News  

Awal Mula Kenapa Ratusan Kurir Shopee Food Datangi Asrama Mahasiswa di Condongcatur Jogja

Ilustrasi awal mula massa kurir Shopee Food datangi asrama mahasiswa di Condongcatur, Sleman pada 17 November 2025 malam. (Pixabay.com)

bernasnews – Ketegangan terjadi di kawasan Condongcatur, Depok, Sleman, pada Senin malam, 17 November 2025. Ratusan kurir layanan Shopee Food mendatangi sebuah asrama mahasiswa di Jalan Pringgondani, menimbulkan suasana yang hampir berujung bentrokan.

Peristiwa ini menjadi sorotan publik setelah video dan foto kerumunan massa tersebar luas di media sosial. Video kerumunan massa ini muncul di TikTok dan Instagram.

Ada rombongan kurir Shopee Food sudah mulai berkumpul sejak sore hari. Jumlah mereka terus meningkat, hingga diperkirakan mencapai sekitar 100 orang menjelang pukul 22.00 WIB. Mereka memenuhi ruas jalan menuju asrama mahasiswa yang menjadi titik tujuan.

Kondisi ini membuat suasana di Pringgondani menjadi tegang. Warga sekitar ikut menyaksikan keramaian yang tidak biasa, sementara aparat keamanan mulai bersiaga melihat eskalasi yang meningkat cepat.

Pemblokadean Akses oleh Aparat Keamanan

Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, pihak kepolisian segera menutup akses menuju gang yang mengarah ke asrama mahasiswa tersebut. Pemblokadean dilakukan sebagai langkah untuk mencegah massa masuk ke area permukiman dan menghindari kemungkinan benturan fisik antara kurir dan para penghuni asrama.

Tidak hanya polisi, sejumlah anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga terlihat berjaga di lokasi. Kehadiran personel gabungan ini menunjukkan bahwa aparat memandang situasi cukup serius dan perlu penanganan intensif.

Pemicu Kejadian Menurut Cerita yang Beredar di Media Sosial

Hingga berita ini ditulis, Kepolisian Resor (Polres) Sleman belum memberikan pernyataan resmi terkait kronologi lengkap kejadian. Meski begitu, berbagai narasi muncul di media sosial, terutama melalui komentar warganet di TikTok dan Instagram.

Salah satu komentar yang paling banyak dibicarakan datang dari akun bernama Dany Sanjaya. Ia menuliskan dugaan urutan kejadian sebagai berikut:

“Kronologi: driver ambil orderan, ditawari minum minuman keras tetapi menolak, lalu dipukul. Cuma dengar begitu, tidak tahu aslinya.”

Komentar tersebut langsung mengundang perhatian besar dengan lebih dari 100 balasan. Banyak pengguna lain berdiskusi mengenai kemungkinan penyebab, motif, dan apakah informasi itu benar. Namun hingga kini belum ada klarifikasi resmi yang dapat memverifikasi kebenaran cerita tersebut.

Topik ini memicu reaksi beragam dari warganet. Beberapa pengguna media sosial membandingkan insiden ini dengan kejadian serupa yang pernah terjadi pada bulan Juli sebelumnya di wilayah Godean. Banyak yang menyayangkan potensi kekerasan ini, sementara sebagian lainnya menilai bahwa kasus seperti ini menunjukkan pentingnya perlindungan bagi kurir yang bekerja di lapangan.

Diskusi di media sosial semakin ramai seiring beredarnya video yang memperlihatkan kerumunan kurir dan penjagaan aparat keamanan. Namun tanpa pernyataan resmi kepolisian, warganet masih berspekulasi mengenai detil insiden yang memicu mobilisasi besar tersebut.

Laporan ke Polresta Sleman Sebelum Massa Bergerak

Sebelum kerumunan besar terjadi di Pringgondani, korban dan beberapa perwakilan kurir sempat mendatangi Kepolisian Resor Kota Sleman untuk membuat laporan dugaan penganiayaan. Laporan itu diduga menjadi pemicu solidaritas para kurir lainnya yang kemudian datang berbondong-bondong ke lokasi asrama mahasiswa.

Solidaritas antarkurir memang bukan hal baru. Banyak dari mereka membentuk komunitas kuat yang saling mendukung ketika ada rekan yang mengalami masalah di lapangan. Tidak mengherankan jika kabar dugaan penganiayaan ini menyebar cepat dan memicu aksi massa.

Belum Ada Detail Resmi dari Kepolisian

Sampai saat ini, beberapa hal masih belum bisa dipastikan karena belum ada rilis resmi dari pihak kepolisian. Beberapa informasi yang masih menunggu klarifikasi antara lain kronologi lengkap kejadian sebelum laporan dibuat, identitas serta jumlah korban yang terlibat.

Belum diketahui pasti motif insiden dan konteks terjadinya dugaan penganiayaan serta status penyelidikan dan apakah sudah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Ketidakjelasan ini membuat masyarakat hanya mengandalkan informasi dari video amatir dan komentar netizen, yang tentu saja belum dapat dipastikan kebenarannya.

Meski kedatangan ratusan kurir sempat menimbulkan ketegangan, situasi akhirnya dapat dikendalikan oleh aparat keamanan yang berjaga sepanjang malam. Tidak terjadi bentrokan fisik, namun suasana mencekam dirasakan warga sekitar hingga massa membubarkan diri.

Kini publik menantikan pernyataan resmi dari Kepolisian Resor Sleman untuk menjelaskan duduk perkara sebenarnya.

Dengan besarnya perhatian warganet dan banyaknya spekulasi yang beredar, klarifikasi dari pihak berwenang diharapkan bisa meredam kegaduhan serta memastikan tidak ada informasi menyesatkan yang menyebar lebih luas.

***