bernasnews – Kendaraan roda tiga BAJAJ – MAXAUTO Indonesia – Maxride, menggelar acara “Sarasehan Media” dalam rangka memperkenalkan Baja RE, Kendaraan Alternatif 1001 Solusi untuk Semua Lapisan Masyarakat di Kota Yogyakarta, bertempat di Taman Kuliner PASTY, Yogyakarta, Kamis (18/12/2025).
Acara yang dipandu oleh Adhika Yosmik, Senior Digital Marketing Manager Maxride dan Budhie Trisaputra, City Manager MAXAUTO Indonesia Area Yogyakarta ini, dihadiri oleh puluhan wartawan dari berbagai media di Yogyakarta.
Juga menghadirkan narasumber Dr. Y. Sri Susilo, Akademisi/ Dosen FBE UAJY; Mohammad Sofyan, ST, Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta & Penggiat UMKM; Hj. Sri Herawati, SH,M.Si, Ketua LPMK Panembahan.
Dalam sambutan pengantarnya, Budhie Trisaputra memaparkan dan memperkenalkan kemanfaat dari Bajaj Maxride. Pertama adalah untuk menjawab bagaimana kendaraan alternatif yang bayak solusi untuk semua lapisan masyarakat, khususnya kendaraan pendukung operasional UMKM.
“Bajaj Maxride berdiri tahun 2023, tepatnya 2 November, launching di Makasar, dengan jumlah 50 driver. Tahun 2024 buka cabang di Medan, lalu tahun 2025 kita ekspansi di Jawa dan Pekanbaru. Termasuk di 2025 ini kita buka cabang di Jogja untuk Maxride dan MAXAUTO,” ujar Budhie.
Lanjut Budhie menjelaskan, Maxride secara nasional kurang lebih telah di-down load 1.000.000 user. Sedangkan diukur untuk perjalanannya sendiri telah menempuh berkisar 14 juta kilometer atau setara 14 kali perjalanan bumi ke bulan. Kekinian seluruh cabang di Indonesia terdapat 3.200 driver.
“Ada dua varian produk Bajaj yang dijual di Indonesia, yaitu jenis untuk angkutan barang Baja Maxima Cargo dan jenis angkutan penumpang berupa Bajaj RE. Sementara aplikasi yang dipakai adalah Maxride, yang mengusung semacam revolusi transportasi roda tiga yang modern dan handal,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Budhie juga mempresentasikan kehandalan Bajaj RE sebagai moda transportasi penumpang dengan menunjukkan kualitas dan ketangguhan produknya melalui pengujian performa di sejumlah jalur menanjak ikonik, dengan kontur perbukitan yang ada di DIY.
“Didukung mesin 200cc yang bertenaga dan responsif, Baja RE dirancang untuk menghadapi berbagai kondisi jalan, mulai dari tanjakan curam khas jalur wisata Gunungkidul hingga rute panjang menuju kawasan Kaliurang yang membutuhkan tenaga berkelanjutan, mampu melaju mulus tanpa kehilangan tenaga,” ungkapnya.
Saat ditanya wartawan perbedaan Bajaj yang dikenal selama ini di Jakarta, Budhie menjelaskan, bahwa Baja RE berbeda, tidak hanya unggul di sisi tenaga namun juga dibekali mesin Euro 4 yang membuat performa lebih halus, minim getaran, tidak bising, hemat bahan bakar, serta lebih ramah lingkungan.
Pada sesi ke-dua, Y. Sri Susilo selaku narasumber pertama mengemukakan, bahwa selaku konsumen transportasi umum di Jogja masing-masing memiliki keunggulan namun perjalanan pulang dari jalan-jalan belanja di pasar maka pilihannya ya hanya Maxride lantaran lebih praktis untuk membawa barang belanjaan.
