News  

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Menegaskan Super Flu Bukan Virus Baru

dr. Lana dan dr. Endang dari Dinkes sedang menyampaikan penjelasannya. (Nuning Harginingsih/ bernasnews)

bernasnews – Super Flu kini sedang ramai diperbincangkan oleh masyarakat dan di media sosial sehingga Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta perlu memberikan penjelas perihal penyakit tersebut kepada sejumlah media yang ada di Yogya. Kegiatan berlangsung di Kantor Dinas Kominfo Kota Yogyakarta, pada Jumat (9/1/2025)

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Serta Pengelolaan Data dan Sistem  Informasi Kesehatan Dinas  Kesehatan Kota Yogyakarta dr. Lana Unwanah didampingi dr. Endang Sri Rahayu, Kepala Seksi, Seksi Pencegahan,Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Yogyakarta, menjelaskan, bahwa istilah super flu  merujuk pada virus influenza  A (H3N2) Subclade K, yang masih satu keluarga dengan virus influenza yang selama ini dikenal masyarakat.

“Yang  disebut Super flu  sebenarnya  influenza A tipe H3N2  subclade K,  bukan virus baru melainkan hanya varian dari virus influenza yang sudah lama ada,” jelas dr. Lana

Menurutnya, maraknya informasi yang beredar di media sosial telah memicu keresahan pada masyarakat sehingga Dinkes banyak menerima pertanyaan baik melalui  telepon atau pertanyaan langsung  dari berbagai pihak.

Untuk mengklarifikasi hal tersebut  Dinkes bersama dengan Kominfo Kota Yogyakarta menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat agar lebih akurat, dr. Lana mengungkapkan, bahwa perbedaan influenza H3N2 subclade K dengan flu biasa  terletak pada  durasi sakitnya yang cenderung lebih lama.

“Kalau flu biasa  umumnya sembuh dalam dua sampai tiga hari  tapi influenza H3N2 bisa berlangsung sampai 8 hingga sepuluh hari. Akan teatpi  kasus sebagian besar tetap bisa sembuh sendiri  dengan  istirahat y ang cukup daya  tahan tubuh yang  bagus/sehat,” bebernya.

Lebih lanjut dr. Lana mengemukakan, influenza  termasuk limting disease yaitu  penyakit yang dapat  sembuh dengan sendirinya. Berbeda dengan  Covid -19 yang  menyerang saluran pernafasan  bawah hingga hingga paru – paru.

“Influenza  H3N2 umumnya hanya  menyerang  saluran  pernafasan  bagian atas  dan  jarang menimbulkan komplikasi  yang berat,” tegasnya.

Penularan  terjadi  melalui droplet  atau  percikan  cairan pernafasan  saat  seseorang  berbcara, batuk, atau bersin. Resiko penularan lebih tinggi pada individu dengankondisi daya tahan tubuh yang  menurun.

dr. Lana juga mengingatkan adanya sejumlah kelompok yang perlu meningkatkkan kewaspadaan terhadap infeksi influenza H3N2, yakni anak – anak, ibu hamil dan lansia. Juga termasuk yang mempunyai  penyakit penyerta (kormobit) seperti  hipertensi, penyakit  jantung, diabetes, serta gangguan system kekebalan tubuh.

Terkait situasi di Kota Yogyakarta  dan wilayah DIY saat ini, dr. Lana memastikan belum terjadi lonjakan  kasus  yang  signifikan  dari  virus  influenza  H3N2. Meskipun demikian masyarakat  terus  diimbau  agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh  informasi yang belum terferivikasi.

“Serta terus untuk menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat,” harapnya.

Adapun gejala – gejala yang perlu  diwaspadai diantaranya adalah demam tinggi  yang  muncul medadak , nyeri otot dan sendi yang lebih berat, batuk  lebih persisten, durasi sakit lebih lama dibandinkan dengan flu  biasa.

Apabila mengalami  gejala  tersebut  dan tidak  kunjung  sembuh. Pihaknya mengimbau kepada masyarakat  untuk  segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

“Menjaga imunitas tubuh dengan istirahat  cukup, asupan gizi seimbang, serta  kebersihan  diri  menjadi langkah utama pencegahannya,” ujar dr. Lana. (nun)