bernasnews – Setiap tanggal 22 Desember, masyarakat Indonesia memperingati Hari Ibu. Namun, peringatan ini bukan sekadar momentum untuk memberi bunga atau ucapan kasih sayang kepada ibu di dalam keluarga.
Di Indonesia, Hari Ibu memiliki akar sejarah yang panjang dan berkaitan erat dengan perjuangan perempuan dalam membangun bangsa.
Peringatan Hari Ibu atau PHI menjadi simbol penghargaan terhadap peran, pengorbanan, dan kontribusi perempuan Indonesia dari masa ke masa. Sejarahnya berangkat dari kesadaran kolektif perempuan untuk ikut menentukan arah perubahan sosial, pendidikan, hingga kemerdekaan bangsa.
Jejak sejarah Hari Ibu tidak dapat dilepaskan dari munculnya kesadaran perempuan pada abad ke-19, jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada masa itu, perempuan tidak hanya berperan di ranah domestik, tetapi juga tampil sebagai tokoh perjuangan yang berani melawan penjajahan.
Nama-nama seperti Tjut Nyak Dien dari Aceh, Nyi Ageng Serang dari Jawa, serta R.A. Kartini dari Jawa Tengah menjadi bukti nyata bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam sejarah bangsa.
Mereka berjuang dengan cara masing-masing, baik melalui perlawanan fisik maupun gagasan tentang pendidikan dan kesetaraan. Kesadaran ini semakin berkembang ketika organisasi modern mulai tumbuh di awal abad ke-20.
Perkembangan Organisasi Perempuan Pasca 1908
Setelah berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908, semangat kebangkitan nasional turut mendorong lahirnya berbagai perkumpulan perempuan di berbagai daerah. Organisasi-organisasi ini menjadi wadah bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan bersama.
Beberapa organisasi perempuan yang muncul pada masa itu antara lain Aisyiyah, Wanita Katolik, dan Putri Merdeka. Kehadiran organisasi-organisasi ini menandai babak baru perjuangan perempuan, tidak hanya sebagai pendukung, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial dan pendidikan.
Peran perempuan kemudian semakin mendapat perhatian nasional dalam momentum penting berikutnya.
Pada Kongres Pemuda Indonesia pertama yang berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 1928, isu tentang kedudukan perempuan dalam masyarakat menjadi salah satu topik penting yang dibahas. Perempuan mulai dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan bangsa.
Momentum ini sering disebut sebagai salah satu titik awal lahirnya gagasan untuk menyatukan gerakan perempuan dalam skala nasional. Dari sinilah sejarah Hari Ibu mulai menemukan fondasinya yang lebih kuat.
Kongres Perempuan Indonesia I: Tonggak Sejarah Hari Ibu
Puncak dari perjalanan sejarah tersebut terjadi pada 22-25 Desember 1928, ketika Kongres Perempuan Indonesia I digelar di Yogyakarta. Kongres ini menjadi peristiwa bersejarah karena berhasil mempertemukan berbagai organisasi perempuan dari seluruh Indonesia dalam satu forum nasional.
Tujuan utama kongres ini adalah menyatukan visi dan perjuangan perempuan Indonesia. Lebih dari itu, kongres menegaskan bahwa perempuan memiliki kedudukan yang sejajar dengan laki-laki dalam memperjuangkan kemerdekaan dan membangun bangsa.
Dalam kongres tersebut, lahir tiga mosi penting yang mencerminkan kebutuhan nyata perempuan saat itu, yaitu:
Penambahan sekolah dasar bagi anak perempuan agar akses pendidikan lebih merata.
Perbaikan aturan taklik nikah demi melindungi hak perempuan dalam pernikahan.
Penyempurnaan aturan bantuan bagi janda dan anak yatim pegawai negeri.
Ketiga mosi ini menunjukkan bahwa perjuangan perempuan tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menyentuh aspek sosial, hukum, dan kesejahteraan.
Penetapan Resmi Hari Ibu di Indonesia
Perjalanan panjang tersebut akhirnya berujung pada penetapan Hari Ibu secara resmi. Pada 22 Desember 1938, dalam Kongres Perempuan Indonesia III yang berlangsung di Bandung, tanggal 22 Desember dideklarasikan sebagai Hari Ibu.
Penetapan ini kemudian diperkuat melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Sejak saat itu, Hari Ibu diperingati setiap tahun oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Hingga tahun 2023, Hari Ibu di Indonesia telah memasuki peringatan ke-95, menjadi bukti konsistensi bangsa dalam menghargai peran perempuan.
Makna Mendalam Peringatan Hari Ibu
Hari Ibu di Indonesia memiliki makna yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar perayaan peran ibu dalam keluarga. Peringatan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap seluruh perempuan Indonesia, atas dedikasi dan kontribusinya dalam berbagai bidang kehidupan.
Hari Ibu juga menjadi pengingat bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa, baik di sektor pendidikan, ekonomi, sosial, maupun politik. Oleh karena itu, peringatan ini diharapkan mampu mendorong semua pihak untuk terus membuka ruang partisipasi yang adil bagi perempuan.
Selain itu, Hari Ibu menjadi momentum untuk mendorong perempuan Indonesia agar terus meningkatkan kapasitas dan kompetensi, berani bersuara, serta berperan aktif dalam menentukan arah kebijakan dan masa depan negara.
Lebih dari sekadar peringatan tahunan, Hari Ibu diharapkan mampu memperkuat persatuan perempuan Indonesia. Semangat saling menginspirasi, bekerja sama, dan berkontribusi untuk kemajuan bangsa menjadi nilai utama yang diwariskan dari sejarah panjang perjuangan perempuan.
Dengan memahami sejarah Hari Ibu, masyarakat diharapkan tidak hanya merayakannya secara simbolis, tetapi juga menghayati nilai perjuangan, kesetaraan, dan keberanian perempuan Indonesia dalam membangun negeri. (anp)












