bernasnews — Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa ekonomi kreatif (Ekraf) adalah sektor ekonomi yang dibangun berdasarkan pemanfaatan kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui pengembangan kekayaan intelektual.
Referensi lain menyatakan, Ekraf adalah konsep ekonomi berbasis ide inovatif dan kreativitas sumber daya manusia, yang diwujudkan melalui 16 industri (seperti kuliner, fashion, musik, film, desain, aplikasi) untuk menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
“Potensi besar Ekraf di era digital dapat meningkatkan PDB, ekspor, dan daya saing nasional dengan dukungan kebijakan, literasi digital dan inovasi teknologi,” kata Y. Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, dalam rilis yang dikirim, Selasa (13/1/2026)
Berkaitan dengan hal tersebut Hermanto, Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta tampil dalam acara “Jogja Jelang Siang”, dengan mengusung topik “Strategi Penguatan Ekonomi Kreatif”, yang disiarkan langsung oleh TVRI Yogyakarta, pada Senin, 12 Januari 2026. Adapun selaku host acara tersebut Norma Novicka.
Dalam acara tersebut, Hermanto yang juga menjabat Deputi Kepala Perwakilan BI DIY mengemukakan, bahwa ekonomi kreatif merupakan salah sumber pertumbuhan ekonomi masa depan yang harus dikembangkan karena memiliki nilai tambah yang tinggi.
Menurutnya, berdasarkan data BPS dan Kemenpar (2025), pangsa ekonomi kreatif terhadap PDB Indonesia sekitar 7-8% dalam 5 tahun terakhir.
“Dengan keragaman budaya, kekayaan SDA, dan melimpahnya SDM berusia muda, Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan ekonomi kreatif sebagai salah satu penopang perekonomian,” ungkap Hermanto.
Dikatakan, Yogyakarta menjadi salah satu pusat budaya dan kreatifitas di Indonesia, memiliki potensi besar menjadi pusat pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Hal itu ditunjukkan oleh banyaknya subsektor ekonomi kreatif di Yogyakarta yang berkembang pesat
Subsektor ekonomi antara lain seperti kriya, kuliner, fashion, pengembangan aplikasi dan game, musik, film, yang didukung oleh event yang sangat banyak dan beragam.
“Apabila itu semua diorkestrasi dengan baik, dikemas dengan apik, dan dipromosikan secara masif secara konvensional dan digital, maka branding Yogyakarta sebagai pusat ekonomi kreatif akan terwujud,” jelas Hermanto yang gemar olah raga lari dan gowes.
Seperti halnya Yogyakarta yang sudah memiliki branding kuat sebagai kota wisata, kota budaya, kota pendidikan. Kuncinya adalah sinergi yang kuat antar stakeholders yang disebut sebagai pentahelix yaitu pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan media.
“Strategi penguatan Ekraf Indonesia di tahun 2026 difokuskan untuk menjadikan sektor ini sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru dengan target pertumbuhan sebesar 6,12%,” terang Hermanto, mengutip Kementerian Ekonomi Kreatif.
Strategi penguatan Ekraft mencakup penguatan ekosistem digital, pengembangan SDM melalui pelatihan dan inkubasi, fasilitasi pembiayaan (insentif, modal ventura), perlindungan HKI, promosi global dan lokal (event, pameran).
“Diperlukan integrasi budaya dan pariwisata, yang didukung oleh regulasi strategis dan kolaborasi multi-pihak (pemerintah, swasta, masyarakat) untuk daya saing nasional di era digital,” tandas Hermanto.
Seperti diketahui ISEI Cabang Yogyakarta telah bekerjasama dengan TVRI Yogyakarta untuk mengisi narasumber di acara “Jogja Jelang Siang”, setiap hari Senin pukul 10:00 – 10:30 WIB.
“Topik ekonomi dan bisnis beserta narasumbernya berbeda sesuai dengan kondisi ekonomi terkini,” ujar Y. Sri Susilo. (*/ ted)












