News  

Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi, Hadirkan ‘Alternatif Teori’ Ala Hanung Bramantyo

Hanung Bramantyo dalam kelas Sinema di AMIKOM, Senin (1/12/2025). foto: birgita/bernasnews

bernasnews – Jagat perfilman Tanah Air kembali diguncang dengan kehadiran karya terbaru sutradara kondang Hanung Bramantyo. Sang sutradara kali ini menghadirkan film bertema tragedi Lubang Buaya, namun bukan dalam format sejarah militer yang selama ini familiar. Karya terbarunya berjudul Bolong: 309 Hari Sebelum Tragedi, sebuah proyek yang disebut sangat berbeda dibanding film-film sebelumnya.

Dengan pendekatan genre horor berbalut unsur sejarah, film ini mencoba membangkitkan kembali suasana mencekam yang terjadi di Desa Lubang Buaya pada tahun 1964, satu tahun sebelum peristiwa 30 September 1965. Hanung mempertaruhkan reputasinya dengan narasi yang memperlihatkan sisi psikologis masyarakat di masa itu, bukan hanya tragedi fisiknya.

Kengerian Dibangun dari Ketakutan, Bukan Kekerasan

Film ini diproduseri oleh Sherly Kosasih dan dibintangi oleh Anya Zen, Carissa Perusset, serta sejumlah aktor lainnya yang berperan sebagai penduduk desa. Mereka digambarkan hidup dalam atmosfer teror oleh sejumlh jasad yang bolong. Cerita bergerak pada saat serangkaian pembunuhan misterius mulai terjadi tanpa kejelasan pelaku maupun motifnya.

Bagi Hanung, inti kengerian bukan hanya dalam unsur darah atau kekerasan. Ia menilai teror justru lahir dari ketakutan yang perlahan menghilangkan kemanusiaan.

“Orang-orang kala itu hidup dalam ketakutan. Mereka tidak tahu siapa lawan, siapa kawan. Justru di situ letak terornya,” ungkapnya di Universitas Amikom Yogyakarta, Senin (1/12/2025).

Pendekatan psikologis inilah yang menurut Hanung membedakan “Bolong” dari karya bertema sejarah lainnya. Ia ingin menghidupkan kembali rasa ketidakpastian ekstrem yang dialami masyarakat satu tahun sebelum tragedi Lubang Buaya pecah.

Film Katarsis Hanung Bramantyo

Pada kesempatan yang sama, Hanung menegaskan bahwa film ini tidak hanya merekonstruksi kisah, tetapi sekaligus menyampaikan kritik terhadap negara. Judul “Bolong”, menurutnya, merujuk pada lubang di mana tujuh Pahlawan Revolusi dibunuh pada 1965, sebuah fakta yang menurutnya masih kurang transparan hingga kini.

Ia mengungkapkan kemarahannya terhadap cara negara memperlakukan sejarah tragedi itu. Dalam film ini, Hanung menampilkan ceritanya dengan cara yang berbeda. Jika hingga saat ini tragedi kejadian 1965 masih abu-abu dengan banyak teori konspirasi yang banyak beredar, Hanung menghadirkan teori keenam.

“Melalui film ini saya mengungkapkan kemarahan saya kepada negara ini, kenapa negara ini begitu tidak mau terbuka akan peristiwa 50 tahun lalu, tentang pembunuhan itu,” katanya.

“Film ini ‘teori keenamnya;,” ujar Hanung terkekeh saat menjelaskan.

Film ini dimulai dengan latar waktu tahun 1964, dan Hanung menekankan bahwa tujuan utamanya adalah menggambarkan situasi sosial sebelum tragedi, bukan mengulang kembali cerita yang umum diketahui publik.

Optimis Bisa Tayang di Indonesia

Sebagaimana disebutkan, film ini dijadwalkan tayang perdana bukan di Indonesia, melaikan di Rotterdam International Film Festival di tahun 2026. Hanung menyadari bahwa tema yang ia angkat sangat sensitif, terlebih berkaitan dengan sejarah kelam negara dan kontroversi seputarnya.

Ia tidak menutup kemungkinan film ini akan menghadapi kendala dalam proses penayangan di dalam negeri. Namun ia tetap menunjukkan kepercayaan diri tinggi terhadap filmnya. Meski memprediksi adanya potensi penolakan, Hanung tetap optimis film ini bisa diputar secara luas di Indonesia.

“Saya optimis bisa tayang (di Indonesia),” bebernya.

Bila berhasil lolos sensor dan tayang luas, film ini tampaknya akan menjadi salah satu karya berani dalam perfilman Indonesia.