bernasnews — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (KPwBI DIY) menyelenggarakan acara “Story Telling Pahlawan Nasional Sudirman”, dengan topik “Warisan Kepahlawanan Fondasi Masa Depan”, bertempat di Bangsal Mataram, KPwBI DIY, Yogyakarta, pada Senin (24/11/2025).
Seperti diketahui, bahwa Jenderal Besar Raden Sudirman adalah Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama dan salah satu pahlawan nasional paling dihormati di Indonesia, yang dikenal sebagai Bapak Gerilya Indonesia. Perjuangannya yang gigih dan tanpa pamrih sangat krusial dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia setelah Proklamasi 1945.
Hadir dalam cara tersebut antara lain Sri Darmadi Sudibyo, Kepala Perwakilan BI DIY; Hermanto, Deputi Kepala BI DIY; Rudy Badrudin, Wakil Ketua ISEI Cabang Yogyakartra;, Donny S, Megananda, Bahramus DIY, dan pejabat di lingkungan KPwBI DIY.
Juga hadir perwakilan pengurus IPEBI DIY, ISEI Cabang Yogyakarta, MGMP Ekonomi Kota Yogyakarta, Pengurus PPBI DIY dan PIPEBI DIY.
Narasumber story telling adalah Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi Sudirman merupakan putra bungsu Jenderal Besar Sudirman. Sedangkan yang bertugas sebagai moderator adalah Y. Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, yang juga dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY.
Dalam paparannya, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi Sudirman mengemukakan, bahwa belajar dari semangat perjuangan Jenderal Soedirman berarti meneladani patriotisme, nasionalisme, pantang menyerah, dan rela berkorban demi bangsa dan negara.
Menurut Teguh, Jenderal Besar Sudirman contoh keteguhan, keberanian, dan kepemimpinan yang luar biasa, seperti saat memimpin gerilya meskipun dalam kondisi sakit parah. “Semangat ini mengajarkan agar tidak mudah putus asa menghadapi kesulitan dan pentingnya persatuan serta cinta tanah air,” ungkapnya.
Semangat juang Jenderal Soedirman relevan untuk saat ini karena juga memberikan teladan kepemimpinan yang berorientasi pada rakyat, yang dapat diterapkan dalam berbagai bidang, mulai dari menghadapi tantangan sosial hingga membangun ketahanan pribadi dan bangsa.
“Jenderal Besar Sudirman menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi perjuangan dan bahwa kolaborasi antarwarga sangat penting untuk mencapai tujuan bersama,” jelas Muhammad Teguh, yang baru berusia satu tahun saat ayahnya (Jenderal Sudirman, red) wafat.
Pada bagian lain, Sri Darmadi Sudibyo mengatakan semangat juang Jenderal Sudirman tetap relevan di masa depan karena menanamkan nilai-nilai seperti pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan, nasionalisme dan cinta tanah air untuk membangun bangsa, serta integritas dan dedikasi untuk pengabdian yang tulus.
“Nilai-nilai ini menjadi teladan untuk membentuk karakter yang ulet, patriotik, dan memiliki komitmen dalam menghadapi tantangan zaman,” tegas Darmadi, saat sambutan dalam membuka acara story telling.
Forum yang diselenggarakan KPwBI DIY tersebut dalam rangka memperingati Hari Pahlawan. Dari hasil diskusi dapat dicatat bahwa semangat juang Jenderal Sudirman relevan bagi anak muda sebagai teladan sikap pantang menyerah, nasionalisme tinggi, dan integritas dalam menghadapi tantangan di era modern.
“Semangat tersebut dapat diadaptasi menjadi ketangguhan dalam berbagai profesi baik dari aspek disiplin, kepemimpinan, relijiusitas dan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan yang berubah,” kata Y. Sri Susilo, kepada awak media, usai kegiatan. (*/ ted)












