bernasnews – Majalah “Literasi Guru” (Maligu) merayakan hari jadinya ke-6 di Pustaka Merdesa, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (22/12/2025). Majalah yang digawangi para pegiat literasi dengan beragam profesi ini lahir untuk mengembangkan kesadaran literasi di masyarakat.
Pegiat literasi Y.B. Margantoro yang hadir pada kesempatan ini menyatakan ikut bersyukur bahwa Maligu yang didirikan pada tahun 2019 masih terus berperan dalam dunia literasi. Majalah yang terbit dua kali per tahun ini rencananya akan dikembangkan dalam format digital sehingga daya jangkaunya lebih luas. Untuk itu, perlu disiapkan SDM yang solid dan konsisten.
“Tidak ada kata pensiun bagi pegiat literasi, dan Maligu membuka diri menjadi rumah bagi para pegiat literasi,” kata dia.
Sebagai simbol semangat literasi yang terus menyala, sebagian redaksi menyalakan enam batang lilin kecil yang tertancap di kue ulang tahun. Berbeda dengan acara ulang tahun umumnya yang meniup api lilin.
Peringatan hari jadi Maligu bertepatan dengan peringatan Hari Ibu, yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai Hari Perempuan Indonesia. Berkaitan dengan itu, dua orang anggota redaksi, yakni pustakawan Yoseph Nai Helly membacakan puisi karyanya ‘Senyuman Seorang Ibu’ dan sutradara film Andre Moedanton membacakan puisi karya Rendra ‘Sajak Seorang Tua untuk Istrinya’.
Acara sederhana ini berlangsung dalam suasana semarak, riang, hangat dan penuh kekeluargaan. Terasa semangat yang tulus untuk terus mengembangkan Maligu dan menghidupkan gairah literasi ke depannya. Semuanya terekam dalam rumah kayu Pustaka Merdesa yang elegan di tengah aneka tanaman hijau asri.
Hadir pada kesempatan ini, Praba Pangripta, Susy Ernawati, Atiek Mariati, Atun Pratiwi, Yoseph Nai Helly, Suwarti, Andre Moedaton, Ch Endah Heruwati, Yuning PP, Anindya Barata.
PUISI SENYUMAN SEORANG IBU
Yoseph Nai Helly menulis dan membacakan puisi bertajuk “Senyuman Seorang ibu” berikut ini :
Senyuman seorang ibu/ tak kan sirna walau di usia lansia./ Senyuman itu tetap bersinar/ memenuhi jagat,/ sebab senyum itu datang dari lubuk hati yang paling dalam./ Senyuman yang tidak menipu atau berpura-pura bagai sandiwara./ Ibu yang terbaik sepanjang jaman,/
ia yang mendatangkan dan meneruskan para punggawa hebat di masa yang akan datang./
Ibu itu seorang. yang sangat tangguh,/ di dalam berbagai masalah ia selalu menyelipkan senyuman yang khas.
Doa kami untukmu ibu/ yang penuh kasih dan sayang./ Dunia kami tidak akan ada jika tidak ada engkau untuk meluruskan jalan bagi kami./ Liku-liku kehidupan yang kami jalani,/ engkau selalu menyelipkan doa terbaik untuk kami. (mar/Anindya Barata, Pegiat Literasi tinggal di GMJR, Guwosari, Pajangan, Bantul, DIY)












