bernasnews – Masuknya kosakata baru ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) selalu menjadi peristiwa menarik bagi pemerhati bahasa.
Salah satu kata yang belakangan ramai dibicarakan adalah kapitil, sebuah istilah yang kini resmi tercatat dalam kamus bahasa Indonesia. Kata ini mencuri perhatian karena diposisikan sebagai pasangan makna dari kata kapital, khususnya dalam konteks huruf.
Lalu, apa sebenarnya arti kapitil? Mengapa kata ini dianggap penting hingga masuk ke dalam KBBI? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Kapitil?
Dalam KBBI, kapitil didefinisikan sebagai lawan kata dari kapital dalam konteks huruf, atau dengan kata lain berarti huruf kecil. Jika huruf kapital merujuk pada bentuk besar seperti A, B, C, maka kapitil menunjuk pada bentuk kecilnya, yaitu a, b, c, dan seterusnya.
Dengan pengertian ini, kapitil sejajar dengan istilah yang selama ini dikenal sebagai “huruf kecil”. Namun kini, bahasa Indonesia memiliki padanan yang lebih sistematis dan serasi dengan istilah kapital.
Hubungan Kapitil dan Kapital dalam Bahasa
Berdasarkan penjelasan yang dilansir dari Folkative, kapitil juga disebut sebagai huruf nonkapital. Artinya, istilah ini memang diciptakan untuk melengkapi keberadaan kata kapital dalam bidang kebahasaan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa kapitil dan kapital hanya boleh dipasangkan jika konteksnya sedang membahas huruf. Hal ini karena dalam KBBI, kata kapital tidak hanya berkaitan dengan huruf besar, tetapi juga memiliki makna lain, terutama dalam bidang ekonomi, seperti modal atau kekayaan.
Oleh sebab itu, penggunaan istilah kapitil harus tepat agar tidak menimbulkan salah tafsir.
Asal-usul Kata Kapitil
Kata kapitil bukan muncul secara tiba-tiba. Istilah ini diusulkan untuk masuk ke dalam KBBI oleh editor dari Balai Bahasa Aceh pada tahun 2024. Setelah melalui proses kajian dan penilaian, kata ini kemudian divalidasi oleh tim penyusun KBBI pada tahun 2025, hingga akhirnya resmi masuk dalam daftar kosakata bahasa Indonesia.
Proses ini menunjukkan bahwa setiap kata baru yang masuk KBBI harus melalui mekanisme seleksi yang ketat, tidak sekadar karena viral atau banyak digunakan.
Dalam ilmu linguistik, kata kapitil dikategorikan sebagai bagian dari fonestem atau phonestheme. Menurut kamus Merriam-Webster, phonestheme adalah pola bunyi tertentu yang sering muncul dalam kelompok kata dan memiliki asosiasi makna tertentu.
Dengan demikian, kapitil bukan sekadar istilah teknis, tetapi juga memiliki dasar linguistik yang kuat dari sisi pembentukan bunyi dan makna.
Label “Cakapan” dalam KBBI
Menariknya, di dalam KBBI, kata kapitil diberi label “cak”, yang berarti cakapan. Artinya, kata ini termasuk dalam ragam bahasa tidak formal atau percakapan sehari-hari.
Namun, status ini bukan berarti kata kapitil salah atau tidak boleh digunakan. Justru, penandaan tersebut menunjukkan bahwa kata ini lebih lazim dipakai dalam konteks santai, diskusi ringan, atau komunikasi nonresmi.
Meskipun baru saja masuk KBBI, kata kapitil langsung ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet merasa kata ini unik, lucu, sekaligus menambah kekayaan kosakata bahasa Indonesia.
Fenomena ini membuktikan bahwa masyarakat masih memiliki minat besar terhadap perkembangan bahasa, terutama ketika muncul istilah baru yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bukan Satu-satunya Kata Baru di KBBI
Kapitil bukan satu-satunya kosakata yang baru disahkan. Sebelumnya, KBBI juga memasukkan kata galgah, yang berarti rasa segar atau lega di tenggorokan setelah minum.
Masuknya kata-kata seperti galgah dan kapitil memperlihatkan bagaimana bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti kebutuhan penuturnya. KBBI tidak hanya menjadi kamus, tetapi juga cerminan dinamika budaya dan kebiasaan masyarakat.
Resminya kapitil sebagai lawan kata kapital dalam KBBI menandai satu langkah kecil tetapi penting dalam pemerkayaan bahasa Indonesia. Kini, kita memiliki istilah yang lebih tepat untuk menyebut huruf kecil tanpa harus bergantung pada frasa panjang.
Dengan pemahaman yang benar, masyarakat dapat menggunakan kata kapitil secara tepat dan sesuai konteks. Perkembangan ini juga menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus hidup, tumbuh, dan beradaptasi dengan zaman membuatnya semakin kaya dan relevan bagi generasi sekarang maupun mendatang. (anp)












