bernasnews – Mari umat beriman, siapkanlah hati kita, tinggalkan risau gundah gulana/ Nyanyikanlah lagu syukur, madahkan lagu pujian menghadap Allah Bapa Tuhan kita// mari nyanyikanlah bagi Tuha, tiuplah serulingnan merd, mari bergembira/ Dengan tari yang riang, palu gendang bertalu, memuliakan Tuha, Allah mahakuasa – (Lagu “Hai Umat Beriman” di buku Madah Bakti, Lagu/syair Loko PML di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 1995).
Iman, harapan, dan kasih adalah tiga hal yang diajarkan, diteladankan, dan diwariskan oleh Yesus Kristus dalam ajaran Katolik. Iman dan harapan disebut sebagai keutamaan ilahi. Artinya bila umat beriman dan berharap maka di dalam hati berkarya suatu daya ilahi yang membuat umat kuat dalam mengandalkan diri pada Tuhan dan berjalan terus meski tidak ada jalan.
Sedangkan tentang kasih dimaknai bahwa Allah itu adalah kasih. Dan umat diharapkan untuk hidup bersama dengan saling mengasihi. Dengan kehidupan yang saling mengasihi akan terwujud kedamaian. Damai di hati dan damai di masyarakat.
Dalam buku “Madah Bakti” karya Pusat Musik Liturgi Yogyakarta (2008, cetakan ke-87), Nyanyian Iman dan Harapan disajikan dengan lagu-lagu bertajuk Iman, Kristus Beserta Kita, Laksana Gunung, Bahagia dalam Tuhan, Sabda Bahagia, Nyanyian Kemenangan, Tuhan Pelindungku, Ufuk Utara, dan Berbahagialah Orang.
Sedangkan tentang Nyanyian Kasih/Tugas Sosial disajikan lagu-lagu : Cintailah Sesamamu, Mereka Masih Menderita, Salurkan Rahmat Kristus, Cinta Perdamaian, Satukan Kami, Bagaikan Air, Dia Sahabatmu, Kasih Setiaku, Berbudi Luhur, Mari Saling Melayani, Allah Adalah Kasih, Kasih Persaudaraan, Tuhan Sumber Segala Kasih, dan Curahkan Kasihmu Ya Tuhan.
Dari judul-judul lagu bertema iman, harapan dan kasih itu umat dipandu atau diberi arahan untuk menerapkan ketiga hal utama itu dalam kehidupan sehari-hari. Umat akan merasakan secara nyata bahwa ketiga hal itu sungguh merupakan berkah yang menyelamatkan. Tentu dalam pelaksanan tidak selalu mudah dan lancar. Untuk itu, upaya, doa dan kebersaman dalam paguyuban harus terus dilakukan..
IKUT TEH DAN NGOPI
Penulis sebagai umat baru di Paroki Gereja Santo Yakobus Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersyukur dapat diterima dan dilibatkan dalam kebersamaan di Lingkungan Santa Helena. Awalnya sesekali datang mengikuti misa harian pagi atau yang disebut MiPa bersama beberapa rekan satu lingkungan.
Dalam perkembangan, suatu ketika penulis dijawil oleh seorang bapak yang ternyata adalah pimpinan TEH (Tim Ekaristi Harian) dan NGOPI (Ngobrol Seputar Iman) untuk membantu kelompok koor. Untuk koor TEH bertugas di MiPa hari Kamis, Jumat dan Sabtu. Sedangkan hari-hari Senin, Selasa dan Rabu diampu oleh anak-anak panti asuhan sekolah yang satu kompleks dengan gereja. Bapak itu adalah Damian Sukarno S.
“TEH dibentuk guna membantu umat untuk beribadat misa pagi supaya khusuk dan hikmat. Komunitas ini didirikan oleh Romo Augustinus Toto Supriyanto pada tanggal 2 September 2017.
Selain itu, TEH bertujuan membentuk tim untuk membantu memperlancar misa pagi harian, memastikan adanya petugas-petugas liturgi di misa harian, adanya imam yang memimpin misa. Jika imam berhalangan mencari pengganti prodiakon untuk ibadat sabda. Kami juga mengorgansiasikan prodiakon, lektor, misdinar, dan petugas koor.
Kami juga mengadakan pertemuan berkala atau evaluasi satu kali dalam tiga bulan, terlibat dalam tugas koor pada hari-hari tertentu, mengadakan wisata rohani yang biasanya bulan Mei atau Oktober, dan pembinaan terhadap para lektor misa harian,” kata Damian Sukarno S.
Sedangkan tentang NGOPI atau Ngobrol Seputar Iman, dia mengatakan, didirikan pula oleh Romo Toto pada tanggal 17 Pebruari 2017. Tujuannya membina dan memupuk imam umat, sumber landasannya Tradisi Suci, Magisterium dan Kitab Suci. Kegiatannya pertemuan rutin satu bulan sekali pada Minggu ke empat, serta wisata rohani pada bulan Mei atau Oktober.
BERTUMBUH DALAM ROH
Kehidupan seseorang dari hari ke hari diharapkan atau dituntut untuk bertumbuh. Bukan hanya bertumbuh secara fisik, namun juga semoga bertumbuh dalam roh. Buku kecil bertajuk “Tumbuh dalam Roh” – Panduan Pemeriksaan Batin dari Hari ke Hari karya J. Darminta, SJ (1993) mengajarkan hal itu.. Pembaca ditantang membangun hidup rohani di dalam Tuhan. Inilah yang menjadi makna dan daya penggerak untuk memperjuangkan hidup lebih baik.
Buku mungil seri spiritualitas Kristen ini memberikan materi kepada pembaca tentang Mutiara yang indah; Menjual seluruh milik; Jalanmu bukanlah jalan-Ku; Ikutlah Aku : Dari proses perjalanan, Dari proses gerak batin, Dari proses pengalaman akan Allah; Mengarahkan hidup selanjutnya; dan Pergilah dan perbuatlah demikian, sebagai penutup.
Anthony de Mello (1987) menulis begini tentang “Tak Gentar” : “Cinta itu apa?”/ “Hilangnya rasa takut secara total,” kata sang Guru/ “Apa yang kita takutkan?”/ “Cinta,” jawab sang Guru. (mar/Anto Margono, Umat Lingkungan Santa Helena, Paroki Gereja Santo Yakobus Bantul DIY).












