bernasnews – Kehadiran Rara Istiati Wulandari atau yang lebih dikenal sebagai Mbak Rara pawang hujan mendadak menjadi sorotan publik.
Namanya ramai diperbincangkan setelah sebuah video memperlihatkan dirinya berada di tengah prosesi Labuhan Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo, Parangtritis, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, pada Senin (19/1/2026).
Video tersebut memicu berbagai spekulasi di media sosial, terutama soal dugaan pengusiran oleh abdi dalem keraton.
Isu ini semakin viral lantaran ada unggahan video di Instagram yang menarasikan Mbak Rara “diusir” saat mengikuti prosesi sakral Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi?
Video Viral Mbak Rara di Prosesi Labuhan
Dalam video yang beredar luas, Mbak Rara tampak mengenakan kebaya hitam, jarik batik, lengkap dengan riasan wajah dan sanggul. Penampilannya sekilas menyerupai busana abdi dalem Keraton Yogyakarta yang sedang bertugas dalam prosesi Labuhan.
Rekaman tersebut menunjukkan Mbak Rara tengah berbincang dengan seorang abdi dalem sambil memegang ponsel, seolah sedang menelepon seseorang. Tidak lama kemudian, beberapa abdi dalem lain terlihat mendekat.
Narasi dalam unggahan itu berbunyi, “Hadir di Acara Keraton Jogja, Mbak Rara Pawang Hujan Diusir Abdi Dalem.” Unggahan ini pun menuai beragam komentar warganet, mulai dari rasa penasaran hingga perdebatan soal boleh atau tidaknya pihak luar terlibat dalam ritual adat Keraton Yogyakarta.
Klarifikasi Resmi Keraton Yogyakarta
Menanggapi ramainya perbincangan tersebut, Keraton Yogyakarta akhirnya memberikan penjelasan resmi. Melalui Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura, GKR Condrokirono, Keraton menegaskan bahwa inti permasalahan bukanlah pengusiran secara personal.
“Pada dasarnya, seluruh pelaksanaan Hajad Dalem, termasuk Labuhan, dilakukan oleh Abdi Dalem Keraton Yogyakarta,” ujar GKR Condrokirono dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa agenda keraton memang terbuka untuk umum, sehingga masyarakat diperbolehkan hadir untuk menyaksikan prosesi. Namun, kehadiran tersebut dibatasi sebagai penonton saja dengan kewajiban menjaga ketenangan, ketertiban, dan tata krama sesuai aturan yang berlaku.
Menurut GKR Condrokirono, persoalan muncul ketika pihak luar terlibat langsung dalam prosesi adat tanpa izin resmi. Ia menegaskan bahwa siapa pun, baik perorangan maupun lembaga di luar Keraton, yang ingin berperan dalam agenda keraton wajib mendapatkan izin terlebih dahulu.
“Jika ada pihak luar yang akan terlibat dalam agenda keraton, harus ada izin dari Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura,” tegasnya.
Dalam konteks ini, Mbak Rara disebut bukan merupakan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, sehingga tidak diperkenankan terlibat langsung dalam prosesi Labuhan tanpa izin resmi.
Keraton juga menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan abdi dalem terhadap Mbak Rara bukan bersifat personal atau penghinaan. Teguran tersebut merupakan bagian dari penegakan tata aturan keraton demi menjaga kekhidmatan dan kesakralan Hajad Dalem Labuhan.
Abdi dalem bertugas memastikan seluruh prosesi adat berjalan sesuai pakem dan tidak terganggu oleh aktivitas yang tidak sesuai dengan tata upacara.
Klarifikasi Mbak Rara
Melalui akun Instagram miliknya @rarapawang_cahayatarot, ia menyampaikan klarifikasi terkait kehadirannya saat prosesi Labuhan di Parangkusumo. Mbak Rara mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 ini ada masalah daripada tahun-tahun sebelumnya.
“2026 ini ada masalah pihak Kraton katanya keberatan baku ikut masuk ka areal cepuri lebih dulu dari abuhan. Cuaca di 2026 ini sangat extreem hujan deras. Pas Sabtu curah ujan tinggi. Nah, aku dimintain tolong itu pas tgl 17-1-2026 oleh abdi dalem dan juru kunci via tlp juga beberapa warga setempat juga ada dari Pemkab yg tak bantu beruntung via video calls cuaca didoakan bersama sama terang cerah baik,” tulisnya di Instagram.
Berkaitan dengan acara Labuhan di Parangkusumo, ia mendapatkan banyak komentar dan sudah ramai di media sosial. Ia juga menyampaikan bahwa ketika acara Labuhan di Parangkusumo, Romo Rekso yang biasa bertemu di Imogiri dan juru kunci yang meminta bantuannya agar cuaca cerah.
“Yg jelas aku pas mau acara ajadi pawang hujan buat kegiatan resmi itu harus ada undangan via tlp atau wa,” tulisnya di Instagram sebagaimana dikutip Bernasnews.
Makna Sakral Upacara Labuhan
Sebagai informasi, Labuhan merupakan salah satu prosesi adat penting dalam rangka Tingalan Jumenengan Dalem, yaitu peringatan ulang tahun kenaikan takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tahun ini, Tingalan Jumenengan Dalem jatuh pada 29 Rejeb Dal 1959 dalam kalender Jawa Sultanagungan, bertepatan dengan Minggu Kliwon, 18 Januari 2026, menandai 38 tahun Sultan bertakhta.
Kata labuhan berasal dari kata labuh, yang bermakna membuang, meletakkan, atau menghanyutkan. Upacara ini mengandung filosofi membuang sifat-sifat buruk serta memohon keselamatan dan kesejahteraan.
Dalam pelaksanaannya, Keraton Yogyakarta melabuh sejumlah ubarampe labuhan, seperti songsong gilap (payung kebesaran) hingga kambil watangan atau pelana kuda.
Empat Lokasi Labuhan Alit Tahun Ini
Pada tahun ini, Labuhan Alit (Patuh) digelar di empat lokasi sakral, yakni:
Gunung Merapi
Pantai Parangkusumo
Gunung Lawu
Dlepih, Kabupaten Wonogiri
Setiap lokasi memiliki makna spiritual tersendiri dalam tradisi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Viralnya kehadiran Mbak Rara dalam prosesi Labuhan Keraton Yogyakarta berawal dari kesalahpahaman publik terhadap aturan adat keraton. Klarifikasi Keraton menegaskan bahwa tidak ada unsur pengusiran personal, melainkan penegakan tata krama dan aturan demi menjaga kesakralan prosesi Hajad Dalem.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ritual adat Keraton Yogyakarta memiliki pakem, hierarki, dan aturan ketat yang harus dihormati oleh siapa pun, termasuk pihak luar yang ingin terlibat di dalamnya.
Nama Mbak Rara sebelumnya juga sempat mencuat dalam peristiwa lain. Pada awal November 2025, ia diduga pernah diminta keluar oleh pihak keamanan saat konser Blackpink di Jakarta. Saat itu, Mbak Rara disebut mencoba memasuki area acara tanpa identitas resmi dan mengaku sebagai bagian dari tim doa untuk menjaga kondisi cuaca selama konser berlangsung. (anp)












