Berziarah ke Gua Maria Lawangsih dan Gua Maria Pangiloning Leres

Suasana di Gua Maria Lawangsih di kawasan Pegunungan Menoreh, Kulon Progo, DIY. (Foto : Kiriman Bernadekta Kushayati Mawartiningtyas)

bernasnews – Gua Maria Lawangsih dan Gua Maria Pangiloning Leres, terletak di kawasan Pegunungan Menoreh, tepatnya di Dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dua tempat ziarah ini secara kegerejaan berada di wilayah Paroki Administratif Santa Maria Fatima Pelem Dukuh, yang berinduk di Paroki Santa Maria Tak Bernoda Nanggulan, Kulon Progo, Kevikepan Yogyakarta Barat, Keuskupan Agung Semarang (KAS). Paroki Administratif Santa Maria Fatima Pelem Dukuh pada mulanya merupakan stasi, dan pada tanggal 22 Desember 2013 resmi menjadi Paroki Administratif.

Dalam leaflet yang dibuat oleh Panitia Pengelola Goa Maria Lawangsih, Paroki Administratif Santa Maria Fatima Pelem Dukuh disebutkan bahwa, Gua Maria Pangiloning Leres dibuat atas gagasan Romo. A. Adi Wardoyo, Pr, yang berkeinginan membuat tempat doa di sekitar Gereja Santa Maria Fatima Pelem Dukuh.

Gua ini berada di sebelah barat/atas gedung gereja, yang oleh masyarakat dikenal sebagai Gunung Pangilon, sehingga tempat doa ini diberi nama Gua Maria Pangiloning Leres. Pembukaan Gua Maria Pangiloning Leres dilaksanakan pada bulan Mei 1994,ditandai dengan pemasangan Patung Bunda Maria dan Misa Pembukaan Bulan Maria oleh Romo A. Adi Wardoyo,Pr dan Romo Fs. Suharto Widodo, Pr.

Pada tahun 2000 atas prakarsa dan bantuan dari RomoTri Wahyono, Pr dilakukan pemasangan Patung Yesus di area Gua Maria Pangiloning Leres. Kemudian pada tahun 2007atas bantuan dana dari salah satu umat di Jakarta, dibangunlah Panti Doa di kompleks Gua Maria Pangiloning Leres. Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 25 November 2007 oleh Romo Ign. Slamet Riyanto, Pr. Selanjutnya pada tanggal 29 Juni 2008, Panti Doa Gua Maria Pangiloning Leres diresmikan oleh Romo Ig. Sukawalyana, Pr.

Tidak jauh dari lokasi Gua Maria Pangiloning Leres terdapat sebuah gua alami, tempat bersarang kelelawar, yang oleh penduduk setempat dikenal dengan sebutan Gua Lawa. Di dalam gua tersebut juga terdapat sumber air yang dimanfaatkan oleh warga untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi, memcuci, memasak dan lainnya.

Pada tahun 1988 muncul ide dari dewan stasi yaitu M. Warno Saputro dan h. Supino untuk menjadikan Gua lawa sebagai tempat doa (Gua Maria), namun karena sesuatu dan lain hal, ide itu belum dapat diwujudkan.

Pada tahun 2003 muncul kembali ide untuk menjadikan Gua Lawa menjadi tempat doa, karena tanah lokasi Gua Lawa sudah dibeli oleh Supino, yang menjabat sebagai dewan stasi pada masa itu.

Pada tahun 2008 dimulailah pembangunan taman doa, yang diberi nama Gua Maria Lawangsih. Nama tersebut diambil untuk mengabadikan nama asli gua, sekaligus memiliki makna rohani. “Lawangsih“ berasal dari kata lawang (bahasa Jawa : pintu, dan sih (bahasa Jawa : rahmat dan berkat). Gua Maria Lawangsih diharapkan dapat menjadi pintu berkat atau rahmat bagi para pendoa, peziarah dan masyarakat di sekitarnya.

Persiapan pembukaan Gua Lawa menjadi Gua Maria Lawangsih dilakukan pada tanggal 3 Juli 2008 sampai dengan 24 Agustus 2008 meliputi pernyataan hibah tanah secara lisan, survey lokasi oleh Romo Paroki Romo Ig. Suka Walyana Pr, Dewan Stasi dan Calon Donatur Erick dari Jakarta. Pembuatan gambar, kalkulasi dana oleh Panut dari Gogoluas, dan rapat rapat perencanaan oleh dewan stasi. Pencangkulan pertama di Gua Lawa dilakukan pada hari Senin Kliwon, tanggal 25 Agustus 2008.

Pada tanggal 29 September 2009, dilakukan pemasangan Patung Bunda Maria yang diawali dengan prosesi dari Gereja Santa Maria Fatima Pelem Dukuh, dan dipimpin oleh Romo Ig. Slamet Riyanto, Pr. Pada tanggal 30 September 2009 dilakukan Misa Perdana di Gua Maria lawangsih,oleh Romo Ig. Slamet Riyanto, Pr , yang sekaligus merupakan misa pembukaan bulan Rosario.

