untuk mengakui kehinaan diri dan kembali bersimpuh di hadapan-Nya.

toto togel

situs togel

togel online

toto togel

situs slot

link togel

slot online

togel online

toto togel

situs togel

situs toto

toto togel

situs toto

situs toto

kawijitu

toto slot

toto online

situs slot

situs toto

slot gacor

kawijitu

kawijitu

kawijitu

slot gacor

rtp slot

situs toto