bernasnews — Acara “Jogja Jelang Siang” yang disiarkan langsung oleh TVRI Yogyakarta dalam minggu ini topiknya adalah “Menguatkan Pertumbuhan Ekonomi Melalui Pariwisata”. Acara tersebut merupakan kerjasama TVRI Yogyakarta dengan ISEI Cabang Yogyakarta, yang ditayangkan pada Senin, 19 Januari 2026.
Edisi tersebut menampilkan narasumber Budiharto Setyawan selaku Penasehat/Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta, yang juga Komisaris Utama PT. Bidakara Indah Sejahtera, Yogyakarta/pengelola Hotel Novotel Suites & Malioboro Mall. Selaku host acara Aryo Bagus dari TVRI Yogyakarta.
Menurut Budiharto, pada Triwulan (Tw) I 2026 Perekonomian DIY diprakirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan tesebut utamanya didukung oleh kenaikan UMP DIY pada tahun 2026 sebesar 6,78%. Momentum Ramadhan dan Idul Fitri yang diperkirakan mendorong kinerja Konsumsi Rumah Tangga (sisi permintaan).
Sedangkan dari sisi produksi Lapangan Usaha (LU) Penyediaan Akomodasi, Makanan & Minuman dan LU Perdagangan. juga diprakirakan dapat mendorong kinerja perekonomian lebih tinggi lagi pada Tw I 2026.
“Kontribusi dari aktivitas atau kegiatan Pariwisata sebesar 65,67% terhadap perekonomian DIY,” ungkap Budiharto, yang pernah menjadi Kepala Perwakilan BI DIY, dalam rilisnya, Kamis (22/1/2026)
Dikatakan Budiharto, kontribusi tesebut dihitung berdasarkan kontribusi pariwisata langsung dari LU Akomodasi dan Makan Minum dan Pendukung Pariwisata serta LU Perdagangan Besar, Industri Pengolahan, Transportasi dan Pergudangan, Informasi dan Komunikasi, Konstruksi, Pertanian.
Industri Perhotelan yang termasuk dalam LU Akomodasi dan Makan Minum (Akmamin) di DIY memberikan kontribusi sekitar 0,49% dari pembentukan PDRB. Diperkirakan PDRB tumbuh 5,64% pada tahun 2026. Sumbangan yang lain adalah LU Akmamin menyumbang 0,49%, Pendidikan 0,54%, Industri Pengolahan 0,56%, Konstruksi 0,94%.
“Adapun penyerapan tenaga kerja jumlah pekerja aktivitas Pariwisata di DIY sebanyak 292 ribu atau setara dengan 12,94% angkatan kerja di DIY 2025,” papar Budiharto, yang gemar olah raga bersepeda.
“Aktivitas pariwisata masih tetap menjadi motor penggerak ekonomi lokal di DIY,”tegas Budiharto. Menurut Budiahrto, kegiatan pariwisata menciptakan efek ganda (multiplier effect) yang luas, salah satunya meningkatkan permintaan terhadap produk lokal seperti kuliner, kerajinan, fashion, dan UMKM. Dari sisi produksi juga meningkatkan kinerja lapangan usaha perdagangan, industri pengolahan, transportasi dan logistic, dan sebagainya.
“Untuk Length of Stay (LoS) jika dipilah antara kunjungan bisnis/MICE/event dibandingkan leisure terdapat gap antara 3 – 5 hari : 1 – 3 hari,” jelas Budiharto.
DIY memiliki fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) dan infrastruktur penyelenggaraan event yang memadai. Dukungan Pemerintah terhadap pengembangan industri MICE nasional menjadi momentum strategis untuk mendorong peningkatan kinerja pariwisata, khususnya MICE DIY Tahun 2026.
Hal tersebut juga bisa menjadi strategi bagi pelaku usaha di bidang pariwisata untuk berkolaborasi untuk meningkatkan aktivitas bisnis/MICE/event di DIY.
Dikatakan Budiharto, walaupun masih sangat kuat image DIY sebagai destinasi wisata yang murah, jumlah uang yang dibelanjakan (spending) untuk aktivitas bisnis/MICE/event sebanyak 3 – 5 x dibandingkan jumlah uang yang dibelanjakan oleh wisatawan leisure (sekitar Rp1 – 3 juta / hari).
“Dengan adanya peningkatan karakteristik wisata non-leisure di DIY pada tahun 2025, diharapkan terdapat peningkatan kontribusi terhadap PDRB dan PAD di DIY di masa mendatang,” harap Budiharto Setyawan.
Pariwisata di DIY yang berbasis budaya juga mendorong pariwisata yang inklusif yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan baik wisman maupun wisnus. Dalam era keterbukaan informasi saat ini, peran para pemangku kepentingan (pentahelix ABGC + media) menjadi sangat penting untuk mengurangi gap antara fasilitas yang disediakan dengan yang dibutuhkan.
Beberapa uji coba paket kawasan / desa wisata juga perlu semakin ditingkatkan untuk menjawab kebutuhan pariwisata berkualitas (quality tourism)dibandingkan mass tourism. “Pengembangan wisata minat khusus (wellness tourism dan medical tourism) juga relevan untuk dikembangkan di DIY,” terang Budiharto, menjawab pertanyaan host acara jelang siang TVRI Yogyakarta. (*/ ted)












