bernasnews – Pasar film internasional kini semakin serius memandang Indonesia sebagai pemasok konten potensial. Para pemain besar distribusi dan produksi global yang hadir di JAFF Market menegaskan bahwa keberhasilan sebuah film untuk menembus pasar dunia tidak lagi bergantung pada genre, melainkan pada kekuatan cerita serta kemampuan produser untuk membangun kolaborasi internasional. Pendekatan baru ini menandai babak baru ekosistem perfilman Indonesia di mata distributor global.
CEO Mokster Films, Nelson Mok, menegaskan bahwa pihaknya hanya tertarik bekerja dengan pembuat film yang benar-benar siap berkolaborasi.
“Saya lebih suka bekerja dengan produser atau pembuat film, karena mereka sangat kolaboratif,” ungkapnya dalam diskusi
Ia menekankan bahwa kolaborasi bukan hanya soal niat go international, melainkan aksi nyata.
“Maksudnya, mereka tidak hanya mengatakan ingin go international, tapi benar-benar melakukannya dan bekerja sama dengan sales agent mereka untuk masuk ke pasar internasional.”
Nelson juga mendorong para produser Indonesia agar tidak terjebak pada pola film yang sama setiap tahun.
“Kalau kita melakukan hal yang sama terus-menerus, kita sudah bisa menebak bagaimana box office-nya. Saya akan bilang saya mendorong produser untuk mengambil sedikit risiko,” katanya.
Menurutnya, keberanian melakukan eksplorasi kreatif diperlukan agar judul film mampu bersaing dengan ratusan proyek lain di pasar global yang sangat padat.
Konten Indonesia Dinilai Semakin Berkualitas dan Kompetitif
Dari perspektif Vietnam, Business Director Mockingbird Pictures, Phong Duong, mengungkapkan kekagumannya karena ekosistem industri Indonesia berkembang sangat cepat.
“Saya sangat terkesan karena saya juga datang tahun lalu, dan tahun ini ada lebih banyak orang, lebih banyak perusahaan baru, lebih banyak konten baru bagi saya,” beber Duong.
Ia mengaku bahwa perusahaannya membutuhkan konten untuk sistem distribusi global yang telah mereka bangun.
Tidak hanya horor yang selama ini jadi primadona, Mockingbird juga mulai membuka pintu bagi drama dan animasi Indonesia. Ia menjelaskan bahwa cerita dengan kedekatan budaya memberi peluang besar untuk menargetkan penonton diaspora di berbagai negara. Kesuksesan perilisannya di Amerika Serikat bersama komunitas Vietnam menjadi contoh.
“Film saya dirilis di Amerika Utara dan mencapai hampir 1,7 juta USD,” jelasnya.
Cerita Menjadi Kunci dalam Co-Production Asia
Eric Lin, General Manager of International Content Damai Entertainment dari Tiongkok, menilai era co-production tidak lagi sebatas menyatukan talenta dari dua negara demi kepentingan pasar. Kini seluruh strategi bermuara pada kekuatan cerita.
“Kunci co-production bagi kami sekarang adalah menggabungkan sumber daya dari berbagai wilayah untuk satu film,” tegasnya.
Ia juga menyebut bahwa inti emosional sebuah cerita menentukan apakah penonton dapat terhubung, apa pun genrenya. Eric bahkan mematahkan anggapan bahwa horor mustahil dibuat di Tiongkok.
“Sensor sebagai alasan untuk ‘malas’,” ucapnya.
Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana film mampu menciptakan pengalaman menonton bersama, terutama bagi penonton muda yang kini perlu dorongan untuk kembali ke bioskop.
Keseriusan Jepang Membangun Produksi Lokal di Indonesia
Perwakilan Jepang, Shiori Takata dari TOEI, menegaskan bahwa pihaknya sedang menggencarkan model co-production baru, film Indonesia untuk penonton Indonesia, lalu didistribusikan ke pasar internasional. Genre utama yang dibidik adalah horor dan aksi, dengan kisaran budget 1–2,5 juta USD tergantung proyek. TOEI mencari produser, penulis, dan sutradara Indonesia untuk membangun kolaborasi jangka panjang.
Genre Tidak Lagi Menentukan Ceritalah yang Menjual
JAFF Market menegaskan perubahan besar dalam lanskap perfilman Asia. Perusahaan distribusi global tidak lagi terpaku pada genre, tetapi pada cerita yang kuat, pendekatan produksi yang cerdas, serta kolaborasi internasional sejak awal. Indonesia kini berada pada posisi strategis, bukan hanya karena pasar lokal besar, tetapi karena kontennya mulai dianggap relevan bagi penonton global.
Film Indonesia semakin dekat dengan panggung dunia. Pertanyaannya dalam akhir diskusi, apakah para pembuat film siap mengambil risiko dan keluar dari zona nyaman?