Selaku ekonom, Susilo menekankan kontribusi Bajaj Maxride dalam membuka lapangan kerja danmemberikan penghasilan yang stabil bagi mitra pengemudi (driver). “Dalam perhitungan kalkulasi ekonomi, selain berperan sebagai layanan transportasi bagi mitra driver pun menguntungkan,” ujar Dosen FBE UAJY.
Menurut Susilo yang juga penggiat wisata, Baja Maxride juga membantu menurunkan anka pengangguran sekaligus memberikan sumber pendapatan yang stabil dan berkelanjutan bagi mitra driver. Ia pun berharap Bajaj Maxride dapat mengajak lebih banyak media, mitra, serta pelaku UMKM.
“Berkolaborasi dengan melihat langsung potensi transportasi ramah lingkungan. Juga memahami dampak ekonomi positif yang dihasilkan bagi Yogyakarta sebagai kota wisata, kota pendidikan dan budaya serta kota kreatif,” ujar Susilo, yang juga pengurus KADIN DIY.
Sementara itu, Hj. Sri Herawati sebagai narasumber ke-dua lebih menekankan pada testimoni sebagai konsumen Bajaj Maxride. Menuutnya, moda transportasi roda tiga ini mampu menjawab tantangan kemacetan dan kebutuhan mobilitas masyarakat, terutama UMKM di perkampungan.
“Dalam satu armada, Bajaj RE mampu mengangkut satu driver dan tiga penumpang sekaligus tetunya bagi ibu-ibu ini sangat efisien dalam pembiayaan. Juga menawarkan moda transportasi yang aman, nyaman, terjangkau dan ramah lingkungan,” ujarnya.
“Ini adalah solusi transportasi yang relevan untuk Kota Yogyakarta. Saya juga berharap terkait pengelolaan mitra driver hendaknya ada semacam SOP dalam hal pelayanan dan berbusana demi kenyamanan penumpangnya. Misal, tidak memakai celana pendek dan bersandal jepit,” imbuh Hj. Herawati.
Sebagai narasumber ke-tiga, Mohammad Sofyan dalam paparannya lebih menekankan pada karakter kendaraan dan kota. Menurutnya, kehadiran Bajaj Maxride ini seperti ditunggu-tunggu oleh masyarakat Yogyakarta,
“Saya juga memberikan apresiasi pada manajemen yang telah lengkap legalitasnya. Yogyakarta ini sebagai kota yang mempunyai karakter sebagai kota pariwisata sehingga sampai saat ini sebagai kota dengan kunjungan pariwisata terbesar. Juga sebagai kota budaya, kota seni dan kota kreatif,” ujarnya.
Dikatakan, karakter kota Yogyakarta dengan karakter Bajaj Maxride ini sangat pas dan sangat Jogja banget. Untuk melengkapi sebagai transportasi yang berkarakter, politisi PAN ini memberikan apressiasi sebutan Maxride sebagai “Bajaj van Jogja”.
Pada bagian lain, Ketua Asosiasi Driver Bajaj, Sapto menambahkan, bahwa telah terbentuk 6 komunitas driver Bajaj di Jogja, yakni Komunitas Batman, Komunitas Bajuri, Komunitas BBJ, Komunitas Balada, Komunitas nJeron Beteng, dan Komunitas Bajaj Sektor Sleman.
“Dari komunitas-komunitas tersebut kami juga telah membentuk Satgas,. Tujuannya satu, menjaga ketertiban di masyarakat, termasuk untuk mengamankan barang penumpang yang tertinggal. Juga untuk menentukan tempat-tempal mangkal yang jangan sampai mengganggu arus lalu lintas,” ujarnya.
“Akhir Desember ini, semua driver Bajaj Maxride berbusana sopan harus memakai celana panjang dan memakai sepatu sebagaimana masukan dari narasumber dan teman-teman wartawan tadi. Meskipun anggota kami semnuanya telah mempunyai SIM C sesuai persyaratan, namun kami juga memprogramkan untuk tahun depan juga harus mempunyai SIM A,” pungkas Sapto. (ted)