Selanjutnya pada tanggal 1 Mei 2010, Gua Maria Lawangsih diresmikan oleh Bupati Kulonprogo Drs. Toyo Santoso Dipo, dan tiga tahun kemudian, yakni pada tahun 2013 dilaksanakan pemberkatan oleh Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr. Johanes Pujosumarto.

Berjalannya waktu, semakin lengkaplah fasilitas yang tersedia di Gua Maria Lawangsih. Selanjutnya pada tahun 2018 Kapel Gua Maria Lawangsih dan Rumah Singgah diberkati oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko.

Saat ini, secara rutin di Gua Maria Lawangsih, setiap hari Kamis pukul 16.00 WIB diselenggarakan misa ekaristi yang diikuti oleh penduduk sekitar dan juga para peziarah.

SEJUK, INDAH DAN ALAMI

Gua Maria Lawangsih tempatnya sejuk, indah dan alami. Gua ini merupakan gua alami dengan stalagtit yang menghiasi langit langit gua. Air yang menetes dari stalagtit menambah suasana gua semakin asri.

Di sisi kanan Goa Maria terdapat sebuah gua memanjang yang tadinya tertutup tanah, kemudian digali oleh umat dan kemudian menjadi tempat untuk hening dan bersemedi.

Tempat yang berada jauh dari keramaian kota, dengan mata air yang jernih dan sejuk,suara air yang gemericik, dan pemandangan alam yang memukau, membuat tempat ini sangat nyaman untuk berdoa dan mendekatkan diri pada sang pencipta.

Saat ini, fasilitas yang tersedia relatif sudah cukup lengkap. Tersedia pendopo untuk misa dan juga tempat istirahat para peziarah. Stasi jalan salib pendek dan juga fasilitas pengambilan air suci. Toilet bersih dan area parkir juga tersedia bagi para peziarah.

Fasilitas yang belum tersedia saat ini adalah sarana untuk para difabel. Jalan menuju pelataran gua cukup curam dengan anak tangga yang lumayan tinggi, sehingga tidak memungkinkan penggunaan kursi roda, demikian juga fasilitas toilet untuk divabel belum tersedia.

Salah seorang pengelola Gua Maria Lawangsih Lukas Suwartono mengemukakan bahwa ke depan akan dibangun fasilitas tersebut, agar para difabel juga dapat berkunjung ke lokasi ini.

Diharapkan ke depannya, Gua Maria Lawangsih semakin banyak dikunjungi oleh para peziarah, menjadi salah satu tujuan favorit bagi mereka yang hendak mencari ketenangan dan kekhusyukan doa, diantara rimbunnya pepohonan , dan symponi suara alam di kawasan pegunungan menoreh.

RUTE YANG CUKUP MENANTANG

Untuk menuju lokasi tempat ini ada dua rute yang dapat ditempuh. Rute pertama, dengan jarak tempuh yang lebih dekat yaitu : Jalan Godean- Perempatan Kenteng – lurus ke barat, melewati resto- resto dan café yang cukup populer.

Melalui jalur ini disarankan menggunakan kendaraan yang prima, karena terdapat banyak tanjakan yang curam dan tikungan, banyak kendaraan yang mengalami kendala saat melewati rute ini.

Rute kedua, dengan jarak tempuh yang relatife lebih jauh yaitu : Perempatan Kenteng- belok kiri atau ke arah selatan, melewati Gereja Nanggulan, menuju arah Pasar Sribit. Melewati rute ini jalan relatif lebih landai, meskipun naik turun dan banyak tikungan.

Pengelola juga sudah memasang petunjuk arah menuju lokasi. Jadi jika Google Maps mengalami blankspot, peziarah tidak perlu kawatir. Terlebih lagi, penduduk sekitar sangat ramah, jika peziarah memerlukan bantuan informasi terkait arah menuju lokasi.

Disarankan menggunakan kendaraan roda dua, roda empat dan sejenis elf atau bus kecil dengan kondisi yang prima untuk menuju ke lokasi ini.

Untuk peziarah dari luar kota yang menggunakan bus besar, tidak perlu khawatir karena pengelola Gua Maria Lawangsih dapat membantu menyediakan shelter jika diperlukan. Peziarah dapat transit di Gereja Nanggulan dan menghubungi pengelola Gua Maria, agar dapat dibantu sehingga dapat sampai ke lokasi.

Fasilitas penginapan seperti homestay dan rumah retreat juga tersedia di sekitar lokasi, sehingga peziarah yang datang dari jauh tidak perlu khawatir jika memerlukan tempat untuk bermalam. Area Goa Maria Lawangsih juga terbuka 24 jam untuk para peziarah. (mar/Bernadekta Kushayati Mawartiningtyas, Umat Paroki Gereja Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman, DIY)