News  

Pentingnya Kekuatan Tema, Diksi dan Logika dalam Penulisan Cerpen

Para peserta workshop penulisan cerpen SBP dan Balai Bahasa Provinsi DIY, Rabu 14/1/2026. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Sastra Bulan Purnama (SBP) bekerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar workshop penulisan cerita pendek (cerpen) khusus bagi perempuan, di Ruang Sutan Takdir Alisyahbana Balai Bahasa DIY, Rabu (14/1/2026). Kegiatan ini diikuti 26 perempuan penulis dari berbagai komunitas literasi, salah satunya Komunitas MALIGU (Majalah Literasi Guru) yang mengikutsertakan empat orang anggotanya.

Workshop dibuka oleh Koordinator SBP Ons Untoro, dan disambut oleh Kepala Balai Bahasa DIY Anang Santosa. Dalam sambutannya disampaikan pentingnya ruang belajar yang aman dan berkelanjutan bagi perempuan penulis untuk mengasah kemampuan kreatif sekaligus teknis kepenulisan.

Narasumber pertama, redaktur cerpen/pengamat sastra Latief Noor Rochmans menekankan pentingnya kekuatan tema, pilihan diksi, dan logika cerita dalam penulisan cerpen. Menurutnya, judul cerpen harus memiliki daya tarik dan tidak bersifat konvensional. Dia memberikan contoh sejumlah judul cerpen kuat karya penulis perempuan ternama Yogyakarta, di antaranya Savitri Damayanti dan Nunung Rieta, yang turut hadir dalam workshop tersebut.

Latief juga menyoroti masih lemahnya perhatian penulis terhadap kaidah Ejaan Bahasa Indonesia. Ia mengungkapkan, banyak naskah yang sampai ke meja redaksinya terpaksa ditolak karena judul kurang menarik, alinea pembuka tidak logis, ketiadaan arah atau visi cerita, serta tata bahasa yang berantakan. Di akhir paparannya, dia menegaskan bahwa peran editor tidak boleh dipandang sebelah mata oleh penulis. Bahkan seharusnya penulis percaya dengan editornya.

Narasumber kedua, pembina sastra Herry Mardianto, membagikan pengalamannya selama bergelut di dunia kepenulisan. Ia menekankan bahwa kunci utama menjadi penulis adalah membaca. “Membaca, membaca, dan membaca. Tanpa itu, penulis akan kering dan miskin imajinasi,” katanya.

Secara teknis, Herry menyebut empat tahapan penting dalam menulis, yakni persiapan, pengendapan, iluminasi, dan verifikasi. Tahap verifikasi, menurutnya, kerap diabaikan penulis. Ia mencontohkan kebiasaannya membaca ulang tulisan hingga puluhan kali sebelum dipublikasikan. Kepada peserta, dia kembali mengingatkan pentingnya peran editor sebagai mitra logis dalam kerja kreatif penulis.

Dalam sesi pemaparan, Herry juga mengulas sebuah cerpen karya Sapardi Djoko Damono berjudul Naik Garuda sebagai contoh cerpen yang kaya perenungan. Cerpen tersebut dibacakan dengan apik oleh Nunung Rieta. Selain itu, peserta diajak mengembangkan imajinasi dari sebuah fakta sederhana tentang seorang anak kecil yang menunggu ibunya di halte. Beberapa peserta mampu mengolah fakta tersebut menjadi cerita yang imajinatif.

Pada sesi diskusi, seorang peserta menanyakan kiat menyelesaikan tulisan di tengah banjir ide yang kerap membuat cerita melebar dan tak kunjung rampung. Menanggapi hal tersebut, Heri menegaskan pentingnya membuat outline sebelum menulis agar ide tetap fokus.

Moderator workshop, Indro Suprobo, turut membagikan pengalamannya memilih waktu khusus untuk menulis serta mengunci ide dengan catatan pengembangan agar tidak kehilangan arah.

Masih terkait kedisiplinan menulis, Herry mengungkap kebiasaan penulis ternama Seno Gumira Ajidarma yang selalu meluangkan waktu dua jam setiap hari untuk menulis, bahkan saat berada di kamar hotel.

Workshop yang berlangsung sekitar dua jam tersebut dirasakan peserta masih kurang. Menyikapi hal itu, Ons Untoro mengagendakan tindak lanjut berupa penulisan cerpen oleh peserta yang akan didiskusikan melalui grup WhatsApp. Para peserta ditargetkan menyelesaikan cerpen masing-masing Juli mendatang. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama. (mar/Atiek Mariati, Wartawan MALIGU)